Showing posts with label Sosiologi. Show all posts
Showing posts with label Sosiologi. Show all posts

Friday, February 21, 2020

PENDIDIKAN ISLAM DI TENGAH MASYARAKAT MULTIKULTURAL


 A.   PENDAHULUAN
Luasnya negara Indonesia ialah suatu kelebihan tersendiri. Beraneka ragamnya suku, agama, ras dan golongan (SARA) mendorong kita belajar untuk lebih menghargai orang lain. Penghargaan inilah yang akan mendorong persatuan di antara elemen  bangsa Indonesia. Keanekaragaman tersebut tentunya harus bisa optimalkan secara positif demi berlangsungnya kehidupan yang harmonis.
Apalagi Indonesia adalah negara yang mayoritas penduduknya muslim, maka rasa toleransi haruslah terwujud sebagai salah satu bentuk implementasi ajaran Islam itu sendiri. Mengingat beberapa waktu yang lalu di Indonesia-lihat peristiwa Ambon, Papua dan beberapa pulau di Indonesia- terjadi konflik antar agama yang menelan tidak sedikit korban jiwa dan menyertakan Islam di dalamnya.
Pengertian akan peran dan posisi Islam yang sebenarnya haruslah diselenggarakan dan dipahamkan kepada setiap manusia, khususnya masyarakat Indonesia. Jalan yang paling tepat ialah melalui pendidikan. Pendidikan haruslah ditampilkan dengan nuansa multikultural sehingga tercipta rasa menghargai antar berbagai suku dan agama di Indonesia. Oleh karena itu, perlu ada suatu pembahasan terkait pendidikan multikultural itu sendiri dan bagaimana mengimplementasikannya di Indonesia.
  B.   PENDIDIKAN ISLAM
Menurut Muhaimin, Pendidikan Islam adalah sistem pendidikan yang diselenggarakan atau didirikan dengan hasrat dan niat untuk mengejawantahkan ajaran Islam dan nilai-nilai Islam dalam kegiatan pendidikannya. Pendidikan Islam tidak hanya memberikan wawasan yang luas dalam pengetahuan, akan tetapi juga menuntut adanya realisasi dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, hakikat pendidikan Islam tercermin dalam:
1.              Pendidikan yang integralistik, mengandung komponen-komponen kehidupan yang meliputi: Tuhan, manusia dan alam pada umumnya sebagai suatu yang integral bagi terwujudnya kehidupan yang baik, serta pendidikan yang menganggap manusia sebagai sebuah pribadi jasmani-rohani, intelektual, perasaan, individu dan sosial. Pendidikan Integralistik di harapkan bisa menghasilkan manusia yang memiliki integritas tinggi. Yang bisa bersyukur dan menyatu dengan kehendak Tuhannya. Yang bisa menyatu dengan dirinya sendiri (sehingga tidak memiliki kepribadian yang terbelah) menyatu dengan masyarakatnya (sehingga bisa menghilangkan disintegrasi). Dan bisa menyatu dengan alam (sehingga tidak membuat kerusakan).
2.              Pendidikan yang integralistik, memandang manusia sebagai manusia, yakni makhluk ciptaan Tuhan dengan fitrah-fitrah tertentu. Sebagai makhluk hidup, ia harus melangsungkan, mempertahankan, dan mengembangkan hidup. Sebagai makhluk batas antara hewan dan malaikat- ia menghargai hak-hak asasi manusia, seperti hak untuk berlaku dan diperlakukan dengan adil, hak menyuarakan kebenaran, hak untuk berbuat kasih sayang dan sebagainya.
Pendidikan yang integralistik diharapkan dapat mengembalikan hati manusia di tempat yang semula, dengan mengembalikan manusia kepada fitrahnya sebagai sebaik-baik makhluk, khoiru ummah. Manusia “yang manusiawi” yang dihasilkan oleh pendidikan yag integralistikdiharapkan bisa berpikir, berasa, dan berkemauan, dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan yang bisa mengganti sifat individualistik, egoistik, egosentrik, dengan sifat kasih sayang kepada sesama manusia, sifat ingin memberi dan menerima, saling menolong, sifat ingin mencari kesamaan dan lain-lain.
1.              Pendidikan yang pragmatik, adalah pendidikan yang memandang manusia sebagai makhluk hidup yang selalu membutuhkan sesuatu untuk melangsungkan, mempertahankan dan mengembangkan hidupnya, baik bersifat jasmani, seperti pangan, sandang papan, seks, kendaraan dan sebagainya; juga yang bersifat rohani seperti berpikir, merasa, aktualisasi diri, kasih sayang, dan keadilan maupun kebutuhan sukmawi, seperti dorongan untuk berhubungan dengan yang Adi Kodrati. Pendidikan yang pragmatik diharapkan dapat mencetak manusia pragmatik yang sadar akan kebutuhan-kebutuhan hidupnya peka terhadap masalah-masalah kemanusiaan dan dapat membedakan manusia dari kondisi dan situasi yang tidak manusiawi.
2.              Pendidikan yang berakar budaya kuat, yaitu pendidikan yang tidak meninggalkan akar-akar sejarah, baik sejarah kemanusiaan pada umumnya maupun sejarah kebudayaan suatu bangsa atau kelompok etnis tertentu. Pendidikan yang berakar budaya kuat di harapkan dapat membentuk manusia yang mempunyai kepribadian, harga diri, percaya pada diri sendiri, dan membangun peradaban berdasarkan budayanya sendiri, yang merupakan warisan monumental dari nenek moyangnya. Tetapi bukan yang anti kemoderannya, yang menolak begitu saja arus transformasi budaya dari luar.
Tujuan pendidikan Islam
Pada hakikatnya Pendidikan Islam bertujuan untuk merealisasikan ubudiyah kepada Allah di dalam kehidupan manusia, baik individu maupun masyarakat.
Menurut Al Jumbulati, pendidikan Islam mempunyai dua tujuan yaitu :
1.              Tujuan Keagamaan : bahwa setiap pribadi orang muslim beramal untuk akhirat atas petunjuk dan ilham keagamaan yang benar, yang tumbuh dan dikembangkan dari ajaran-ajaran Islam dan suci. Tujuan keagamaan mempertemukan diri pribadi terhadap Tuhannya melalui kitab-kitab suci yang menjelaskan tentang hak dan kewajibannya, sunat dan yang fardhu bagi seseorang mukallaf.
2.              Tujuan Keduniaan : Tujuan ini seperti yang dinyatakan dalam tujuan pendidikan modern yang saat ini diarahkan pada pekerjaan yang berguna (pragmatis), atau untuk mempersiapkan anak menghadapi kehidupan masa depan. Para ahli filsafatpragmatisme lebih mengarahkan pendidikan  pendidikan anak kepada gerakanamaliyah (ketrampilan) yang bermanfaat dalam pendidikan. Tujuan ini mengambil kebijakan baru yang lebih menonjolkan kecekatan bekerja yang cepat dalam setiap peristiwa kehidupan. Dan juga memakai strategi pendidikan seumur hidup. Sedangkan pendidikan Islam melihat tujuan ini dari aspek dan pandangan baru yaitu berdasarkanAl Qur’anul karim, yang sangat memusatkan perhatian pada pengalaman dimana seluruh kegiatan hidup umat manusia harus bertumpu kepada-Nya.
C.  MULTIKULTURAL
Pengertian Multikultural
Pengertian multikulturalisme diberikan oleh para ahli sangat beragam. Mengutip Choirul Mahfud multikulturalisme pada dasarnya adalah pandangan dunia yang kemudian dapat diterjemahkan dalam berbagai kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap realitas keagamaan yang pluralis dan multikultural yang ada dalam kehidupan masyarakat. Akar kata multikulturalisme adalah kebudayaan. Sedangkan secara etimologis, multikulturalisme dibentuk dari kata multi (banyak), kultur (budaya), isme (aliran/paham). Sedangkan secara hakiki, dalam kata itu terkandung pengakuan akan martabat manusia yang hidup dalam komunitasnya dengan kebudayaannya masing-masing yang unik.

      Tipe-tipe Masyarakat
Dalam masyarakat sering terjadi perbedaan antara masalah sakral dan sekuler. Di kalangan sejumlah masyarakat yang sakral itu dianggap sebagai aspek dalam tingkah laku dan masyarakat yang lain semakin banyak nilai-nilai manusiawi yang dianggap sebagai hal-hal yang bersifat sekuler dan dinilai bermanfaat dan diterima secara umum.
Jika kita tidak mempunyai paling tidak beberapa pengertian tentang perubahan yang umum, beberapa perbedaan tertentu yang bersifat umum dalam masyarakat . Oleh karena itu kita perlu tahu tentang tipe-tipe masyarakat. Menurut Nottingham tipe-tipe masyarakat meliputi:

 Masyarakat-masyarakat yang terbelakang  dan nilai-nilai    sakral
Tipe pertama ini adalah masyarakat yang kecil, terisolasi dan terbelakang. Tingkat perkembangan teknik mereka rendah dan pembagian kerja masih kecil. Keluarga adalah lembaga mereka yang paling penting dan spesial, laju perkembangannya juga masih lambat. Tipe masyarakat ini cukup kecil jumlah anggotanya, karena sebagian besar adat-istiadatnya dikenal, masyarakat ini berpendapat bahwa:
1)     Agama memasukkan pengaruhnya yang sakral ke dalam sistem nilai masyarakat  secara mutlak.
2)     Dalam keadaan lembaga lain, selain keluarga, relatif belum berkembang, agama jelas menjadi fokus utama bagi pengintegrasian dan persatuan  dari masyarakat secara keseluruhan.
Bagi individu, agama memberi bentuk pada keseluruhan proses sosialisasi. Sosialisasi ditandai oleh upacara-upacara keagamaan pada peristiwa kelahiran dan saat penting lainnya dalam kehidupan.

      Masyarakat-masyarakat pra-industri yang sedang berkembang
Masyarakat kedua ini tidak begitu terisolasi, berubah lebih cepat, lebih luas daerahnya dan lebih besar jumlah penduduknya, serta ditandai dengan tingkat perkembangan teknologi yang lebih tinggi daripada masyarakat-masyarakat tipe pertama. Ciri-ciri umumnya adalah pembagian kerja yang luas, kelas-kelas sosial yang beranekaragam serta adanya kemampuan tulis baca sampai tingkat tertentu, agama tentu saja memberikan arti dan ikatan kepada sistem nilai dalam tipe masyarakat ini, akan tetapi pada saat yang sama lingkungan yang sakral dan yang sekuler itu sedikit banyaknya masih dapat dibedakan. Meskipun demikian, banyak fase-fase kehidupan sosial, misalnya dalam aktivitas keluarga dan perekonomian, peristiwa-peristiwa musim secara teratur terjadi itu diisi dengan upacara-upacara tertentu.

       Masyarakat-masyarakat industri-sekuler
Tipe dalam masyarakat kelompok ketiga ini agak condong kepada masyarakat perkotaan modern di Amerika serikat, tinggiya sekulerismenya bisa dianggap salah satu contoh yang paling mirip dengan masyarakat ketiga ini. Masyarakat-masyarakat ini sangat dinamis, teknologi semakin berpengaruh terhadap semua aspek kehidupan, sebagian besar penyesuaian-penyesuaian terhadap alam fisik, tetapi yang paling penting adalah penyesuaian dalam hubungan-hubungan kemanusiaan mereka sendiri. Pengaruh ilmu pengetahuan dan teknologi terhadap masyarakat juga mempunyai konsekuensi-konsekuensi penting bagi agama. Pengaruh inilah yang merupakan salah satu sebab mengapa keanggotaan masyarakat tersebut semakin lama semakin terbiasa menggunakan metode-metode empiris berdasarkan penalaran dan efisiensi dalam menaggapi berbagai masalah kemanusiaan.

Masyarakat Indonesia yang multikultural
Dibutuhkan beberapa konsep untuk menciptakan tatanan masyarakat Indonesia yang multikultural agar kuat oleh kondisi lingkungan. Bagi masyarakat Indonesia, konsep multikultural bukan hanya sebuah wacana atau sesuatu yang dibayangkan, tetapi konsep ini adalah sebuah ideologi yang harus diperjuangkan karena dibutuhkan sebagai tegaknya demokrasi dan kesejahteraan masyarakat. Di Indonesia terdapat berbagai macam kebudayaan yang berasal hampir dari seluruh suku bangsa. Dengan demikian, keanekaragaman ini kita dapat mewujudkan masyarakat multikultural apabila warganya dapat hidup berdampingan, toleran dan saling menghargai

D.  URGENSI PENDIDIKAN ISLAM DALAM MULTIKULTURALISME
Indonesia adalah salah satu Negara kepulauan terbesar di dunia, yang mengakibatkan terjadinya beraneka suku, bahasa, ras, serta agama. Walaupun dalam hal agama, sebagaimana telah diketahui bahwa Indonesia merupakan negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam. Hal ini terbukti sejak kelahirannya, peran orang-orang muslim sangat dominan. Bahkan pada waktu pembuatan dasar negara yaitu Pancasila pada tanggal 22 Juni 1945, dikenal dengan Piagam Jakarta, sila pertama pada waktu itu berbunyi “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”diganti dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa” karena lebih menghargai agama lain dengan tidak menyimpangkan arti tauhid sendiri bagi umat Islam. Walau memang tidak dapat dipungkiri ada pihak yang tetap menolak keputusan tersebut.
Inilah permulaan tantangan Islam di tengah masyarakat multikultural, khususnya di Indonesia. Bagaimana Islam meletakkan dirinya di tengah perbedaan, atau dengan kata lain, dapatkah pemeluk agama Islam menghadirkan Islam sebagai agama yang inklusif terhadap perubahan sekaligus mampu bersaing dengan perubahan yang terjadi di luar dirinya. Satu-satunya cara yang terbaik ialah melalui pendidikan, khususnya pendidikan Islam. Oleh karena itu, penanaman tentang hakikat Islam dan bagaimana seharusnya Islam bertindak ada di dalamnya.
Pendidikan Islam yang bertujuan untuk merealisasikan ubudiyah kepada Allah di dalam kehidupan manusia, baik individu maupun masyarakat, dapat difungsikan sebagai nilai-nilai instrumental pembangunan yaitu dengan mengembangkan etika dan moralitas keagamaan untuk dimanfaatkan dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang merupakan pelaku dan pelangsung pembangunan. Mengingat terdapat dua peran penting agama, yaitu sebagai directive system dan defensive system, maksudnya agama digunakan sebagai sumber utama dalam proses perubahan sekaligus sebagai semacam kekuatanresistensial bagi masyarakat ketika berada dalam persoalan kehidupan yang kompleks. Sehingga agama tidak hanya bermanfaat bagi pemeluknya saja, tetapi harus berskala global. Oleh karena itu, pendidikan Islam haruslah dikemas dengan beberapa prinsip yaitu keterbukaan, toleransi, kebebasan dan  otentisitas. Dengan kata lain, nuansa multikultural haruslah dihadirkan di setiap alur pendidikan yang lebih dikenal dengan pendidikan multikultural. Yaitu menurut Muhaemin el Ma’hady, pendidikan multikultural sebagai pendidikan tentang keragaman budaya dalam merespon perubahan demografis dan kultural lingkungan masyarakat tertentu atau bahkan dunia secara keseluruhan.
Sedangkan menurut prof. H.A.R Tilaar, pendidikan multikultural berawal dari berkembangnya gagasan dan kesadaran tentang multikulturalisme. Kemunculannya terkait dengan perkembangan politik internasional menyangkut HAM, diskriminasi dan juga meningkatnya pluralitas.
Pedidikan menjadi sebuah alat untuk menempuh jalan keselamatan, bukan hanya untuk individu/kelompoknya tetapi melibatkan kepentingan orang lain.
Oleh karena itu perlu tujuan yang jelas dalam penyelenggaraannya. Menurut Paulus Mujiran hal yang perlu dibidik ialah, pertama, pendidikan multicultural menolak pandangan pandangan yang menyamakan pendidikan dengan persekolahan atau pendidikan multicultural dengan program-program sekolah formal. Kedua, pendidikan juga menolak pandangan yang menyamakan kebudayaan dengan kelompok etnik. Ketiga, pendidikan multicultural meningkatkan kompetinsi dalam beberapa kebudayaan. Keempat, kemungkinan pendidikan meningkatkan kesadaran mengenai kompetensi dalam beberapa kebudayaan, akan menjauhkan kita dari konsep dwibudaya (bicultural) atau dikotomi antara pribumi dan non pribumi.
Sebenarnya pendidikan multicultural bukanlah hal baru bagi bangsa Indonesia. Pesantren sebagai sekolah khas Indonesia ialah implementasi dari pendidikan multikultural. Berbagai suku dan budaya masuk dan di satukan dengan nuansa Islam tanpa mendikotomikan salah satu. Namun memang, dalam penerapannya, hal yang terpenting ialah rasa solidaritas yang tinggi. Bagaimana setiap orang di tuntut untuk menyiapkan diri untuk berjuang dan bergabung dalam perlawanan demi pengakuan perbedaan yang lain dan bukan demi dirinya sendiri

E.   PENUTUP
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam sangatlah diharapkan menjadi sebuah alat untuk menempuh jalan keselamatan bagi umat manusia. Oleh karena itu, dalam menghadapi multikulturalisme di Indonesia, penyelenggaraan pendidikan haruslah bernuansa multikultur. Pendidikan harus mampu membuka paradigma peserta didiknya sehingga berwawasan inklusif. Selain itu, supaya siswa tidak merasa tercerabut dari akar budayanya sehingga terhindar dari konflik-konflik yang sering terulang di Indonesia.




DAFTAR PUSTAKA


Al Jumbulati, Ali dan Abdul Futuh at Tuwaanisi. 2002. Perbandingan Pendidikan Islam. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Madjid, Nurcholis. 2003. Islam Agama Kemanusiaan : Membangun Tradisi dan Visi Baru Islam Indonesia. Jakarta: Paramadina.
Mahfud, Choirul. 2008. Pendidikan Multikultural. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Muhaimin, Haji. 2006. Nuansa Baru Pendidikan Islam : Mengurai Benang Kusut Dunia Pendidikan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Nottingham. 1985 : 49. Agama dan Masyarakat. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Syamsudin .2000. Etika Agama dalam Membangun Masyarakat Madani. Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu.
Http : // afrikanz.wordpress.com/2008/12/21/multiculturalism
Http : //www.darussolah.com/?pilih=news&aksi=lihat&id=151
Http : //www.gusdur.net/opini/detal/?id=71/hi:id/masa-depan-pendidikan

Tuesday, February 4, 2020

Pengertian Administrasi Pemerintahan



Pengertian administrasi pemerintahan menurut Taliziduhu Ndraha, yaitu:
“Proses penjagaan (keeping dan caring) dan penyampaian (forwarding dan delivering) produk pemerintahan tertentu kepada konsumer dan memberdayakan konsumer untuk menggunakan produk tersebut dengan cara dan alat yang sesuai dengan kondisi konsumer sesegara mungkin sedemikian rupa sehingga konsumer menerimanya utuh dan sadar, dan memperoleh manfaatnya sebesar-besarnya” (Ndraha, 2011:509)
Dari definisi di atas, dapat dikatakan bahwa administrasi pemerintahan merupakan suatu proses penjagaan dan penyampaian produk-produk tertentu yang disampaikan kepada konsumer dengan kondisi konsumer menerimanya secara utuh dan memperoleh manfaat sebesar-besarnya.
Dengan adanya Administrasi Pemerintahan, maka segala pelayanan yang dilaksanakan oleh pemerintah dapat berjalan dengan baik karena terdapat konsep pelayanan yang diorientasikan kedalam makna pelayanan yang dilakukan kepada manusia, tidak melalui pemberlakuan kebenaran sendiri terhadap semua orang, tetapi berdasarkan makna kasih universal. Terdapat dua fungsi teologikal yakni fungsi profetik yang mengartikan pada saat aktor membuat kebijakan dan fungsi apostolik yang mengartikan pada saat aktor menjalankan pelayanan kepada kelompok ataupun kepada individu. Administrasi dalam hubungan ini tentu saja tidak dalam arti sehari-hari pekerjaan kantor seperti surat-menyurat, simpan-menyimpan, atau catat-mencatat di belakang meja yang dilakukan oleh tenaga-tenaga yang terdapat di kantor tersebut.
Kemudian, terdapat sasaran pelayanan. Sasaran pelayanan diidentifikasi secara umum dan secara khusus. Dari sudut pemerintah, sasaran pelayanan pemerintahan adalah masyarakat dan individu manusia. Dari segi objektif, kelompok sasaran diidentifikasi menurut kondisi khusus masing-masing. Dilihat dari sudut ini, pelayanan dibeda-bedakan menurut kebutuhan dari masing-masing individu tersebut atau yang menurut pertimbangan pemerintahan seharusnya dibutuhkan oleh seseorang atau suatu masyarakat.
Selanjutnya terkait dengan cara pelayanan. Pelayanan dilakukan secara enthusiastic, menjalankan misi pemerintahan, dan mengondisikan suatu kebijakan yang akan terjadi di masa yang akan datang.
Membahas tentang administrasi pemerintahan yang berfungsi sebagai suatu perencanaan, pengorganisasian, pengadaan tenaga kerja, pemberian bimbingan, pengkoordinasian, pelaporan dan pengganggaran yang terdapat di lingkup pemerintahan. Oleh karena itu, terdapat pokok bahasan terkait dengan administrasi pemerintahan, diantaranya sebagai berikut:
1.      Analisis pemerintahan guna mengetahui mata rantainya yang lemah;
2.      Analisis hubungan antara kebijakan dengan administrasi;
3.      Reposisi unit kerja yang bernama dinas (agency) sebagai Unit Administrasi Pemerintahan;
4.      Reformasi pendidikan dan pelatihan kader-kader pemerintahan;
5.      Pengembagan topik-topik penelitian Ilmu Pemerintahan.


Pengertian Pemerintahan


Pemerintahan secara umum dapat didefinisikan sebagai keseluruhan struktur dan proses keputusan-keputusan yang mengikat diambil. Pemerintahan merupakan sekumpulan orang-orang yang mengelola kewenangan-kewenangan, melaksanakan kepemimpinan dan koordinasi pemerintahan serta pembangunan masyarakat.
“Pemerintahan menujukkan bahwa pemerintah mempunyai kewenangan yang dapat digunakan untuk memelihara kedamaian, keamanan, dan ketentraman negara baik kedalam maupun keluar. Untuk melaksanakan kewenangan itu, pemerintah harus mempunyai kekuatan tertentu, antara lain kekuatan di bidang militer, kekuatan legislatif, serta kekuatan finansial dalam rangka membiayai keberadaan negara bagi penyelenggaran peraturan. Semua kekuatan tersebut harus dilakukan dalam rangka penyelenggaraan kepentingan negara” (Strong C.F, 2003:247)

Dari definisi di atas, dapat dikatakan bahwa pemerintahan harus mempunyai kewenangan yang dapat digunakan serta berguna untuk memelihara kedamaian, keamanan, dan kententraman negara. Selain itu, pemerintahan harus mempunyai kekuatan di sisi lain seperti kekuatan di bidang militer, kekuatan legislatif, serta kekuatan finansial untuk melaksanakan penyelenggaraan kepentingan negara.
Suatu pengertian pemerintahan, dapat dibedakan dalam pengertian pemerintahan dalam arti luas dan pengertian pemerintahan dalam arti sempit yang dikemukakan oleh Ermaya (1998:6-7) yaitu pemerintahan dalam arti luas adalah segala kegiatan badan-badan publik yang meliputi kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif dalam usaha mencapai tujuan negara. Sedangkan pemerintahan dalam arti sempit adalah segala kegiatan badan-badan publik yang meliputi kekuasaan eksekutif.
Dari definisi yang dikemukakan oleh Ermaya, dapat dikatakan bahwa pemerintahan dalam arti luas dan pemerintahan dalam arti sempit memiliki perbedaan. Pemerintahan dalam arti luas adalah keseluruhan kegiatan badan-badan publik yang meliputi kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif dalam rangka mencapai tujuan negara. Sedangkan pemerintahan dalam arti sempit adalah keseluruhan kegiatan badan-badan publik yang hanya meliputi kekuasaan eksekutif saja.
Pemerintah dengan Pemerintahan memiliki arti yang sangat berbeda. Pemerintahan adalah sebuah sistem multiproses yang bertujan memenuhi dan melindungi kebutuhan dan tuntutan yang-diperintah akan jasa-publik dan layanan civil. Tuntutan yang-diperintah berdasarkan berbagai posisi yang dipegangnya, misalnya sebagai sovereign, sebagai pelanggan, konsumen, dan sebagainya. Pada dasarnya, proses-proses itu kumulatif: proses demand-supply, produksi-komsumsi, pemasaran-“penjualan”, distribusi-ekspedisi, “pembelian” (penerimaan)-penggunaan, dan evaluasi-feedback (feedforward).
Pemerintahan dalam konteks penyelenggaraan negara menunjukkan adanya badan pemerintahan (institutional), kewenangan pemerintah (authority), cara memerintah (technique to govern), wilayah pemerintahan (state, local, rural and urban) dan sistem pemerintahan (government system) dalam menjalankan fungsi pemerintahannya.
Pemerintahan mengandung makna mengatur, mengurus, dan memerintah dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan bagi kepentingan rakyat. Pemerintahan mengandung unsur yang secara filosofis berkaitan erat dengan badan pemerintahan yang sah secara konstitusional, kewenangan untuk melaksanakan pemerintahan, cara dan sistem pemerintahan, fungsi sesuai dengan kekuasaan pemerintahan, serta wilayah pemerintahan.

Pengertian Administrasi



Pada dasarnya Administrasi melingkupi seluruh kegiatan dari pengaturan hingga pengurusan sekelompok orang yang memiliki diferensiasi pekerjaan untuk mencapai tujuan bersama. Administrasi dapat berjalan dengan adanya keterlibatan banyak orang yang turut andil di dalamnya. Hal ini sesuai dengan pengertian administrasi yang dikemukakan oleh Gie (1983:12) yaitu administrasi dalam arti luas adalah segala sesuatu yang pada hakikatnya memiliki fungsi yang sama yaitu kerja sama yang dilakukan oleh lebih dari satu orang untuk mencapai tujuan bersama. Sedangkan administrasi dalam arti sempit merupakan tata usaha yang didalamnya memiliki unsur-unsur pengorganisasian, manajemen, tata hubungan, keuangan, perbekalan, tata usaha, dan perwakilan.
 “Administrasi merupakan suatu fenomena sosial, yaitu perwujudan tertentu di dalam masyarakat modern. Eksistensi administrasi ini berkaitan dengan organisasi. Jadi, barangsiapa hendak mengetahui adanya administrasi dalam masyarakat ia harus mencari terlebih dahulu suatu organisasi yang masih hidup, di situ terdapat administrasi”. (Atmosudirdjo, 1982:39-40)

Dari definisi di atas, dapat dikatakan bahwa administrasi adalah fenomena sosial yang terwujud di dalam masyarakat modern. Administrasi ini selalu berkaitan dengan organisasi. Jika ingin melihat secara lebih dalam terkait administrasi, terlebih dahulu harus mencari organisasi yang masih hidup karena disitulah terdapat administrasi.

Dalam berbagai macam aspek khususnya di bidang pemerintahan, administrasi mempunyai peranan dan juga tujuan agar segala sesuatu terstruktur, terencana, dan berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

Thursday, April 18, 2019

PERUBAHAN SOSIAL DAN KESINAMBUNGAN MASYARAKAT INDONESIA



Periode-periode pembangunan yang dikeluarkan di Indonesia lebih banyak mengarah pada perubahan eonomi yang berpengaruh terhadap kondisi sosial kemasyarakatan. Perubahan sosial yang terjadi akibat pembangunan ekonomi,terlihat daru bergesernya struktur masyarakat yang tengah bergerak kea rah industry yang bersifat modern. Namun, masa transisi ini ternyata juga menimbulkan berbagai masalah sosial yang tidak dikehendaki dan diperhitungkan sebelumnya. Diantaranya sebagai berikut.
1.    Terjadinya perubahan-perubahan nilai-nilai dan norma-norma yang terlihat dari perbedaan-perbedaan sikap dan perilaku generasi muda yang dibesarkan ditengah-tengah proses modernisasi dan gejala kehidupan perkotaan yang semakin meluas dengan generasi orang tua mereka sebelumnya. Hal ini menimblkan kesenjangan budaya yang berakibat timbulnya masalah didalam keluarga. Misalnya, bergesernya fungsi sosialisasi dalam keluarga digantikan oleh lingkungan pergaulan anak disekolah dan teman-teman sebaya, serta hubungan yang tidak harmonis antara orang tua dan anak.
2.    Terjadinya kesenjangan ekonomi yang tajam dalam masyarakat sebagai akibat pembangunan yang diorientasikan kea rah pertumbuhan. Adapun pemerataan hasil-hasil pembangunan menjadi prioritas selanjutanya. Hal ini mengakibatkan terbentuknya lapisan-lapisan masyarakat atas dasar kategori ekonomi. Terlihat dengan sebagian kecil kelompok masyarakat yang menguasai aktivitas perekonomian (lahirnya para konglomerat) serta sebgaian besar masyarakat yang masih hidup dalam kemiskinan di pedesaan. Keadaan sosial seperti ini jika dibiarkan terus akan melahirkan konflik sosial yang serius di masyarakat.
3.    Terjadinya pencemaran dan perusakan lingkungan yang mengakibatkan turunnya kualitas lingkungan hidup masyarakat. Bahkan lingkungan yang telah rusak atau tercemar itu turut mengancam kehidupan sosial masyarakat. Hal ini sebagian besar disebabkan aktivitas pembangunan yang tidak terkendali dan tidak memperhitungkan dampak lingkungan di kemudian hari. Bencana-bencana alam yang sering melanda masyarakat, misalnya banjir, kekeringan, dan polusi udara merupakan akibat langsung pencemaran dan peusakan lingkingan.
4.    Terjadinya kesenjangan sosial di kota-kota besar sebagai akibat meluasnya gejala urbanisasi yang tidak terkendali. Urbanisasi tidak terkendali ini disebabkan oleh daya Tarik kehidupan perkotaan yang tidak diimbangi dengan pembangunan ekonomi yang memadai di pedesaan sehingga masyarakat desa berlomba-lomba memburu pekerjaan dikota. Dan lain sebagainya.
Prubahan sosial yang diakibatkan oleh pembangunan ekonomi tersebut. Memiliki pengaruh dan dampak yang paling luas dimasyarakat karena perubahan sosial terjadi tidak hanya mengubah lingkingan sosial manusia, tetapi juga mengubah lingkungan fisik yang berdampak pada terjadinya perubahan-perubahan yang tidak dikehendaki dan direncanakan yang dapat mengancam kehidupan masyarakat selanjutnya.[1][1]

















Bentuk Perubahan Kesinambungan masyarakat - Perubahan yang dilakukan secara terencana dan terarah disebut juga dengan istilah pembangunan. Dengan kata lain, pembangunan dikategorikan sebagai perubahan yang direncanakan. Ini artinya, perubahan tersebut telah direncanakan terlebih dahulu oleh pihak-pihak yang hendak mengadakan perubahan.

Perubahan bagi masyarakat Indonesia sebenarnya sudah berlangsung sejak zaman dahulu, namun perubahan yang bersifat direncanakan bagi masyarakat sebagai bangsa dimulai sejak bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Mulai saat itu, bangsa Indonesia telah menyatakan kehidupan masyarakat yang merdeka, berdaulat, dan bebas dari pengaruh bangsa lain. 


Bangsa Indonesia berhak mengubah nasibnya sendiri sesuai dengan kepentingan hidup masyarakat. Untuk itu, ditetapkan UUD 1945 sebagai dasar negara dan Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa.

Untuk melanjutkan kesinambungan masyarakat Indonesia, terus dilakukan perubahan atau pembangunan. Pembangunan yang dilaksanakan dapat dibedakan menjadi enam periode. Keenam periode itu sebagai berikut.

- Periode Revolusi Fisik (1945-1949)
- Periode Konsolidasi (1950-1955)
- Periode Rencana Lima Tahun (1956-1960)
- Periode Pembangunan Nasional Semesta Berencana Delapan Tahun (1961-1969), yang berhenti dengan adanya G 30 S/PKI pada tahun 1965
- Periode Orde Baru (1966-1999)
- Periode Reformasi (1999-sekarang)

Masyarakat Indonesia dalam menanggapi perubahan yang terjadi dewasa ini, mempunyai kecenderungan sebagai berikut.
a. Masyarakat Indonesia Cenderung Bertahan Tak Berubah
Maksudnya masyarakat akan menolak nilai-nilai baru yang akan mengubah sendi-sendi pokok kehidupan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, tetap dipertahankan Pancasila serta UUD 1945.

b. Masyarakat Indonesia Cenderung Berubah
Maksudnya masyarakat Indonesia akan menerima nilai-nilai baru/hal-hal baru yang membawa manfaat menuju terjaminnya kesinambungan masyarakat Indonesia. Suatu perubahan sosial akan menjamin kesinambungan masyarakat Indonesia apabila sebagai berikut.

1) Adanya Perubahan Sistem Budaya
Maksudnya dari sistem budaya yang ada di Indonesia yang meliputi:
- sistem budaya etnik,
- sistem budaya agama besar,
- sistem budaya Indonesia, dan
- sistem budaya asing.



2) Perubahan Sosial yang Terjadi Mendukung Program Kependudukan
Contoh: Pertumbuhan penduduk dapat dikendalikan melalui program Keluarga Berencana.

3) Perubahan Sosial yang Terjadi Mendukung Program Lingkungan
Contoh: Setiap usaha dalam meningkatkan kemakmuran, melalui pengembangan sumber daya alam dan energi, harus mempertimbangkan kelestarian lingkungan.

4) Adanya Perubahan Sistem Ekonomi
Contoh: Melakukan penyesuaian kebijaksanaan pembangunan ekonomi terhadap pengaruh liberalisasi dan globalisasi.

Untuk menjamin kesinambungan masyarakat Indonesia perlu dikembangkan dengan cara mengadopsi dan mengadaptasi iptek negara-negara maju agar tercapai peningkatan sumber daya manusia Indonesia. Satu hal yang harus dimengerti bahwa perubahan yang diharapkan tidak akan terjadi dengan sendirinya, akan tetapi masyarakat Indonesia harus mampu mengubahnya.





Thursday, March 28, 2019

Narkoba Menyerang Generasi Bangsa



Narkoba merupakan bahan berbahaya yang jika disalah gunakan akan mengakibatkan ketergantungan pada pemakainya dan pada akhirnya akan membawa pada kematian jika dikonsumsi secara terus menerus. Latar belakang pengguna narkoba saat ini sangat banyak sekali, mulai untuk menghilangkan masalah, pergaulan, serta banyak hal lain yang melatar belakangi para pengguna narkoba.
Saat ini target para pengedar adalah kalangan remaja antara 15 – 25 tahun yang masih sangat mudah untuk ikut-ikutan karena kejiwaannya masih labil dan masih mudah terpengaruh teman-teman pergaulannya. Kita semua tahu bahwa anak-anak remaja pada usia tersebut adalah bunga bangsa yang baru merekah yang sangat dinanti-nantikan untuk meneruskan bangsa Indonesia kelak untuk menjadi negara yang lebih sejahtera lagi. Saat ini terdapat 4 juta orang di Indonesia yang menggunakan atau menyalah gunakan narkoba dan dari jumlah tersebut, sebanyak 22 % adalah remaja dalam rentang usia tersebut.
Pada umumnya pengguna narkoba yang berusia remaja banyak yang mengonsumsi ganja dan prikotropika seperti Sedatin (Pil BK), Rohypnol, dan Megadon. Semua barang haram tersebut sangat berbahaya jika dikonsumsi secara terus menerus karena akan mengakibatkan ketergantungan. Apa lagi jika pengkonsumsi narkoba adalah kalangan menengah ke bawah yang kondisi ekonominya sulit karena jika sudah tak mempunyai uang maka pengguna akan melakukan tindak kriminal demi mendapatkan uang untuk mendapatkan barang tersebut. Hal ini sungguh memprihatinkan sekali.
Berdasarkan survei BNN tahun lalu menyatakan bahwa, perkembangan pengguna dan pengedar gelap narkoba pada pelajar dan mahasiswa. Hasil penelitian pada 17 provinsi di Indonesia, ditemukan 2,6 persen siswa SLTP pernah menggunakan narkoba, dan 4,7 persen pelajar SMA tercatat pernah menggunakan barang haram itu. Sementara untuk perguruan tinggi terdapat 7,7 persen yang pernah menggunakan narkoba.
Namun mulai tahun lalu pemerintah bersama instansi-instansi terkait bertekad menekan angka penggunaan narkoba pada pelajar hingga ke angka 0 %. Namun upaya tersebut pasti membutuhkan kerja keras. Saat ini saja pemerintah telah menggandeng 59 kampus di Jakarta untuk melakukan pengawasan pada pengedar dan penyalahgunaan narkotika. Namun peran keluarga juga sangat dibutuhkan demi menangkal serangan narkoba pada anak-anak remaja. Pendidikan agama serta kedekatan anak dengan orang tua dirasa mampu untuk mengurangi risiko anak terkena teror narkoba ini.

Penelitian dan pengamatan ini bertujuan untuk memberikan data dan fakta yang terjadi secara global di Indonesia tentang ancaman narkoba pada generasi bangsa yang sangat di harapkan membawa bangsa ini pada tempat yang lebih layak dengan rakyat yang sejahtera. Maka dari itu diperlukan peran berbagai pihak agar menghindari sanak saudara dari bahaya narkoba dan jika sudah menjadi pecandu narkoba diharapkan pihak terdekat baik keluarga maupun kerabat dapat membawanya ke panti rehabilitasi narkoba agar tingkat ketergantungan dapat dikurangi. Dengan cara-cara tersebut dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan diyakini pengguna narkoba akan menurun drastis terutama pada kalangan remaja.

Monday, March 25, 2019

MANFAAT DAN FAKTOR PENYEBAB KERAGAMAN BUDAYA

MANFAAT KERAGAMAN BUDAYA
Keragaman budaya yang terdapat di Indonesia sesungguhnya memiliki manfaat tersendiri. Di antara manfaat dari keberagaman budaya adalah sebagai berikut ini.
1. Sebagai Promotor Nilai-Nilai Kemanusiaan
Manfaat dari keragaman budaya yang pertama adalah ia bisa dijadikan sebagai promotor untuk nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri. Di saat sebuah organisasi memiliki berbagai karyawan yang memiliki berbagai budaya, maka hal tersebut tentunya menunjukkan bahwa organisasi tersebut sangat menyadari dan mengakui serta merayakan keberagaman yang ada pada seseorang yang pada dasarnya memiliki latar belakang berbeda.
Hal ini tentu saja menjadikan anggota organisasi tersebut berpikiran bahwa kontribusi dan juga nilai mereka sedang direalisasikan di dalam sebuah managemen organisasi yang baik.
2. Meningkatkan Produktifitas dan juga Profitabilitas
Untuk manfaat dari keragaman budaya yang selanjutnya adalah membantu meningkatkan produktifitas dan juga profitabilitas. Terlepas dari berbagai nilai kemanusiaan yang ada, keragaman budaya ternyata juga bisa memberikan manfaat yang nyata kepada bidang bisnis di berbagai belahan dunia.
Persuasi secara aktif soal keberagaman yang ada di berbagai tempat kerja secara langsung tentunya dapat memberikan dampak di dalam meningkatkan produktivitas dan juga profitabilitas organisasi dan juga karyawan. Juga meningkatnya produktivitas dan profitalibitas di dalam organisasi.
3. Membantu Membuat Kolam Bakat
Selain beberapa yang telah disebutkan di atas, manfaat lain dari keragaman budaya di Indonesia adalah dalam membantu membuat suatu kolam bakat. Ketika organisasi telah melakukan investasi dalam keberagaman, maka hasilnya di dalam menciptakan suatu kolam bakat tentu saja juga lebih besar.
Ini menjadi sebuah situasi win-win entah itu untuk karyawan dan juga organisasi. Sebagaimana sebuah kolom bakat yang menyediakan organisasi dengan berbagai keunggulan kompetensi yang bisa membantu memajukan dan juga membantu meningkatkan lingkungan yang besar.
4. Bertukar Ide Ide Inovatif
Ketika di dalam sebuah organisasi, di dalamnya ada berbagai orang atau anggota dengan beragam latar belakang,  budaya, pengalaman, ide yang kreatif dan juga inovatif di dalamnya, maka itu bisa menopang setiap orang di dalam pikiran yang berbeda-beda.
Hal ini amatlah wajar karena orang-orang hidup dengan beragam pengalaman dan juga beragam prespektif di dalamnya sehingga diharapkan itu akan mampu menghasilkan suatu ide jenius dan juga solusi yang terbaik untuk berbagai masalah yang sedang dihadapi. Ini merupakan sebuah nilai yang besar untuk karyawan dan juga organisasi.
Pertukaran ide yang bisa berjalan secara dinamis akan terjadi di antara orang dengan perbedaan persepsi di dalamnya dan itu bisa membuahkan suatu ide atau hasil yang lebih kreatif. Situasi semacam ini juga pernah dibuat oleh beberapa orang yang memiliki pola pikir serta budaya yang sama.
5. Manfaat Keanekaragaman
Sudah sangat banyak studi yang sangat berhubungan dengan kegiatan organisasi yang bisa menyimpulkan suatu pemahaman bahwa mempromosikan keberagaman budaya ternyata dapat mengurangi adanya ketidak hadiran. 
Adanya perputaran dari karyawan yang notabene lebih rendah akan dapat mengurangi biaya yang notabene itu mempunyai hubungan dengan perekrutan karyawan baru dan juga mengurangi adanya tanggung jawab hukum di dalam menggugat diskriminasi.
Di dalam dunia saingan ini, keragaman budaya sendiri ternyata memiliki cukup banyak manfaat di dalamnya. Masyarakat Indonesia sendiri adalah masyarakat yang di dalamnya terdapat berbagai suku bangsa yang lebih dari 13 ribu pulau yang terdapat di berbagai belahan dunia Indonesia.
Dan masing-masing suku bangsa sendiri memiliki identitas budaya, sosial, politik, bahasa, adat dan juga tradisi yang ada di Indonesia sendiri.

FAKTOR PENYEBAB KERAGAMAN BUDAYA
Ada berbagai faktor yang menyebabkan munculnya keragaman budaya. Berikut ini adalah beberapa di antaranya:
1. Faktor dari Manusia
Ada beragam budaya yang ada di antaranya adalah disebabkan karena manusia. Secara umum, manusia adalah makhluk yang sangat suka terhadap berbagai jenis seni, misalnya seni musik, tari dan lain sebagainya. Di samping itu, masih ada juga bidang lain yang amat disukai oleh manusia. Karena kesukaan tersebut, maka kebudayaan di Negara ini menjadi amat banyak. Belum lagi, manusia sendiri memang bisa dibilang aktif dalam menciptakan suatu kebudayaan.
2. Faktor Lingkungan Alam
Selain disebabkan oleh manusia, faktor lain yang mempengaruhi keragaman budaya adalah faktor lingkungan alam. Misalnya saja terjadinya gunung meletus, gempa bumi, banjir, longsor dan sebagainya yang menyebabkan musim paceklik sehingga banyak masyarakat yang memilih untuk pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Sehingga ketika mereka memasuki tempat yang baru, sesudah beradaptasi, maka muncullah kebudayaan yang baru.
3. Faktor Perubahan Nilai dan Sikap
Masing-masing individu senantiasa berpegang teguh kepada yang namanya norma dan juga nilai yang ada di dalam hidup bermasyarakat. Nilai tersebut tentu saja sangat berpengaruh kepada perilaku manusia, baik secara individu atau kelompok.


Sehingga, ketika sebuah nilai tertentu berubah, maka kebudayaan manusia juga akan mengalami perubahan yang akhirnya menyebabkan keragaman budaya di tengah masyarakat.

Sunday, March 24, 2019

Pengertian, faktor dan cara menjaga Kesehatan Lingkungan


2.2.1  Pengertian Kesehatan lingkungan
      Pengertian Kesehatan Menurut Undang-undang No. 9 tahun 1960 Bab 1 Pasal 2 kesehatan adalah yang meliputi kesehatan badan, rohani (mental), dan sosial, dan   bukan hanya  keadaan yang bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan. Hal ini senada dengan pengertian  sehat  yang dikemukakan oleh WHO yaitu sehat adalah keadaan kesehatan fisik, mental dan sosial dan bukan hanya keadaan bebas dari penyakit dan cacat.
Pengertian Lingkungan adalah ruang lingkup  hidup manusia yang pada garis besarnya  dibedakan menjadi dua yaitu :
1.      Lingkungan biotik atau lingkungan hidup, misalnya manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan. Menurut undang-undang R.I No. 23 tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup pasal 1 ayat (1) “lingkungan hidup  adalah  kesatuan ruangan dengan semua  benda daya keadaan dan makhluk  hidup termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi langsung  perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup  lainnya”
2.      Lingkungan non biotik atau lingkungan tak hidup, biasa dikenal pula dengan sebutan lingkungan fisik yaitu air,   udara, tanah, gunung.
Menurut Notoatmojo pengertian kesehatan lingkungan pada hakikatnya  adalah suatu kondisi atau keadaan lingkungan yang optimum sehingga berpengaruh  positif terhadap  terwujudnya  status kesehatan yang optimum pula. Hal ini   tak senada dengan yang dikemukakan oleh Moeller yang menyatakan bahwa kesehatan lingkungan merupakan bagian dari kesehatan masyarakat yang memberi pengertian pada penilaian, pemahaman, dan pengendalian dampak manusia pada lingkungan dan dampak lingkungan pada manusia.
2.2.2   Faktor-faktor Lingkungan  yang Dapat Mempengaruhi Kesehatan
1.      Lingkungan Rumah adalah salah satu persyaratan pokok bagi kehidupan manusia. Rumah atau tempat tinggal manusia, dari zaman ke zaman mengalami perkembangan. Pada zaman purba manusia bertempat tinggal di gua-gua, kemudian berkembang, dengan mendirikan rumah tempat tinggal di hutan-hutan dan di bawah pohon. Sampai pada abad modern ini manusia sudah membangun rumah (tempat tinggalnya) bertingkat dan diperlengkapi dengan peralatan yang serba modern. Sejak zaman dahulu pula manusia telah mencoba mendesain rumahnya, dengan ide mereka masing-masing yang dengan sendirinya berdasarkan kebudayaan masyarakat setempat dan membangun rumah mereka dengan bahan yang ada setempat (local material) pula. Setelah manusia memasuki abad modern ini meskipun rumah mereka dibangun dengan  bukan bahan-bahan setempat,  tetapi kadang-kadang desainnya masih mewarisi  kebudayaan generasi sebelumnya.
2.      Lingkungan Udara (Atmosfir) karena Pencemaran udara dapat menimbulkan dampak terhadap kesehatan harta benda, ekosistem maupun iklim. Umumnya gangguan kesehatan sebagai akibat pencemaran udara terjadi pada saluran pernafasan dan organ penglihatan. Salah satu dampak kronis dari pencemaran udara adalah  bronchitis dan emphysema. Menurut Harssema (1998) dalam pencemaran udara diawali oleh adanya emisi. Emisi merupakan jumlah pollutant (pencemar) yang dikeluarkan ke udara dalam setuan waktu. Emisi  dapat disebabkan oleh proses alam maupun kegiatan manusia
3.      Lingkungan Air (Hidrosfir) adalah sangat penting bagi kehidupan manusia. Manusia akan lebih cepat meninggal karena kekurangan air daripada kekurangan makanan. Di dalam tubuh manusia itu sendiri sebagian besar terdiri dari air. Tubuh orang dewasa, sekitar 55-60 % berat badan terdiri dari air, untuk anak-anak sekitar 65 %, dan untuk bayi sekitar 80 %. Kebutuhan manusia akan air sangat kompleks antara lain untuk minum, masak, mandi, mencuci (bermacam-macam cucian) dan sebagainya Menurut perhitungan WHO di negara-negara maju tiap orang memerlukan air antara 60-120 liter per hari. Sedangkan di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia tiap orang memerlukan air antara 30-60 liter per hari. Di antara kegunaan-kegunaan air tersebut, yang sangat penting adalah kebutuhan untuk minum. Oleh karena itu, untuk keperluan minum (termasuk untuk masak) air harus mempunyai persyaratan, khusus agar air tersebut tidak menimbulkan penyakit bagi manusia.
4.      Tanah merupakan  bagian tertipis dari seluruh  lapisan bumi, tetapi pengaruhnya terhadap lingkungan sangat besar.  Hubungan tanah dengan makhluk hidup sangat erat, tanah menyediakan berbagai sumber daya yang berguna bagi kelangsungan  hidup manusia dan makhluk hidup  lainnya. Selain itu, tanah juga merupakan habitat alamiah bagi manusia dan makhluk hidup lainnya. Oleh karena itu sudah selayaknya manusia memelihara kualitas tanah agar hidup  sejahtera. Kegiatan hutan seperti kerusakan hutan, perladangan  berpindah-pindah dan  penggalian  lahan secara besar-besaran sangat mempengaruhi kondisi tanah. Disamping itu, tanah yang terkontaminasi dapat mengakibatkan terjadinya pencemaran air  tanah. Bila ini tidak dibatasi dapat mengakibatkan terjadinya  kerusakan tanah yang pada akhirnya akan menimbulkan bencana bagi manusia. Penurunan kualitas tanah terutama disebabkan karena kehadiran bahan-bahan pencemar di tanah. Selain itu, kualitas tanah juga dapat menurun  disebabkan oleh erosi. Pada dasarnya erosi dapat menyebabkan merosotnya produktivitas lahan, rusaknya lingkungan dan terganggunya keseimbangan ekosistem. Bila keadaan lebih parah lagi akan terbentuk lahan kritis. Beberapa ahli mengemukakan bahwa penurunan kualitas tanah telah memberikan dampak pada kesehatan, seperti dampak dari kekurangan unsur-unsur hara mikro yang terkandung dalam bahan makanan terhadap kesehatan manusia.
2.2.3  Cara Menjaga Kualitas Lingkungan
Agar  kualitas lingkungan tidak menurun atau tercemar, maka   perlu diadakan pengawasan. Seperti Pengelolaan Kualitas Udara, Pengolahan Kualitas Air, Pemulihan Tanah  Terkontaminasi, Sanitasi Makanan
2.2.4  Pembuangan Kotoran Manusia
Untuk mencegah sekurang-kurangnya mengurangi kontaminasi tinja terhadap lingkungan, maka pembuangan kotoran manusia harus dikelola dengan baik, maksudnya pembuangan kotoran harus di suatu tempat tertentu atau jamban yang sehat. Suatu jamban disebut sehat untuk daerah pedesaan.
2.2.5  Sampah dan Pengelolaannya
Sampah adalah suatu bahan atau benda padat yang sudah tidak dipakai lagi oleh manusia, atau benda padat yang sudah digunakan lagi dalam suatu kegiatan manusia dan dibuang. Para ahli kesehatan masyarakat Amerika membuat batasan, sampah adalah (waste) adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi, atau sesuatu yang dibuang, yang berasal dari kegiatan manusia, dan tidak terjadi dengan sendirinya.
Dari batasan ini jelas bahwa sampah adalah merupakan hasil suatu kegiatan manusia yang dibuang karena sudah tidak berguna. Sehingga bukan semua benda padat yang tidak digunakan dan dibuang disebut sampah, misalnya : benda-benda alam, benda-benda yang keluar dari bumi akibat dari gunung meletus, banjir, pohon di hutan yang tumbang akibat angin ribut, dan sebagainya.
2.2.6  Jenis-Jenis Sampah
Kalau kita berbicara sampah, sebenarnya meliputi 3 jenis sampah yakni : sampah padat, sampah cair, dan sampah dalam bentuk gas (fume, noke). Tetapi seperti telah dibuatkan batasan di atas, bahwa dalam konteks ini hanya akan dibahas sampah padat. Sampah cair yang berupa antara lain air limbah akan di bahas di bagian lain di buku ini. Sedangkan sampah dalam bentuk gas yang menimbulkan polusi udara seperti asap edaraan, asap pabrik, dan sebagainya tidak dibahas dalam buku ini.
2.2.7  Pengelolaan Sampah
Sampah erat kaitannya dengan kesehatan masyarakat, karena dari sampah-sampah tersebut akan hidup berbagai mikro organisme penyebab penyakit (bacteri pathogen), dan juga binatang serangga sebagai pemindah/penyebar penyakit (vector). Oleh sebab itu sampah harus dikelola dengan baik sampai sekecil mungkin tidak mengganggu atau mengancam kesehatan masyarakat. Pengelolaan sampah yang baik, bukan saja untuk kepentingan kesehatan saja, tetapi juga untuk keindahan lingkungan. Yang dimaksud dengan pengelolaan sampah di sini adalah meliputi pengumpulan, pengangkutan, sampai dengan pemusnahan atau pengolahan sampah sedemikian rupa sehingga sampah tidak menjadi gangguan kesehatan masyarakat dan lingkungan hidup

Deskripsi Tinta Printer

 Deskripsi Umum Tinta Printer Tinta printer adalah cairan berwarna (atau hitam) yang digunakan dalam printer untuk membuat gambar atau teks ...

Blog Archive