Konsep sistem ICARE
yang diperkenalkan oleh Decentralized
Basic Education (DBE) yang dikembangkan oleh United States Agency International
Developmen (USAID) tahun 2006,
mengemukakan suatu sistem pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan hasil
belajar peserta (siswa) dengan tahapan-tahapan pembelajaran sebagai berikut:
(1) Introduce (Perkenalkan), pada tahap ini guru sebagai
fasilitator memperkenalkan topik (tujuan pembelajaran) kepada siswa, kemudian
guru sebagai fasilitator mencoba untuk menghubungkan topik pembelajaran dengan
sesuatu yang menarik perhatian siswa, yaitu hal-hal yang berhubungan dengan
kehidupan dan pengalaman orang sehari-hari. (3) Apply (Terapkan), tahap ini sangat penting untuk siswa, karena siswa
belajar menggunakan apa yang baru mereka pelajari. Sehingga siswa terlibat
langsung dalam kehidupan nyata dengan mempraktikkan keterampilan-keterampilan
yang baru. (4) Reflect (Refleksikan) ,
merupakan aktivitas melalui diskusi-diskusi kelompok dan catatan-catatan
individu dalam jurnal (buku) pribadi siswa. (5) Extend (Perluaskan), tahapan yang terakhir ini secara eksplisit
guru memperluas apa yang telah dialami dan dipelajari siswa, sehingga siswa
akan mempraktikkan pengalaman belajarnya untuk bersosial dalam kehidupan mereka
sehari-hari. Dengan cara ini siswa akan mengungkapkan ide-ide atau pengalaman
belajarnya. John Holt (1967) dalam Siberman ML (2006;26) menyatakan bahwa
“Proses belajar akan meningkat jika siswa diminta untuk melakukan hal-hal
sebagai berikut: mengemukakan kembali informasi dengan kata-kata mereka
sendiri, memberi contohnya, melihat kaitannya antara informasi itu dengan fakta
atau gagasan lain, menggunakan dengan beragam cara, memprediksikan sejumlah
konsekuensinya dan menyebutkan lawan atau balikannya”.
Blog ini berisi tulisan yang berhubungan dengan dunia pendidikan seperti makalah, artikel, RPP, soal ulangan, puisi, cerita pendek (Cerpen) dan lain-lain. Materi dapat digunakan dari mulai pendidikan anak usia dini (PAUD) sampai perguruan tinggi (seperti jurusan akuntansi, teknik, komputer, manajemen, kedokteran, filsafat, teologi,geografi, ekonomi, teknologi industri pertanian)
Tuesday, May 7, 2019
Kompetensi Komunikatif yang berterima
Dalam
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) model kompetensi berbahasa yang digunakan adalah
model berdasarkan pertimbangan-pertimbangan pedagogi bahasa. Salah satu model
yang dipilih puskur adalah yang dikemukakan oleh Celce-Murcia dan Thurrell (1995) yang kompatibel dengan pandangan
teoritis bahwa bahasa adalah komunikasi, bukan sekedar seperangkat aturan. Model
kompetensi berbahasa yang dirumuskan adalah model yang menyiapkan siswa berkomunikasi
dengan bahasa untuk berpartisipasi dalam masyarakat pengguna bahasa yang
disebut Communicative Competence,
digambarkan seperti pada gambar 1.
Model Kompetensi Komunikatif
dari Celce-Murcia et al. (dalam
Puskur 2004;6) yang berupa Discourse
Competence (DC) atau Kompetensi Wacana (KW). Merupakan kompetensi utama, artinya,
jika seseorang berkomunikasi baik secara lisan maupun tertulis orang tersebut
terlibat dalam suatu wacana. Wacana yang dimaksudkan adalah sebuah peristiwa
komunikasi yang dipengaruhi oleh topik yang dikomunikasikan, hubungan
interpersonal pihak yang terlibat dalam komunikasi dan jalur komunikasi yang
digunakan dalam satu konteks budaya. Makna apapun yang ia peroleh dan ia
ciptakan dalam komunikasi selalu terkait dengan konteks budaya dan konteks
situasi yang melingkupinya. Berpartisipasi dalam percakapan, membaca dan
menulis secara otomatis mengaktifkan kompetensi wacana yang berarti menggunakan
seperangkat strategi atau prosedur untuk merealisasi nilai-nilai yang terdapat
dalam unsur-unsur bahasa, tata bahasa, isyarat-isyarat pragmatiknya dalam
menafsirkan dan mengungkapkan makna (Mc. Carthy
dan Carter 2001:88 dalam Puskur 2004;6). Kompetensi wacana hanya dapat
diperoleh jika siswa memperoleh kompetensi pendukungnya yaitu: (1) Linguistic Competence (Kompetensi
Linguistik) meliputi kemampuan seperti menggunakan tata bahasa, kosa kata,
ucapan, intonasi, dan tanda baca. (2) Actional
Competence yang terdiri dari: (a). Kompetensi Tindak Tutur untuk bahasa
lisan seperti membuka pembicaraan, menginterupsi, membuat simpulan, berpamitan
dan sebagainya. (b). Kompetensi Retorika
untuk bahasa tulis seperti langkah-langkah retorika teks Procedure, Narrative, Recount, Report, dan Descriptive. (3) Sociocultural
Competence (Kompetensi Sosiocultural) mengacu pada kemampuan menggunakan
bahasa secara berterima dipandang dari konteks budaya bahasa Inggris, misalnya
mengatakan thank you bila diberi
sesuatu, sorry dan please. Tidak pantas bertanya umur, how do you do untuk bahasa formal, tanya
jawab tentang nama tidak perlu menggunakan I’m…
atau my name is ……. dan hal-halyang tidak lazim dikatakan tetapi di
Indonesi tidak digunakan (memberi nomor telepon milik orang lain tanpa ijin). (5)
Strategic Competence (Kompetensi
strategi) adalah kompetensi yang dipergunakan untuk mengatasi kesulitan ketika
pembicaraan berlangsung (communication
breakdown) misalnya meminta pengulangan, mengatakan dengan cara lain dan
sebagainya.
Karena itu perumusan kompetensi dan
indikator-indikator bahasa Inggris perlu didasarkan kepada komponen-komponen
tersebut di atas untuk menjamin bahwa kegiatan pendidikan yang dilakukan
mengarah kepada tercapainya satu kompetensi utama, yakni kompetensi wacana.
Selain
kelima komponen tersebut, didalam Kurikulum Berbasis Kompetensi aspek sikap
juga dirumuskan sebagai hasil belajar yang dapat diamati berdasarkan apa yang
dilakukan siswa selama menjalani proses pembelajaran seperti berinisiatif untuk
berlatih dengan teman, melaksanakan tugas tepat waktu, senantiasa membawa
kamus, dan sebagainya.
Tingkat Literasi Bahasa Inggris siswa SMP
Menurut Pusat Kurikulum (2006:2), tingkat
literasi mencakup empat aspek yaitu performative, functional, informational,
dan epistemic. Lebih rinci keempat aspek tersebut dijelaskan sebagai
berikut: Pertama, pada tingkat performative, orang mampu membaca,
menulis, mendengarkan, dan berbicara dengan simbol-simbol yang digunakan.
Kedua, pada tingkat fungtional,
orang mampu menggunakan bahasa untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari
seperti membaca surat kabar, manual atau petunjuk. Ketiga, pada tingkat informational,
orang mampu mengakses pengetahuan dengan kemampuan berbahasa, sedangkan
keempat, pada tingkat epistemic orang mampu mengungkapkan pengetahuan ke
dalam bahasa sasaran Wells 1987 dalam Puskur (2006:4). Pembelajaran bahasa
Inggris di SMP ditargetkan agar peserta didik dapat mencapai tingkat functional yakni berkomunikasi secara lisan dan
tulis untuk menyelesaikan masalah sehari-hari (lifeskills). Puskur (2006:5).
Puskur (2006:5)
juga menjelaskan ruang lingkup mata pelajaran Bahasa Inggris di SMP/MTs
meliputi: Pertama, kemampuan berwacana, yakni kemampuan memahami dan/atau
menghasilkan teks lisan dan/atau tulis yang direalisasikan dalam empat
keterampilan berbahasa, yakni mendengarkan,
berbicara, membaca dan menulis secara terpadu untuk mencapai tingkat
literasi functional, kedua, kemampuan memahami dan menciptakan berbagai
teks fungsional pendek dan monolog serta esei berbentuk procedure, descriptive, recount, narrative, dan report, ketiga, kompetensi
pendukung, yakni kompetensi linguistik, yaitu menggunakan tata bahasa dan kosa
kata, tata bunyi, tata tulis, kompetensi sosiokultural, yaitu menggunakan
ungkapan dan tindak bahasa secara berterima dalam berbagai konteks komunikasi,
kompetensi strategi, sebagai upaya untuk mengatasi masalah yang timbul dalam
proses komunikasi dengan berbagai cara agar komunikasi tetap berlangsung, dan kompetensi
pembentuk wacana , yaitu menggunakan piranti pembentuk wacana.
BIAYA BERSAMA
A.
Definifisi Biaya Bersama
Biaya bersama diartikan
sebagai biaya overhead bersama (joint overhed cost) yang
dialokasikan ke berbagai departemen, baik dalam perusahaan yang kegiatan
produksinya berdasarkan pesanan maupun yang kegiatan produksinya dilakukan
secara massa. Biaya produk bersama (joint personal cost) adalah biaya
yang dikeluarkan sejak saat mula-mula bahan baku diolah sampai dengan saat
berbagai macam produk dapat dipisahkan identitasnya. Biaya produk bersama
terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik.
Pengertian pertama biaya
bersama tersebut diatas disebut biaya bergabung (common cost), sedangkan
pengertian kedua disebut biaya bersama (joint cost). Biaya bergabung
adala biaya-biaya untuk memproduksi dua atau lebih produk yang terpisah (tidak
diolah bersama) dengan fasilitas sama pada saat yang bersamaan. Biaya bergabung
dan biaya bersama mempunyai satu perbedaan pokok yaitu bahwa biaya bergabung
dapat diikuti jejak alirannya ke berbagai produk yang terpisah tersebut atas
dasar sebab akibat, atau dengan cara menelusuri jejak penggunaan fasilitas.
B.
Karakteristik
Produk Bersama, Produk Sampingan, dan Produk Sekutu
Produk bersama dan produk sekutu memiliki karakteristik sebagai berikut.
a.
Produk bersama dan produk sekutu merupakan tujuan utama
kegiatan produksi.
b.
Harga jual produk bersama atau produk sekutu relatif
tinggi bila dibandingkan dengan produk sampingan yang dihasilkan pada saat yang
sama.
c.
Dalam mengolah produk bersama tertentu, produsen tidak
dapat menghindarkan diri untuk menghasilkan semua jenis produk bersama, jika ia
ingin memproduksi hanya salah satu diantara produk bersama tersebut. Dalam
perusahaan daging kalengan misalnya, setiap kali penyembelihan sapi, akan
diperoleh daging, kulit, dan lemak. Jika produsen hanya ingin mengolah daging
saja, tidak bisa tidak ia harus memanfaatkan kulitnya (dibuat makanan atau
dijual dalam bentuk kulit).
Produk sampingan dapat
digolongkan sesuai dengan dapat tidaknya produk tersebut dijual pada saat
terpisah dari produk utama (main product).
a.
Produk sampingan yang dijual setelah terpisah dari produk
utama, tanpa memerlukan pengolahan lebih lanjut.
b.
Produk sampingan
yang memerlukan proses pengolahan lebih lanjut setelah terpisah dari produk
utama.
BIAYA TENAGA KERJA
Definisi tenaga kerja
Tenaga kerja merupakan usaha fisik atau mental yang dikeluarkan
karyawan untuk mengolah produk. Biaya tanaga kerja adalah harga yang dibebankan
untuk penggunaan tenaga kerja manusia tersebut.
A.
Penggolongan
kegiatan dan biaya tenaga kerja
Penggolongan menurut fungsi pokok dalam organisasi perusahaan
Organisasi dalam perusahaan manufaktur dibagi kedalam 3 fungsi pokok produksi,pemasaran,dan administrasi.
Contoh biaya tenaga kerja yang termasuk dalam tiap golongan tersebut.
Penggolongan menurut fungsi pokok dalam organisasi perusahaan
Organisasi dalam perusahaan manufaktur dibagi kedalam 3 fungsi pokok produksi,pemasaran,dan administrasi.
Contoh biaya tenaga kerja yang termasuk dalam tiap golongan tersebut.
a.
Biaya tenaga
kerja produksi : gaji karyawan,biaya kesejahteraan karyawan
pabrik,upah lembur karyawan pabrik,upah mandor pabrik,gaji manajer pabrik.
b.
Biaya tenaga kerja pemasaran
: upah karyawan pemasaran,biaya kesejahteraan karyawan pemasaran,biaya komisi
pramuniaga,gaji manajer pemasaran.
a.
Biaya tenaga
kerja administrasi dan umum : gaji karyawan bagian akuntansi,
bagian personalia , bagian secretariat, biaya kesejahteraan karyawan bagian
akuntansi, biaya kesejahteraan karyawan bagian personalia, biaya kesejahteraan
karyawan bagian secretariat.
B.
Penggolongan
menurut kegiatan departemen - departemen dalam perusahaan
Biaya tenaga kerja digolongkan sesuai dengan bagian - bagian yang dibentuk dalam perusahaan tersebut. Tenaga kerja yang bekerja didepartemen - departemen non produksi diglolongkan pula menurut departemen tempat kerja mereka. Penggolongan semacam ini dilakukan untuk lebih memudahkan pengendalian terhadap biaya tenaga kerja yang terjadi dalam tiap departemen yang dibentuk dalam perusahaan. Misalnya : departemen produksi suatu perusahaan kertas terdiri dari 3 departemen yaitu bagian pulp, bagian kertas dan bagian penyempurnaan. Bagian nonproduksi : tenaga kerja bagian akuntansi, biaya tenaga kerja bagian personalia, dll.
Biaya tenaga kerja digolongkan sesuai dengan bagian - bagian yang dibentuk dalam perusahaan tersebut. Tenaga kerja yang bekerja didepartemen - departemen non produksi diglolongkan pula menurut departemen tempat kerja mereka. Penggolongan semacam ini dilakukan untuk lebih memudahkan pengendalian terhadap biaya tenaga kerja yang terjadi dalam tiap departemen yang dibentuk dalam perusahaan. Misalnya : departemen produksi suatu perusahaan kertas terdiri dari 3 departemen yaitu bagian pulp, bagian kertas dan bagian penyempurnaan. Bagian nonproduksi : tenaga kerja bagian akuntansi, biaya tenaga kerja bagian personalia, dll.
C.
Penggolongan menurut jenis pekerjaan
Dalam suatu departemen, tenaga kerja dapat digolongkan menurut jenis sifat pekerjaannya . Biaya tenaga kerja semacam ini digunakan sebagai dasar penetapan deferensiasi upah standar kerja. Dengan demikian biaya tenaga kerja digolongkan menjadi : upah mandor, upah penyelia, upah operator.
Dalam suatu departemen, tenaga kerja dapat digolongkan menurut jenis sifat pekerjaannya . Biaya tenaga kerja semacam ini digunakan sebagai dasar penetapan deferensiasi upah standar kerja. Dengan demikian biaya tenaga kerja digolongkan menjadi : upah mandor, upah penyelia, upah operator.
D.
Penggolongan menurut hubungan dengan produk
Dalam hubungannya dengan produk, tenaga kerja dibagi menjadi tenaga kerja langsung dan tenaga kerja tidak langsung.
Dalam hubungannya dengan produk, tenaga kerja dibagi menjadi tenaga kerja langsung dan tenaga kerja tidak langsung.
Akuntansi Biaya Tenaga Kerja
Biaya
tenaga kerja dibagi ke dalam 3 golongan besar, yaitu :
1. Gaji dan upah regular yaitu jumlah gaji dan upah bruto dikurangi dengan potongan -potongan seperti pajak penghasilan dan biaya asuransi.
2. Premi lembur
3. Biaya -biaya yang berhubungan dengan tenaga kerja.
1. Gaji dan upah regular yaitu jumlah gaji dan upah bruto dikurangi dengan potongan -potongan seperti pajak penghasilan dan biaya asuransi.
2. Premi lembur
3. Biaya -biaya yang berhubungan dengan tenaga kerja.
Gaji dan upah
Cara penghitungan upah karyawan dalam perusahaan salah satunya adalah dengan mengalikan tariff upah dengan jam kerja karyawan. Dengan demikian untuk menentukan upah seorang karyawan perlu dikumpulkan data jumlah jam kerjanya selama periode tertentu. Dalam perusahaan yang menggunakan harga pokok pesanan, dokumen pokok untuk mengumpulkan waktu kerja karyawan adalah kartu hadir ( clock card) dan kartu jam kerja (job time ticket).
Kartu hadir adalah suatu catatan yang digunakan untuk mencatat jam kehadiran karyawan yaitu jangka waktu antara jam hadir dan jam meninggalkan perusahaan. Sedangkan kartu jam kerja untuk mencatat pemakaian waktu hadir karyawan pabrik dalam mengerjakan berbagai pekerjaan atau produk. Kartu jam kerja biasanya hanya digunakan untuk mencatat pemakaian hadir tenaga kerja langsung di pabrik
Kartu jam kerja untuk setiap karyawan kemudian disesuaikan dengan waktu yang tercantum dalam kartu jam hadir dan dikirim ke bagian akuntansi biaya untuk keperluan distribusi gaji dan upah tenaga kerja langsung.
Insentif
nsentif dapat didasarkan atas waktu kerja, hasil yang diproduksi atau kombinasi diantara keduanya.
Ada beberapa cara pemberian insentif :
a. Insentif satuan dengan jam minimum ( Straight Piecework with a Guaranteed hourly Minimum Plan )
Karyawan dibayar atas dasar tarif per jam untuk menghasilkan jumlah satuan keluaran (output) standar. Untuk hasil produksi yang melebihi jumlah standar tersebut karyawan menerima jumlah upah tambahan sebesar jumlah kelebihan satuan keluaran di atas standar kali tariff upah per satuan. Tariff upah per satuan dihitung dengan cara membagi upah standar dengan satuan standar jam.
b. Taylor Differential Piece Rate Plan
Cara pemberian insentif ini adalah semacam straight piece rate plan yang menggunakan tariff tiap potong yang lain untuk jumlah keluaran rendah per jam dan tariff tiap potong yang lain untuk jumlah keluaran tinggi per jam.
c. Premi lembur
Cara penghitungan upah karyawan dalam perusahaan salah satunya adalah dengan mengalikan tariff upah dengan jam kerja karyawan. Dengan demikian untuk menentukan upah seorang karyawan perlu dikumpulkan data jumlah jam kerjanya selama periode tertentu. Dalam perusahaan yang menggunakan harga pokok pesanan, dokumen pokok untuk mengumpulkan waktu kerja karyawan adalah kartu hadir ( clock card) dan kartu jam kerja (job time ticket).
Kartu hadir adalah suatu catatan yang digunakan untuk mencatat jam kehadiran karyawan yaitu jangka waktu antara jam hadir dan jam meninggalkan perusahaan. Sedangkan kartu jam kerja untuk mencatat pemakaian waktu hadir karyawan pabrik dalam mengerjakan berbagai pekerjaan atau produk. Kartu jam kerja biasanya hanya digunakan untuk mencatat pemakaian hadir tenaga kerja langsung di pabrik
Kartu jam kerja untuk setiap karyawan kemudian disesuaikan dengan waktu yang tercantum dalam kartu jam hadir dan dikirim ke bagian akuntansi biaya untuk keperluan distribusi gaji dan upah tenaga kerja langsung.
Insentif
nsentif dapat didasarkan atas waktu kerja, hasil yang diproduksi atau kombinasi diantara keduanya.
Ada beberapa cara pemberian insentif :
a. Insentif satuan dengan jam minimum ( Straight Piecework with a Guaranteed hourly Minimum Plan )
Karyawan dibayar atas dasar tarif per jam untuk menghasilkan jumlah satuan keluaran (output) standar. Untuk hasil produksi yang melebihi jumlah standar tersebut karyawan menerima jumlah upah tambahan sebesar jumlah kelebihan satuan keluaran di atas standar kali tariff upah per satuan. Tariff upah per satuan dihitung dengan cara membagi upah standar dengan satuan standar jam.
b. Taylor Differential Piece Rate Plan
Cara pemberian insentif ini adalah semacam straight piece rate plan yang menggunakan tariff tiap potong yang lain untuk jumlah keluaran rendah per jam dan tariff tiap potong yang lain untuk jumlah keluaran tinggi per jam.
c. Premi lembur
Dalam
perusahaan, jika karyawan bekerja lebih dari 40 jam satu minggu, maka mereka
berhak menerima uang lembur dan premi lembur.premi lembur dihitung sebesar 50 %
dari tariff upah.
Perlakuan terhadap premi lembur tergantung atas alasan-alasan terjadinya lembur tersebut. Premi lembur dapat ditambahkan pada upah tenaga kerja langsung dan dibebankan pada pekerjaan atau departemen tempat terjadinya lembur tersebut. Perlakuan ini dapat dibenarkan bila pabrik telah bekerja pada kapasitas penuh dan pelanggan / pemesan mau menerima beban tambahan karena lembur tersebut.
Premi lembur dapat diperlakukan sebagai unsur biaya overhead pabrik atau dikeluarkan sama sekali dari harga pokok produk dan dianggap sebagai biaya periode ( period expenses ). Perilaku ini hanya dapat dibenarkan jika lembur tersebut terjadi karena ketidakefisienan atau pemborosan waktu
Perlakuan terhadap premi lembur tergantung atas alasan-alasan terjadinya lembur tersebut. Premi lembur dapat ditambahkan pada upah tenaga kerja langsung dan dibebankan pada pekerjaan atau departemen tempat terjadinya lembur tersebut. Perlakuan ini dapat dibenarkan bila pabrik telah bekerja pada kapasitas penuh dan pelanggan / pemesan mau menerima beban tambahan karena lembur tersebut.
Premi lembur dapat diperlakukan sebagai unsur biaya overhead pabrik atau dikeluarkan sama sekali dari harga pokok produk dan dianggap sebagai biaya periode ( period expenses ). Perilaku ini hanya dapat dibenarkan jika lembur tersebut terjadi karena ketidakefisienan atau pemborosan waktu
BIAYA BAHAN BAKU
A.
Unsur Biaya Yang Membentuk
Harga Pokok Bahan Baku Yang Dibeli
Bahan baku merupakan bahan yang membentuk bagian
menyeluruh produk jadi. Bahan baku yang diolah dalam perusahaan manufaktur
dapat diperoleh dari pembelian local, impor, atau dari pengolahan sendiri. Di
dalam memperoleh bahan baku, perusahaan tidak hanya mengeluarkan biaya sejumlah
harga beli bahan baku saja, tetapi juga mengeluarkan biaya – biaya pembelian,
pergudangan, dan biaya – biaya perolehan lain.
B.
Sistem Pembelian Lokal Bahan
Baku
Sitem pembelian local bahan baku melibatkan Bagian – bagian
Produksi, Gudang, Pembelian, Penerimaan Barang dan Akuntansi. Dokumen sumber
dan dokumen pendukung yang dibuat dalam transaksi pembelian local bahan baku
adalah : surat permintaan pembelian, surat order pembelian, laporan penerimaan
barang dan faktur dari penjual. Sistem pembelian local bahan baku terdiri dari
:
1.
Prosedur pembelian bahan baku
Jika persediaan bahan baku yang ada
digudang sudah mencapai jumlah tingkat minimum pemesanan kembali (reorder
point), bagian gudang kemudian membuat surat permintaan pembelian (purchase
requisition) untuk dikirimkan ke bagian pembelian.
2.
Prosedur order pembelian
Bagian pembelian melaksanakan
pembelian atas dasar surat permintaan pembelian dari bagian gudang. Untuk
pemilihan pemasok, bagian pembelian mengirimkan surat permintaan penawaran
harga (purchase price quotation) kepada para pemasok, yang berisi permintaan
informasi harga dan syarat – syarat pembelian dari masing – masing pemasok
tersebut.
3.
Prosedur penerimaan bahan baku
Pemasok mengirimkan bahan baku kepada
perusahaan sesuai dengan surat order pembelian yang diterimanya. Bagian
penerimaan yang bertugas menerima barang, mencocokkan kualitas, kuantitas,
jenis serta spesifikasi bahan baku yang diterima dari pemasok dengan tembusan
surat order pembelian.
4.
Prosedur pencatatan bahan baku
di bagian gudang
Bagian penerimaan menyerahkan bahan
baku yang diterima dari pemasok kepada bagian gudang. Bagian gudang menyimpan
bahan baku tersebut dan mencatat jumlah bahan baku yang diterima dalam kartu
gudang (stock card) pada kolom “masuk”. Kartu gudang ini digunakan oleh Bagian
gudang untuk mencatat mutasi tiap – tiap jenis barang gudang. Kartu gudang
hanya berisi informasi kuantitas tiap – tiap jenis barang yang disimpan di
gudang dan tidak berisi informasi mengenai harganya.
5.
Prosedur pencatatan utang yang
timbul dari pembelian bahan baku
Bagian pembelian menerima faktur pembelian
dari pemasok. Bagian pembelian memberikan tanda tangan di atas faktur
pembelian, sebagai tanda persetujuan bahwa faktur dapat dibayar karena pemasok
telah memenuhi syarat – syarat pembelian yang di tentukan oleh perusahaan.
C.
Metode Pencatatan Biaya Bahan
Baku
Ada dua macam metode pencatatan biaya bahan baku yang
dipakai dalam produksi : metode mutasi persediaan (perpetual inventory method)
dan metode persediaan fisik (physical inventory method). Dalam metode mutasi
persediaan, setiap mutasi bahan baku dicatat dalam kartu persediaan. Dalam
metode persediaan fisik, hanya tambahan persediaan bahan baku dari pembeliaan
saja yang dicatat, sedangkan mutasi berkurangnya bahan baku karena pemakaian
tidak catat dalam kartu persediaan.
Metodepersediaan fisik adalah cocok digunakan dalam
penentuan biaya bahan baku dalam perusahaan yang harga pokok produksinya
dikumpulkan dengan metode harga pokok
proses. Metode mutasi persediaan adalah cocok digunakan dalam perusahaan yang
harga pokok produksinya dikumpulkan dengan metode harga pokok pesanan.
1.
Metode identifikasi khusus
(specific identification method). Dalam metode ini, setiap jenis bahan baku
yang ada di gudang harus diberi tanda pada harga pokok persatuan berapa bahan
baku tersebut dibeli. Dalam metode ini, tiap – tiap jenis bahan baku yang ada
di gudang jelas identitas harga pokoknya, sehingga setiap pemakaian bahan baku
dapat diketahui harga pokok persatuannya secara tepat. Metode ini merupakan
metode yang paling teliti dalam penentuan harga pokok bahan baku yang dipakai
dalam produksi, namun sering kali tidak praktis. Metode ini sangat efektif
dipakai apabila bahan baku yang dibeli bukan merupakan barang standar dan
dibeli untuk memenuhi pesanan tertentu.
2.
Metode masuk pertama, keluar
pertama (First – in, First – out Method)
Metode masuk pertama, keluar pertama
(metode MPKP) menentukan biaya bahan baku dengan anggapan bahwa harga pokok
prsatuan bahan baku yang pertama masuk dalam gudang, digunakan untuk menentukan
harga bahan baku yang pertama kali dipakai.
3.
Metode masuk terakhir, keluar
pertama (last – in, first – out method)
Metode masuk terakhir, keluar pertama
(metode MTKP) menentukan harga pokok bahan baku yang dipakai dalam produksi
dengan anggapan bahwa harga pokok per satuan bahan baku yang terakhir masuk
dalam persediaan gudang, dipakai untuk menentukan harga poko bahan baku yang
pertama kali dipakai dalam produksi.
4.
Metode rata – rata bergerak
(Moving Average Method)
Dalam metode ini, persediaan bahan
baku yang ada di gudang dihitung harga pokok rata – ratanya, dengan cara
membagi total harga pokok dengan jumlah satuannya. Bahan baku yang dipakai
dalam proses produksi dihitung harga pokoknya dengan mengalikan jumlah satuan
bahan baku yang dipakai dengan harga pokok rata – rata per satuan bahan baku
yang ada di gudang.
5.
Metode biaya standar
Dalam metode ini, bahan baku yang
dibeli dicatat dalam kartu persediaan sebesar harga standard (standard price)
yaitu harga taksiran yang mencerminkan harga yang diharapkan akan terjadi di
masa yang akan datang. Harga standard merupakan harga yang merupakan harga yang
diperkirakan untuk tahun anggaran tertentu.
6.
Metode rata – rata harga pokok
bahan baku pada akhir bulan
Dalam metode ini, pada tiap akhir
bulan dilakukan penghitungan harga pokok rata – rata per satuan tiap jenis
persediaan bahan baku yang ada di gudang. Harga pokok rata – rata per satuan
ini kemudian di gunakan untuk menghitung harga pokok bahan baku yang dipakai
dalam produksi dalam bulan berikutnya.
D.
Masalah – masalah khusus yang
berhubungan dengan bahan baku
Dalam bagian ini diuraikan akuntansi biaya bahan baku, jika dalam
proses produksi terjadi sisa bahan (scrap materials), produk cacat (defective
goods), dan produk rusak (spoiled goods).
1.
Sisa bahan (scrap materials)
Bahan yang mengalami kerusakan di
dalam proses pengerjaannya disebut sisa bahan. Perlakuan terhadap sisa bahan
tergantung dari harga jual sisa bahan itu sendiri. Jika harga jual sisa bahan
rendah, biasanya tidak dilakukan pencatatan jumlah dan harganya sampai saat
penjualannya. Tetapi jika harga jual sisa bahan tinggi, perlu dicatat jumlah
dan harga jual sisa bahan tersebut dalam kartu persediaan pada saat sisa bahan
diserahkan oleh bagian produksi ke bagian gudang.
Jika di dalam proses produksi
terdapat sisa bahan, masalah yang timbul adalah bagaimana memperlakukan hasil
penjualan sisa bahan tersebut. hasil penjualan sisa bahan dapat diperlukan
sebagai :
a.
Pengurangan biaya bahan baku
yang dipakai dalam pesanan yang menghasilkan sisa bahan tersebut.
b.
Pengurangan terhadap biaya
overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi.
c.
Penghasilan di luar usaha
(other income)
2.
Produk Cacat (Defective Goods)
Produk cacat adalah produk yang tidak
memenuhi standard mutu yang telah ditentukan, tetapi dengan mengeluarkan biaya
pengerjaan kembali untuk memperbaikinya, produk tersebut secara ekonomis dapat
disempurnakan lagi menjadi produk jadi yang baik.
Masalah yang timbul dalam produk
cacat adalah bagaimana memperlakukan biaya tambah untuk pengerjaan kembali
(rework costs) produk cacat tersebut. jika produk cacat bukan merupakan hal yang
biasa terjadi dalam proses produksi, tetapi karena karakteristik pengerjaan
pesanan tertentu, maka biaya pengerjaan kembali produk cacat dapat di bebankan
sebagai tambahan biaya produksi pesanan yang bersangkutan.
3.
Produk Rusak (Spoiled Goods)
Produk rusak adalah produk yang tidak
memenuhi standard mutu yang telah ditetapkan, yang secara ekonomis tidak dapat
di perbaiki menjadi produk yang baik. Produk rusak merupakan produk yang telah
menyerap biaya bahan, biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik.
Perlakuan terhadap produk rusak
adalah tergantung dari sifat dan sebab terjadinya :
a.
Jika produk rusak terjadi
karena sulitnya pengerjaan pesanan tertentu atau faktor luar biasa yang lain,
maka harga pokok produk rusak dibebankan sebagai tambahan harga pokok produk
yang baik dalam pesanan yang bersangkutan. Jika produk rusak tersebut masih
laku dijual, maka hasil penjualannya diperlakukan sebagai pengurangan biaya
produksi pesanan yang menghasilkan produk rusak tersebut.
b.
Jika produk rusak merupakan hal
yang normal terjadi dalam proses pengolahan produk, maka kerugian yang timbul
sebagai akibat terjadinya produk rusak dibebankan kepada produksi secara
keseluruhan, dengan cara memperhitungkan kerugian tersebut di dalam tarif biaya
overhead pabrik.
DEPARTEMENTALISASI BIAYA OVERHEAD PABRIK
A.
Pengertian Departementalisasi
Biaya Overhead Pabrik
Departementalisasi biaya overhead pabrik adalah pembagian pabrik ke
dalam bagian- bagian yang disebut departemen atau pusat biaya (cost center)
yang dibebani dengan biaya overhead pabrik. Dalam departementalisasi biaya
overhead pabrik, tarif biaya overhead dihitung untuk setiap departemen produksi
dengan dasar pembebanan yang mungkin berbeda di antara departemen- departemen
produksi yang ada. Departementalisasi overhead pabrik memerlukan pembagian
perusahaaan ke dalam departemen- departemen untuk memudahkan pengumpulan biaya
overhead pabrik yang terjadi.
Departementalisasi biaya overhead pabrik bermanfaat untuk
pengendalian biaya dan ketelitian penentuan harga pokok produk. Pengendalian
biaya overhead pabrik dapat lebih mudah dilakukan dengan cara menghubungkan
biaya dengan pusat terjadinya, sehingga dengan demikian akan memperjelas tanggungjawab
setiap biaya yang terjadi dalam departemen tertentu.
B.
Langkah – langkah Penetuan
Tarif Biaya Overhead Pabrik Per Departemen
Langkah –
langkah penentuan tarif biaya overhead pabrik per departemen adalah sebagai
berikut :
1.
Penyusunan Anggaran Biaya
Overhead Pabrik per Departemen
Dalam perhitungan tarif biaya
overhead pabrik per departemen produksi, di samping harus diperhitungkan biaya
overhead pabrik departemen produksi, harus diperhitungkan pula biaya yang
terjadi di departemen pembantu, dengan cara mengalokasikan biaya overhead
departemen pembantu ke departemen produksi yang menikmati manfaatnya. Langkah
pertama dalam perhitungan tarif biaya overhead pabrik per departemen produksi
dengan menyusun anggaran biaya overhead pabrik departemen produksi dan
departemen pembantu. Penyusunan anggaran biaya overhead pabrik per departemen
di bagi menjadi empat tahap utama berikut ini :
a.
Penaksiran Biaya Overhead
Langsung Departemen atas Dasar Kapasitas yang Direncanakan untuk Tahun Anggaran
Dalam menyusun anggaran, biaya overhead pabrik dibagi
menjadi dua golongan :
1)
Biaya overhead pabrik langsung
departemen adalah jenis biaya overhead pabrik yang terjadi atau dapat langsung
dibebankan kepada departemen tertentu.
2)
Biaya overhead pabrik tidak
langsung departemen adalah jenis biaya overhead pabrik yang menfaatnya
dinikmati oleh lebih dari satu departemen.
Dalam penyusunan anggaran biaya overhead pabrik per departemen,
langkah pertama yang dilaksanakan adalah dengan menaksir berapa biaya overhead
langsung departemen pada tingkat kapasitas yang direncanakan.
b.
Penaksiran Biaya Overhead Tidak
Langsung Departemen
Biaya tidak langsung departemen ini
kemudian didistribusikan kepada departemen- departemen yang menikmati
manfaatnya atas dasar distribusi tertentu berikut ini :
|
Biaya tidak langsung
departemen
|
Dasar distribusi
|
|
Biaya depresiasi
gedung
Biaya reparasi dan
pemeliharaan gedung
Gaji pengawas
departemen
Biaya angkut bahan
baku
Pajak bumi dan
bangunan (PBB)
|
Meter persegi luas
lantai
Meter persegi luas lantai
Jumlah karyawan
Biaya bahan baku
Perbandingan harga
pokok aktiva tetap dalam tiap departemen atau perbandingan meter persegi luas
lantai
|
c.
Distribusi Biaya Overhead Tidak
Langsung Departemen ke Departemen- Departemen yang Menikmati Manfaatnya
Dalam rangka penetuan tarif, biaya – biaya overhead
pabrik tidak langsung departemen harus di distribusikan kepada departemen-
departemen yang menikmati manfaatnya atas salah satu dasar distribusi tersebut
diatas.
d.
Menjumlah Biaya Overhead Pabrik
per Departemen
2.
Alokasi Biaya Overhead Pabrik
Departemen Pembantu Ke Departemen Produksi
Alokasi biaya overhead departemen pembantu ke departemen
produksi dapat dilakukan dengan salah satu dari dua cara berikut ini :
a.
Metode alokasi langsung
Dalam metode alokasi langsung, biaya
overhead departemen pembantu dialokasikan ke tiap- tiap departemen produksi
yang menikmatinya. Metode alokasi langsung digunakan apabila jasa yang
dihasilkan oleh departemen pembantu hanya dinikmati oleh departemen produksi
saja. Tidak ada departemen pembantu yang memakai jasa departemen pembantu yang
lain.
b.
Metode alokasi bertahap
Metode ini digunakan apabila jasa
yang dihasilkan departemen pembantu tidak hanya dipakai oleh departemen
produksi saja, tetapi digunakan pula oleh departemen pembantu yang lain.
alokasi biaya overhead dari departemen pembantu ke departemen produksi
dilakukan secara bertahap, dengan pertama kali mengalokasikan biaya overhead antar
departemen pembantu, baru kemudian mengalokasikan biaya overhead departemen
pembantu ke departemen produksi. Metode alokasi bertahap dibagi menjadi dua
kelompok metode :
1)
Metode alokasi bertahap yang
memperhitungkan transfer jasa timbal balik antar departemen – departemen
pembantu. Yang termasuk dalam kelompok metode ini adalah :
(1)
Metode alokasi kontinu
(continuous allocation method)
(2)
Metode aljabar (algebrals
method)
2)
Metode alokasi bertahap yang
tidak memperhitungkan transfer jasa timbal balik antardepartemen pembantu.
Metode alokasi yang termasuk dalam kelompok ini adalah “metode urutan alokasi
yang diatur” (specified order of closing).
3.
Perhitungan tarif pembebanan biaya
overhead pabrik perdepartemen
C.
Metode Alokasi Bertahap Yang
Memperhitungkan Jasa Timbal Balik Antardepartemen Pembantu
Di dalam menyusun anggaran biaya overhead pabrik per
departemen, biaya dibagi menjadi dua golongan, biaya langsung departemen dan
biaya tidak langsung departemen. Biaya tidak langsung harus dibagikan kepada
departemen – departemen yang menikmati manfaatnya, baik dalam departemen
produksi maupun departemen pembantu. Istilah yang dipakai untuk menggambarkan
pembagian biaya overhead tidak langsung departemen kepada departemen –
departemen yang menikmati manfatnya, baik departemen produksi maupun departemen
pembantu adalah distribusi biaya overhead.
Langkah selanjutnya dalam penentuan tarif biaya
overhead pabrik adalah membagikan biaya overhead departemen – departemen
pembantu kepada departemen – departemen produksi (dalam metode alokasi
langsung) atau kepada departemen – departemen pembantu lain dan departemen
produksi (dalam metode alokasi bertahap). Istilah yang digunaka untuk pmenggambarkan
pembagian biaya overhead departemen pembantu ke departemen produksi, atau dari
departemen pembantu ke departemen pembantu yang lain dan departemen produksi
adalah alokasi biaya overhead.
Atas dasar tarif ini biaya overhead pabrik dibagikan
kepada produk di departemen produksi. Istilah yang digunakan untuk
menggambarkan pembagian biaya overhead pabrik di departemen produksi kepada
produk adalah pembebanan biaya overhead. Tiga macam tariff : Tarif distribusi
adalah tarif yang digunakan untuk membagikan biaya overhead tidak langsung
departemen kepada departemen – departemen yang menikmati manfaatnya, baik
departemen pembantu maupun produksi.
Tarif alokasi adalah tarif yang digunakan untuk membagikan biaya overhead
departemen pembantu kepada departemen produksi, baik secara langsung maupun
bertahap. Tarif pembebanan adalah tariff yang digunakan untuk membagikan biaya
overhead pabrik kepada produk.
D.
Metode Alokasi Bertahap Yang
Tidak Memperhitungkan Transfer Jasa Timbal Balik Antardepartemen Pembantu
Metode alokasi beertahap yang banyak
digunakan adalah metode urutan alokasi yang diatur (specified order of
closing).
Karakteristik metode urutan alokasi yang
diatur adalah sebagai berikut :
1.
Biaya overhead departemen
pembantu dialokasikan secara bertahap
2.
Alokasi biaya overhead
departemen pembantu diatur urutannya sedemikian rupa sehingga arus alokasi
biaya menuju ke satu arah
3.
Pedoman umun di dalam mengatur
urutan alokasi biaya overhead departemen pembantu adalah sebagai berikut :
a.
Biaya overhead departemen
pembantu yang jasanya paling banyak dipakai oleh departemen – departemen lain,
dialokasikan pada urutan yang pertama.
b.
Urutan alokasi biaya dapat juga
didasarkan pada urutan besarnya biaya overhead dalam masing – masing departemen
pembantu.
c.
Departemen pembantu yang paling
banyak menerima jasa dari departemen pembantu lain, diletakkan paling akhir
dalam proses alokasi biaya overhead. Mengenai pemilihan departemen pembantu
yang terakhir dialokasikan biayanya, seringkali pertimbangannya dilihat dari
sudut pengendalian biaya.
4.
Selama melakukan alokasi biaya
overhead harus diperhatikan pedoman umum berikut ini :
a.
Tidak diadakan alokasi biaya
overhead ke dalam departemen yang biaya overhead nya telah habis dialokasikan
ke departemen lain. Dengan kata lain, tidak dimungkinkan timbulnya arus balik
dalam proses alokasi biaya overhead.
b.
Departemen – departemen
pembantu yang saling memberikan jasa, bila jumlahnya tidak material dan saling
mengkompensasi, tidak diadakan alokasi biaya overhead ke dalamnya.
E.
Akuntansi Biaya Overhead
Akuntansi biaya
overhead terdiri dari pencatatan :
1.
Pembebanan biaya overhead
pabrik kepada produk berdasar tariff yang di tentukan dimuka
Apabila produk diolah melalui lebih
dari satu departemen produksi, untuk menampung biaya produksi, di dalam buku
besar dibentuk rekening Barang Dalam Proses untuk tiap departemen produksi.
Biaya overhead yang dibebankan kepada produk ditampung dalam rekening Biaya
Overhead Pabrik yang Dibebankan. Rekening biaya overhead pabrik yang dibebankan
perlu di bentuk untuk tiap departemen produksi.
2.
Pengumpulan Biaya Overhead
Pabrik yang Sesungguhnya
Untuk mengumpulkan biaya overhead
sesungguhnya terjadi, dalam buku besar dibentuk rekening Biaya Overhead Pabrik
Sesungguhnya. Rekening ini dirinci lagi sesuai dengan pembagian departemen
pembantu dan departemen produksi. Pencatatan biaya overhead pabrik yang
sesungguhnya mula – mula dilakukan dengan mendebit rekening Biaya Overhead
Pabrik Sesungguhnya. Rincian jenis biaya overhead pabrik dalam tiap – tiap departemen
produksi dan departemen pembantu diselenggarakan dalam buku pembantu.
3.
Penutupan Rekening Biaya
Overhead Pabrik yang Dibebankan ke Rekening Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya
Untuk menghitung pembebanan lebih
atau kurang biaya overhead pabrik, biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada
produk berdasarkan tarif yang di muka dipertemukan dengan biaya overhead pabrik
yang sesungguhnya terjadi.
4.
Penentuan Biaya Overhead Pabrik
yang Kurang atau Lebih Dibebankan
Untuk menghitung pembebanan lebih atau kurang
biaya overhead pabrik, pada akhir periode akuntansi dihitung saldo rekening
Biaya Overhead Pabrik sesungguhnya perdepartemen.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Deskripsi Tinta Printer
Deskripsi Umum Tinta Printer Tinta printer adalah cairan berwarna (atau hitam) yang digunakan dalam printer untuk membuat gambar atau teks ...
-
Berilah tanda silang ( x ) pada jawaban yang paling benar. 1.Di desamu ada gunung berapi , setiap saat bisa meletus,kita harus memiliki...
-
Deskripsi Umum Tinta Printer Tinta printer adalah cairan berwarna (atau hitam) yang digunakan dalam printer untuk membuat gambar atau teks ...
-
PUTRI KANDITA Sakali waktu, di wilayah Pakwan (ayeuna Kota Bogor), Jawa Kulon, aya hiji raja anu namina Sri Baduga Maharaja atanapi ...
Blog Archive
-
▼
2025
(15)
-
▼
November
(15)
- Deskripsi Tinta Printer
- Cerita tentang guru
- Cerpen tentang Pahlawan
- Soal Ekonomi kelas 10
- PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL TERHADAP PERKEMBA...
- PENGGUNAAN MEDIA TV SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN KEM...
- Soal TKA Biologi 2025
- Soal Geografi Materi Dinamika Penduduk
- Soal PAT Geografi Kelas XI
- Soal PAS Geografi Kelas 10
- SOAL PAS Geografi Kelas X semester 1
- Soal TKA SMA Pkn
- Sertifikasi Guru Harus Linier
- Puisi Untuk Guru
- Puisi Tentang Pahlawan
-
▼
November
(15)