Sunday, August 1, 2021

MACAM-MACAM CARA ANALISIS MANAJEMEN

 Beragam cara, metode atau pendekatan analisis manajemen yang dilakukan sebagai penggunaan alat analisis manajemen dalam proses pengambilan keputusan manajemen. Ragam cara itu dapat di kelompokkan ke dalam beberapa kategori, yaitu:

 

1. Analisis  manajemen  secara  parsial  versus  analisis manajemen secara komprehensif

 

Analisis manajemen secara parsial adalah analisis dari aspek tertentu.

 

Misalnya dalam upaya meningkatkan produktivitas dilakukan:

 

a.  Analisis perilaku individu;

 

b.  Analisis perilaku individu dalam kelompok;

 

c.  Analisis sistem teknologi;

 

d.  Analisis pengambilan keputusan;

 

e.  Analisis statistika dan matematis;

 

f Analisis situasional.

Analisis manajemen secara komprehensif, adalah analisis terhadap seluruh aspek yang mempengaruhi keberhasilan organisasi meraih masa depan yang lebih baik sesuai dengan visi dan misi maupun tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan organisasi.Untuk dapat mencapai tujuan dan sasaran hendaknya berdasar fakta kemampuan riil organisasi yakni strengths (kekuatan), weaknesses (kelemahan) serta opportunities (kesempatan atau peluang) dan threats (ancaman). Informasi kemampuan organisasi itu diperoleh melalui  analisis keadaan lingkungan internal dan eksternal. Informasi itu sangat bermanfaat atau berguna sebagai dasar penyusunan strategi yang tepat guna mencapai tujuan dan sasaran.

 

 

2 . Analisis manajemen secara konvensional versus analisis manajemen  ilmiah

 

John Robert Breishline mengelompokkan pengambilan keputusan berdasarkan pendekatan analisis manajemen konvensional dan analisis manajemen ilmiah. Pendekatan analisis manajemen konvensional atau tradisional adalah berdasarkan kebiasaan atau pengalaman masa lalu atau intuisi yang dilandasi naluri, ilham. Hasil survei membuktikan hampir sepertiga manajemen dan pegawai mengambil keputusan secara intuitif atau suara hati, ilham, tradisi (Robin Stephen P & P. Culter 1999:181). Pengambilan keputusan secara intuitif berdasarkan pada tradisi atau pengalaman masa lalu dan pertimbangan yang disampaikan orang-orang kepercayaan atau ilham, hati nurani.

 

Pendekatan yang lebih populer adalah analisis manajemen ilmiah yang mengandalkan fakta dan data yang dianalisis secara statistika, matematis, dan prinsip-prinsip ekonomis.


3 . Pendekatan kuantitatif dan kualitatif 

a.  Analisis kuantitatif

Analisis dengan pendekatan kuantitatif  adalah suatu cara analisis berdasarkan fakta dan data yang aktual. Hasil analisis kuantitatif lebih akurat. Analisis kuantitatif memerlukan sejumlah alat analisis statistik dan matematis. Tetapi banyak pegawai yang kurang akrab dengan analisis terapan statistika, matematis.

 

b.  Analisis kualitatif

Pendekatan kualitatif dilakukan kalau fakta-fakta yang terindentifikasi tidak didukung dengan data-data yang akurat dan lengkap. Untuk  mendapatkan hasil analisis yang lebih akurat analisis kualitatif dapat dikuantifikasi berdasarkan skala nilai. Rensis Likert merupakan penganjur pendekatan skala nilai (rating scale). Skala nilai yang lazim digunakan antara 1-5.

 

Dalam menilai faktor-faktor yang teridentifikasi sebaiknya berdasarkan penilaian para ahli (prinsip metode Delpi) atau yang memiliki pengalaman dalam bidang yang dianalisis atau penilaian suatu tim kerja. Tiap faktor yang teridentifikasi berpengaruh kuat terhadap tujuan dan sasaran organisasi diminta dinilai para ahli atau orang yang berpengalaman di bidang itu.

 

Aspek yang dinilai dari tiap faktor sebaiknya multi kriteria, misalnya dukungan atau kontribusi, dan keterkaitannya terhadap pencapaian tujuan dan sasaran organisasi. Agar penilaian lebih obyektif diusahakan mencari para ahli, minimal orang yang berpengalaman di bidang obyek yang dianalisis dan meminta pendapatnya secara terpisah (sendiri-sendiri). Penilaian dirata-ratakan. Penilaian  yang terlalu jauh (lebih dari 3) sebaiknya diulang kembali.

Diminta sekali lagi nilainya dan dasar pertimbangan yang diguna- kan menilainya. Kemudian dirata-ratakan. Penilaian dapat diformat dalam suatu tabel. Analisis kualitatif sebenarnya sudah berdasarkan aspek pertimbangan logika, pengetahuan ahli serta pengalaman sekelompok orang.

 

Akhir dari suatu analisis adalah penyajian beberapa alternatif dan  pengambilan keputusan atau pemilihan alternatif terbaik atau paling menguntungkan dan risiko yang paling kecil. Dengan analisis manajemen ilmiah yang komprehensif yang didukung dengan alat-alat analis yang tepat, keputusan yang diambil menjadi lebih signifikan, ketidakpastian dan tingkat kegagalan semakin kecil. Hasil yang dirumuskan lebih rasional atau yang lebih mendekati kepastian dan risiko kegagalan mencapai tujuan dapat diantisipasi dengan mengatasi kelemahan dan ancaman.

 

Dengan cara demikian pimpinan   masa yang akan datang diharapkan perumus masa depan yang cemerlang, rasional, logis dicapai, dan pimpinan yang antisipatif terhadap risiko kegagalan dalam mencapai tujuan dan sasaran organisasi.

 


Konsep Kewirausahaan dan Karakter Wirausaha

 Sampai saat ini konsep kewirausahaan masih terus berkembang. Kewirausahan adalah suatu sikap, jiwa dan kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru yang sangat bernilai dan berguna bagi dirinya dan orang lain. Kewirausahaan merupakan sikap mental dan jiwa yang selalu aktif atau kreatif berdaya, bercipta, berkarya dan bersahaja dan berusaha dalam rangka meningkatkan pendapatan dalam kegiatan usahanya. Seseorang yang memiliki karakter selalu tidak puas dengan apa yang telah dicapainya. Wirausaha adalah orang yang terampil memanfaatkan peluang dalam mengembangkan usahanya dengan tujuan untuk meningkatkan kehidupannya. 

Norman M. Scarborough dan Thomas W. Zimmerer (1993:5), “An entrepreneur is one who creates a new business in the face if risk and uncertainty for the purpose of achieving profit and growth by identifying opportunities and asembling the necessary resources to capitalze on those opportunities”. Wirausahawan adalah orang-orang yang memiliki kemampuan melihat dan menilai kesempatan-kesempatan bisnis; mengumpulkan sumber daya-sumber daya yang dibutuhkan untuk mengambil tindakan yang tepat, mengambil keuntungan serta memiliki sifat, watak dan kemauan untuk mewujudkan gagasan inovatif kedalam dunia nyata secara kreatif dalam rangka meraih sukses/meningkatkan pendapatan. Intinya, seorang wirausaha adalah orang-orang yang memiliki karakter wirausaha dan mengaplikasikan hakikat kewirausahaan dalam hidupnya. 

Dengan kata lain, wirausaha adalah orang-orang yang memiliki jiwa kreativitas dan inovatif yang tinggi dalam hidupnya. Dari beberapa konsep di atas menunjukkan seolah-olah kewirausahaan identik dengan kemampuan para wirausaha dalam dunia usaha (business). Padahal, dalam kenyataannya, kewirausahaan tidak selalu identik dengan karakter wirausaha semata, karena karakter wirausaha kemungkinan juga dimiliki oleh seorang yang bukan wirausaha. Wirausaha mencakup semua aspek pekerjaan, baik karyawan swasta maupun pemerintahan (Soeparman Soemahamidjaja, 1980). Wirausaha adalah mereka yang melakukan upaya-upaya kreatif dan inovatif dengan jalan mengembangkan ide, dan meramu sumber daya untuk menemukan peluang (opportunity) dan perbaikan (preparation) hidup (Prawirokusumo, 1997). Kewirausahaan (entrepreneurship) muncul apabila seseorang individu berani mengembangkan usaha-usaha dan ide-ide barunya. Proses kewirausahaan meliputi semua fungsi, aktivitas dan tindakan yang berhubungan dengan perolehan peluang dan penciptaan organisasi usaha (Suryana, 2001). Esensi dari kewirausahaan adalah menciptakan nilai tambah di pasar melalui proses pengkombinasian sumber daya dengan cara-cara baru dan berbeda agar dapat bersaing. 

Menurut Zimmerer (1996:51), nilai tambah tersebut dapat diciptakan melalui cara-cara sebagai berikut: 1. Pengembangan teknologi baru (developing new technology), 

2. Penemuan pengetahuan baru (discovering new knowledge), 

3. Perbaikan produk (barang dan jasa) yang sudah ada (improving existing products or services), 

4. Penemuan cara-cara yang berbeda untuk menghasilkan barang dan jasa yang lebih banyak dengan sumber daya yang lebih sedikit (finding different ways of providing more goods and services with fewer resources). Walaupun di antara para ahli ada yang lebih menekankan kewirausahaan pada peran pengusaha kecil, namun sebenarnya karakter wirausaha juga dimiliki oleh orang-orang yang berprofesi di luar wirausaha. Karakter kewirausahaan ada pada setiap orang yang menyukai perubahan, pembaharuan, kemajuan dan tantangan, apapun profesinya. 

 Dengan demikian, ada enam hakekat pentingnya kewirausahaan, yaitu: 

 1. Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diwujudkan dalam perilaku yang dijadikan sumber daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat, kiat, proses dan hasil bisnis (Ahmad Sanusi, 1994) 

2. Kewirausahaan adalah suatu nilai yang dibutuhkan untuk memulai sebuah usaha dan mengembangkan usaha (Soeharto Prawiro, 1997) 

3. Kewirausahaan adalah suatu proses dalam mengerjakan sesuatu yang baru (kreatif) dan berbeda (inovatif) yang bermanfaat dalam memberikan nilai lebih. 

4. Kewirausahaan adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (Drucker, 1959) 

Berpikir Seperti Wirausahawan

  Berpikir seperti wirausahawan, atau pengusaha dan sadar bagaimana membuat bisnis berjalan lebih sukses dapat membantu Saudara menjadi karyawan yang lebih baik. Akibatnya, Saudara dapat memperlakukan bisnis orang lain seolah-olah itu milik Saudara. Pengusaha sering mempromosikan karyawan seperti ini, yang berpikir secara wirausaha. Berikut adalah tiga cara untuk berpikir seperti wirausahawan ketika Saudara bekerja sebagai karyawan: 

1. Mengamati. Terus mencari peluang untuk mempelajari keterampilan baru dan menerima tanggung jawab baru. Tetap menyadari apa yang terjadi di sekitar Saudara dapat membantu menghasilkan ide-ide baru untuk pertumbuhan bisnis. Ini termasuk ide untuk produk atau layanan baru yang mungkin dibutuhkan atau diinginkan pelanggan. 

2. Dengarkan. Perhatikan apa yang orang lain katakan. Tantangan yang dihadapi karyawan lain dapat memberi Saudara ide untuk melakukan peningkatan bisnis. 

3. Pikirkan. Alih-alih mengeluh tentang masalah, menganalisisnya. Kemudian sarankan solusi yang mungkin. 

Semakin banyak bisnis saat ini mendorong praktik intrapreneurship (in-tra-prih-NER-ship). Artinya, mereka memberi karyawan kesempatan untuk menjadi kreatif dan mencoba ide-ide baru, hampir seperti menjadi wirausahawan di dalam perusahaan. Berpikir seperti pengusaha juga dapat membantu Saudara membuat keputusan yang lebih cerdas tentang mengelola uang yang Saudara hasilkan. Ini termasuk cara menyimpan catatan pribadi yang baik, melakukan pembelian yang bijak, menginvestasikan dana pribadi untuk mendapatkan lebih banyak uang, dan merencanakan masa pensiun.

Belajar tentang kewirausahaan sering menginspirasi orang untuk mengembangkan visi untuk kehidupan mereka. Visi adalah "gambar" dari apa yang Saudara inginkan di masa depan. Kehidupan seperti apa yang kamu inginkan? Hal-hal apa yang paling penting bagi Saudara

Karakteristik Wirausahawan Sukses

 Karakteristik Wirausahawan Sukses Kepala sekolah sebagai pemimpinan yang memiliki tugas Pengelola sekolah dengan menerapkan prinsip-prinsip kewirausahan dapat mengadaptasi,mengadopsi dan mengembangkan prinsip-prinsip tersebut dalam memahami sekolah sebagai lembaga Pendidikan yang dijalankan dengan mengadaptasi aktivitas prinsip-prinsip kewirausahaan tersebut. Kepala sekolah yang berjiwa wirausahawan harus mampu melihat dan memanfaatkan peluang, mengumpulkan potensi dan kemampuan lembaga yang dipimpinnya serta masyarakat yang ada di sekitarnya. 

Potensi-potensi tersebut kemudiaan dianalisis dengan cermat, sehingga dapat dipilih jenis usaha produksi/jasa yang paling tepat yang dipercaya efektif dan berkembang ke depan, serta menentukan tindakan yang tepat untuk mengimplementasikannya (Depdiknas, nonmor 13 tahun 2007 dari dimensi kewirausahaan. Kepala sekolah, sebagai pimpinan sekolah diharapkan mampu menumbuhkan sikap kewirausahaan pada Pendik (Guru) Tenaga Kependidikan yang memiliki yang bermuara pada peningkatan kompetensi peserta didik dari sisi penanaman karakter dengan mengitegrasikan prisisip-prinsip kewirausahaan. Berikut adalah gambar karakteristik kewirausahaan

Pengembangan sikap kewirausahaan pada guru diarahkan melalui penyusunan perangkat pembelajaran yang mampu mengakomodir penumbuhan jiwa wirausaha tersebut. Rencana pembelajaran maupun silabus yang disusun dapat diimplementasikan baik dalam aktivitas intra kurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler, yang dapat dimanfaatkan di masyarakat kelak. Sedangkan pengembangan kewirausahaan bagi lembaga sekolah dimungkinkan ditempuh dengan mengikuti regulasi dan aturan yang berlaku namun diarahkan untuk peningkatan kualitas pembelajaran. Kepala sekolah dari masing-masing satuan pendidikan dapat menganalisis potensi kewirausahaan dan kemitraan yang dilakukan berdasarkan karakteristik masing masing satuan Pendidikan.

Penilaian diri dilakukan dengan cara mengevaluasi kekuatan dan Kelemahan dengan menggunakan analisis SWOT, sebagai kepala sekolah Saudara merupakan seseorang yang sangat penting dalam penerapan Prinsip-prinsip dan karakteristik wirausahawan. Penilaian diri sendiri membantu Saudara memaksimalkan potensi-potensi positif Saudara dan memperkuat potensi Saudara yang masih lemah. Hal utama yang harus iingat adalah bahwa setiap orang memiliki kekuatan dan kelemahan. Apa yang Saudara lakukan dengan apa yang Saudara miliki itulah yang penting. Juga, wirausahawan yang sadar diri mampu fokus mempekerjakan karyawan dengan karakteristik diri sendiri. Untuk mengetahui potensi diri dapat juga menggunakan SWOT analysis.



Kepemimpinan Perubahan

 Kepemimpinan perubahan adalah sebuah upaya untuk menciptakan sebuah perubahan dalam organisasi, sehingga membawa perubahan yang menjadikan semua komponen dalam organisasi itu menyatu dan saling berempati untuk membawa perubahan yang dibuatnya agar lebih bermanfaat dan memiliki nilai positif terhadap organisasi. Perubahan sistem kepemimpinan di sekolah seharusnya dapat menjadikan mutu sekolah dalam melayani pendidikan masyarakat lebih baik dari waktu ke waktu. Kepemimpinan perubahan dalam bidang organisasi adalah tindakan beralihnya suatu organisasi dari kondisi yang berlaku kini menuju ke kondisi masa yang akan datang menurut yang diinginkan guna meningkatkan keefektifannya (Winardi, 2005: 2). 

“Seorang pemimpin adalah orang yang melihat lebih dari yang orang lain melihat, yang melihat lebih jauh daripada yang orang lain melihat dan yang melihat sebelum orang lain melihat.” (Leroy Eimes, penulis dan pakar kepemimpinan). Tidak semua warga sekolah dan stakeholder sadar tentang kondisi yang sekarang. Tidak semuanya tahu dan mampu mencapai kondisi yang diinginkan. Ada yang memandang begitu muram terhadap kondisi pendidikan dan sekolah sekarang ini, sehingga kondisi buruk itu dibiarkan saja dan bahkan dihindari (fixed mindset). Tapi ada juga yang memandang kondisi buruk itu sebagai sebuah tantangan yang harus hadapi dan diatasi (growth mindset). Sebagai contoh, banyak siswa mengeluh karena sekolah mereka tidak nyaman. Guru-guru terus mengawasi mereka. Belajar di sekolah membuat mereka frustrasi, terpinggirkan, dan tidak menginspirasi. Guru mengeluh ketidaksetaraan kualitas dan fasilitas antara sekolah terpencil dan perkotaan sehingga membuat mereka malas mengajar dan menjadikan alasan bagi mereka untuk mengajar dengan apa adanya. 

Sekolah mengeluh karena kekurangan guru sehingga harus bekerja keras mengupayakan adanya guru honorer. Orang tua siswa mengeluh kerepotan dengan sistem online dan merugikan mereka. Kepala sekolah mengeluh karena dana BOS telat cair sehingga harus bekerja keras mengendalikan keterlaksanaan dan ketercapaian program kerja mereka. Kepala daerah pun mengeluh karena banyak guru yang tidak kompeten berambisi jadi kepala sekolah sehingga jabatan kepala sekolah akan diberikan ke pejabat lain. Ada juga yang melihat kondisi saat ini justru sebagai tantangan untuk berbuat lebih baik, lebih banyak. Mereka memandangnya sebagai ladang untuk beramal baik. Semua kondisi tersebut mengisyaratkan betapa pentingnya kepemimpinan perubahan. Kepemimpinan perubahan, secara khusus dalam bidang pendidikan, bisa dimaknai sebagai upaya untuk menciptakan kondisi-kondisi baru agar hubungan antara guru dan siswa berkembang (Ken Robinson, 2015: 72)

Sebuah penelitian membuktikan bahwa kehadiran dan kepemimpinan seorang kepala sekolah memiliki peranan yang sangat besar dan berarti bagi kemajuan sekolah. Bagaimana perubahan di sekolah itu dilakukan? Berikut ini akan dibahas satu demi satu peran kepala sekolah sebagai agen perubahan di sekolah sesuai dengan kompetensi kepala sekolah. 

a) Peran Kepala Sekolah dalam Perubahan Kepribadian dan Sosial (Memanusiakan/Humanizer) “Mulailah dari diri sendiri”, begitu kata orang bijak. Sebelum melakukan perubahan di sekolahnya, seorang kepala sekolah harus mau memulai perubahan dari diri sendiri dan sosialnya. Mari kita analisis kasus di atas. Untuk mengubah kondisi sekolahnya, Pak Agus segera bekerja sama dengan komite, orang tua, guru, siswa dan ahli pendidikan. Hal ini dimulai dari diri sendiri. Pak Agus berada di sekolah 30 menit sebelum jam pelajaran dimulai. Beliau adalah orang pertama yang datang di sekolah. Pak Agus menyambut siapa saja yang datang, baik guru maupun siswa, di gerbang sekolah. Beliau juga pulang paling akhir. Setiap program yang dia rancang, dia terlebih dulu melaksanakannya. Pak Agus tidak segan-segan untuk mengunjungi tokoh masyarakat, kepala desa, rumah guru, komite, dan mengajak berbicara dengan siswa untuk mengetahui ide, keinginan, dan masalah yang selama ini mereka hadapi. 

b) Peran Kepala Sekolah dalam Perubahan Pembelajaran (Katalis Budaya/Cultural Catalist) Jantung sekolah ada pada pembelajaran. Bila pembelajaran berhenti, berhenti pula hakikat sekolah. Pembelajaran yang dilakukan asal-asalan akan meluluskan siswa yang biasabiasa saja. Dari studi kasus di atas, kita dapat mengetahui bahwa pembelajaran di sekolah Pak Bagus tidak begitu menggembirakan. Hal ini ditandai oleh nilai ujian nasional yang dicapai dari tahun ke tahun rendah

Monday, July 12, 2021

Langkah-Langkah Penerapan Pendekatan Pemecahan Masalah pada Pembelajaran Soal Cerita di Sekolah Dasar

 

Sesuatu disebut masalah bila sesuatu itu mengandung pertanyaan yang harus dijawab. Namun tidak setiap pertanyaan merupakan suatu masalah.

Pertanyaan merupakan suatu masalah apabila pertanyaan tersebut menantang untuk dijawab yang jawabannya tidak dapat dilakukan secara rutin saja. Lebih lanjut pertanyaan yang menantang itu menjadi masalah seseorang apabila orang itu menerima tantangan tersebut. Dengan demikian suatu pertanyaan menjadi masalah bagi siswa apabila siswa itu diberi motivasi untuk menjawab masalah tersebut. untuk memberikan motivasi kepada siswa agar siswa tersebut bersedia menerima

Pemecahan masalah merupakan proses untuk menerima tantangan untuk menjawab masalah, karena itu mengajar bagaimana memecahkan masalah merupakan kegiatan pengajaran pertanyaan yang menantang itu dan bila perlu guru membimbingnya sampai siswa dapat memecahkan masalah tersebut.

Berikut ini petunjuk bagaimana guru membimbing murid untuk dapat memecahkan masalah :

1)      Mengerti masalah

Apabila siswa tidak mengerti masalah, tentu saja ia tidak tertarik untuk memecahkannya. Siswa mengerti masalah, bila ia mengetahui a) apa yang ditanyakan/dibuktikan, b) apa data yang diketahui, dan c) bagaimana syarat-syaratnya.

2)      Merencanakan masalah

Untuk dapat memecahkan masalah, siswa harus dapat menemukan hubungan data dengan yang ditanyakan/dibuktikan. Siswa memiliki teorema-teorema atau konsep-konsep yang telah dipelajari untuk dikombinasikan sehingga dapat dipergunakan untuk memecahkan masalah yang dihadapi itu. Untuk keperluan ini bila perlu guru membimbing siswa dengan langkah-langkah sebagai berikut :

a.       Siswa mengumpulkan data/informasi dengan mengaitkan persyaratan yang ditentukan untuk dianalisis.

b.      Jika diperlukan siswa menganalisis informasi yang diperoleh dengan menggunakan analogi masalah (perumpamaan) yang pernah diselesaikan.

c.       Apabila ternyata siswa macet, ia perlu dibantu melihat masalah tersebut dari sudut yang berbeda 

3)      Melaksanakan Pemecahan

Pemecahan masalah yang sudah direncanakan itu dilaksanakan. Di dalam memecahkan masalah tersebut setiap langkah dicek, apakah langkah-langkah tersebut sudah benar terbukti. Dengan demikian siswa akan menghasilkan pemecahan sendiri. Guru harus bersabar menanti.

4)      Melihat Kembali

Pemecahan yang sudah diperoleh itu harus dicek kembali. Pertanyaan-pertanyaan dalam diri siswa yang perlu ditumbuhkan misalnya :

a.       Sudah cocokkah hasilnya ?

b.      Apakah tidak ada hasil yang lain ?

c.       Apakah ada cara lain untuk memecahkan masalah tersebut ?

d.      Dengan cara yang berbeda apakah hasilnya sama ?

Langkah-langkah tersebut kiranya juga dapat diterapkan pada masalah-masalah yang lain. Yang perlu diperhatikan adalah pengajar harus sabar membimbing siswa dan menunggu proses penalaran yang dilakukan oleh siswa.

Pendekatan Pemecahan Masalah pada Pembelajaran Soal Cerita di Sekolah Dasar

 


 

1.        Pengertian Matematika

Istilah matematika yang mulanya diambil dari bahasa Yunani yaitu mathein atau manthenein artinya mempelajari, namun diduga kata itu erat pula hubungannya dengan kata sansekerta yaitu medha atau widya yang artinya kepandaian, pengetahuan atau intelegensi. Secara etimologis matematika berarti ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan bernalar. Matematika merupakan salah satu ilmu dasar yang sekarang ini sedang berkembang sangat pesat.

Berikut ini adalah beberapa pengertian mengenai matematika yaitu :

Dalam kurikulum (2004:2) menyatakan bahwa matematika merupakan suatu bahan kajian yang memiliki obyek abstrak dan dibangun melalui proses penalaran edukatif yaitu kebenaran suatu konsep diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya sudah diterima. Sehingga keterkaitan antar konsep dalam matematika bersifat sangat kuat dan jelas.

Menurut Kline (Suwangsih dan Tiurlina, 2010:4) “Matematika itu bukan pengetahuan menyendiri yang dapat sempurna karena dirinya sendiri, tetapi beradanya itu terutama untuk membantu manusia dalam memahami dan menguasai permasalahan sosial, ekonomi dan alam.”

Reys dkk ( Suwangish dan Tiurlina, 2010:4) mengatakan bahwa “Matematika adalah telaah tentang pola dan hubungan, suatu jalan, atau pola berpikir, suatu seni, suatu bahasa dan suatu alat.”

8

 
Ruseffendi (1984) mengatakan bahwa “Matematika terbentuk sebagai hasil pemikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses dan penalaran yang berhubungan dengan bentuk susunan, besaran, dan konsep-konsep.”

9

 
James dan James (Suwangsih dan Tiurlina, 2010:4) menyatakan bahwa “Matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep yang berhubungan satu sama lainnya dengan jumlah yang sangat banyak terbagi ke dalam tiga bidang yaitu aljabar, analisis, dan geometri.

Yang dimaksud mata pelajaran matematika di Sekolah Dasar adalah matematika yang diajarkan di pendidikan dasar berdasarkan tujuan dan karakteristiknya, pengajaran matematika senantiasa berdasarkan pada ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dari beberapa pengertian matematika di atas, penulis cenderung lebih memahami pengertian yang dikemukakan Ruseffendi yaitu bahwa matematika terbentuk dari hasil pemikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses dan penalaran.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas disimpulkan bahwa matematika adalah ilmu pengetahuan yang terfokus  pada nalar dengan hubungannya terhadap bentuk, susunan, besaran, konsep-konsep sehingga membantu memahami dan menguasai permasalahan yang berhubungan dengan matematika serta hubungannya dengan ilmu pengetahuan lainnya terutama memahami dan menguasai permasalahan sosial, ekonomi, dan alam yang kemudian terbagi dalam tiga bidang, yaitu aljabar, analisis dan geometri.

2.        Pengertian Pendekatan

Pendekatan pembelajaran merupakan suatu konsep atau prosedur yang digunakan dalam membahas suatu bahan pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang dalam pelaksanaan pembelajarannya memerlukan satu atau lebih metode pembelajaran (Suwangsih, 2010 : 103)

3.        Pengertian Pemecahan Masalah Matematika

Masalah menurut Hayes (Suwangsih, 2010 : 123) adalah suatu kesenjangan (gap) antara dimana anda berada sekarang dengan tujuan yang anda inginkan, sedangkan anda tidak tahu proses apa yang akan dikerjakan.

Menurut Hudoyo (1996 :190) suatu pertanyaan akan merupakan suatu masalah bila pertanyaan itu tidak bisa dijawab dengan prosedur rutin, sedangkan pemecahan masalah adalah merupakan proses penerimaan tantangan dan kerja keras untuk menyelesaikan masalah tersebut.

10

 
Selanjutnya Hudoyo (1996 : 189) mengemukakan bahwa penyelesaian masalah dapat diartikan sebagai penggunaan matematika baik untuk matematika itu sendiri maupun aplikasi matematika dalam kehidupan sehari-hari dan ilmu pengetahuan lain secara kreatif untuk menyelesaikan masalah-masalah yang belum kita ketahui penyelesaiannya ataupun masalah-masalah yang belum kita kenal.

Masalah dapat diartikan setiap hal yang mengandung keragu-raguan, ketidakpastian atau kesulitan yang harus diatasi dan diselesaikan (Ischak, 2000:96)

Pemecahan masalah adalah suatu proses mental dan intelektual dalam menemukan suatu masalah dan memecahkannya berdasarkan data dan informasi yang akurat, sehingga dapat diambil kesimpulan yang tepat dan cermat. (Dr. Hamalik, 1994:151)

Pemecahan masalah merupakan proses untuk menerima tantangan untuk menjawab masalah yang memecahkannya berdasarkan data dan informasi yang akurat.

4.        Metode Pemecahan Masalah

Metode adalah cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guru mencapai maksud atau tujuan yang ditentukan. Metode mengajar adalah cara mengajar atau cara menyampaikan materi pelajaran kepada siswa untuk setiap pelajaran atau bidang studi. Untuk menguasainya tidak perlu diperlukan keahlian khusus.

Dalam kaitannya dengan pemecahan masalah dalam pembelajaran matematika, dapat dirumuskan bahwa metode pemecahan masalah adalah format interaksi belajar mengajar yang bertitik tolak dari suatu masalah yang hendak dipecahkan dan dalam prosedur kerjanya berpegang pada prinsip-prinsip metode ilmiah.

Pemecahan masalah merupakan proses untuk menerima tantangan untuk menjawab masalah. Karena itu mengajar bagaimana memecahkan masalah merupakan kegiatan pengajar untuk memberikan motivasi kepada siswa agar siswa tersebut bersedia menerima pertanyaan yang menantang itu dan bila perlu guru membimbingnya sampai siswa dapat memecahkan masalah tersebut.

11

 
Metode pemecahan masalah memegang peranan penting agar pengajaran berjalan dengan fleksibel.

Di sisi lain dalam pemrosesan informasi metode pemecahan masalah dapat membentuk kognisi peserta didik secara kokoh terhadap suatu pemahaman dasar berkenaan dengan tanggung jawab pemrosesan informasi tersebut jika dilakukan secara efektif.

 

5.        Masalah di dalam Matematika

Suatu pertanyaan dapat dipandang sebagai “masalah” merupakan hal yang sangat relatif. Suatu soal yang dianggap suatu masalah bagi seseorang, bagi orang lain mungkin hanya merupakan hal yang rutin.

Suatu pertanyaan mungkin merupakan permasalahan bagi anak SD, tetapi mungkin bukan permasalahan bagi gurunya, sebab anak SD untuk menjawab pertanyaan tersebut memerlukan proses yang rumit sedang bagi gurunya untuk menjawab pertanyaan tersebut memerlukan proses penalaran yang rutin.

Adapun permasalahan dapat dibedakan antara lain :

  1. Masalah Translasi

Masalah translasi merupakan masalah kehidupan sehari-hari yang untuk menyelesaikannya memerlukan translasi dari bentuk verbal ke bentuk matematika.

  1. Masalah Aplikasi

Masalah aplikasi memberikan kesempatan siswa untuk menyelesaikan masalah dengan menggunakan bermacam-macam keterampilan dan prosedur matematika.

  1. Masalah Proses

Masalah proses biasanya untuk menyusun langkah-langkah merumuskan pola dan strategi dalam menyelesaikan masalah.

 

  1. 12

     
    Masalah Teka – teki

Masalah teka-teki dimaksudkan untuk rekreasi dan kesenangan serta sebagai alat yang bermanfaat untuk mencapai tujuan efektif dalam pengajaran matematika.

Metode pemecahan masalah menurut Polya ada 4 langkah yang perlu dilakukan dalam pemecahan soal :

1)      Memahami soal yang ada

Apakah kita mengetahui arti semua kata yang digunakan ? kalau tidak carilah di indeks, kamus definisi dan lain-lain.

a.       Apakah kita mengetahui yang dicari atau yang ditanya ?

b.      Apakah kita mampu menyajikan soal dengan menggunakan kata-kata sendiri ?

c.       Apakah soal dapat disajikan dengan cara lain ?

d.      Apakah kita dapat menggambar sesuatu yang dapat digunakan sebagai bantuan ?

e.       Apakah informasi cukup untuk menyelesaikan soal ?

f.       Apakah informasi berlebihan ?

g.      Apakah ada yang perlu dicari sebelum mencari jawaban dari soal ?

2)      Menyusun suatu strategi

a.       Kita akan mencoba strategi yang ada tetapi jangan ragu-ragu untuk mencoba salah satu strategi untuk digunakan dalam menyelesaikan soal yang dihadapi.

b.      Pada umumnya strategi yang berhasil diketemukan setelah beberapa kali mencoba strategi yang gagal.

3)      Melakukan strategi yang telah dipilih.

Langkah ini lebih mudah dibandingkan menyusun strategi. Di sini hanya diperlukan kesabaran dan kehati-hatian untuk menerapkan metode pemecahan masalah.

4)      Melihat kembali pekerjaan yang telah kita lakukan

Selanjutnya kalau perlu menyusun strategi baru yang lebih baik atau menuliskan jawaban dengan lebih baik.   

6.       

13

 
Prinsip Pemecahan Masalah

Dalam pemecahan masalah menurut Gagne mempunyai beberapa langkah yaitu :

a.       Mengubah situasi pendidik (guru) mengajar pada situasi peserta didik belajar.

b.      Dari pengalaman pendidik kepada pengalaman peserta didik.

c.       Dari dunia pendidik ke dunia peserta didik.

d.      Pendidik menempatkan peserta didik pada pusat kegiatan belajar membantu mendorong peserta didik untuk belajar, bagaimana menyusun pertanyaan, bagaimana membicarakan dan menemukan jawaban persoalan.

7.        Pemecahan Masalah dalam Soal Cerita

Ilmu hitung yang dipelajari siswa harus berguna bagi mereka dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu kepastian mengajarkan soal-soal yang dipelajari dari hal-hal yang terjadi dalam pengalaman-pengalaman mereka. Soal yang demikian itu disebut soal cerita (Depdikbud, 1970 : 120).

 Dengan soal cerita tersebut siswa dituntut agar mampu memahami apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan untuk menyelesaikan soal cerita dalam pelajaran tersebut. Siswa dituntut untuk dapat memahami makna soal dalam bentuk cerita. Hal itu membuktikan bahwa siswa harus dapat membaca dan menyimak makna kalimat yang terkandung di dalam soal cerita yang sudah ada tersebut.

Soal cerita pada pembelajaran matematika menantang beberapa aspek kemampuan yang harus dimiliki siswa, antara lain yaitu a) siswa dapat membaca dan memahami pernyataan dan pertanyaan soal matematika yang berbentuk kalimat, b) siswa dituntut untuk memiliki daya nalar yang kuat, c) siswa harus memiliki kemampuan dalam operasi hitung penjumlahan, pengurangan, pembagian dan perkalian.

Pengertian soal cerita hendaknya menyangkut permasalahan yang disesuaikan dengan pokok bahasan dan perkembangan berfikir siswa. Dengan demikian terdapat keselarasan antara pengajaran yang menekankan pada keterampilan menyelesaikan soal cerita dan pemecahan masalah. Soal cerita pada umumnya kurang dipahami dalam langkah-langkah dalam penyelesaian soal cerita yaitu dengan pertanyaan – pertanyaan berikut : a) apa yang ditanyakan ?  b) apa yang diketahui? c) operasi mana yang digunakan dan d) bagaimana kalimat bilangannya ?

14

 
 


8.        Kelebihan dan kekurangan Metode Pemecahan Masalah

  1. Kelebihan

Kelebihan metode pemecahan masalah dalam pembelajaran matematika dan berhitung yaitu :

1)      Memungkinkan menghubungkan pengajaran dengan kehidupan sehari-hari, karena masalah-masalah yang diangkat dalam kegiatan belajar biasa diambil dari kehidupan sehari-hari, atau dari apa yang dialaminya.

2)      Dapat melatih dan membiasakan peserta didik untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah secara cermat. Hal ini akan sangat berguna bagi kehidupan kelak, karena dalam setiap langkah kehidupan senantiasa dihadapkan pada masalah-masalah yang menuntut pemecahan secara sistematis.

3)      Mampu melatih peserta didik untuk berfikir secara sistematis dan menghubungkan dengan masalah-masalah lainnya.

  1. Kekurangan

Kekurangan metode pemecahan masalah antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut :

1)      Setiap peserta didik memiliki kemampuan memecahkan masalah yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya.

2)      Memerlukan waktu yang cukup panjang, kalau dilaksanakan sesuai dengan langkah-langkah yang sistematis.

3)      Seringkali peserta didik tidak dapat memecahkan masalah-masalahnya sendiri atau bahkan mereka tidak atau kurang percaya terhadap pemecahan masalah yang telah dilakukannya, sehingga mereka senantiasa menuntut keterlibatan guru.

4)     

15

 
Masalah yang dijadikan topik guru, sehingga pengajaran menjadi kurang kondusif dan kurang menarik. Dalam proses masalah, guru sering menuntut peserta didik untuk bisa menyelesaikan soal cerita.

Deskripsi Tinta Printer

 Deskripsi Umum Tinta Printer Tinta printer adalah cairan berwarna (atau hitam) yang digunakan dalam printer untuk membuat gambar atau teks ...

Blog Archive