Saturday, December 9, 2017

Proses Pembelajaran Tari Kreatif


Di dalam proses pembelajaran tari, guru harus dapat menciptakan suasana kebebasan bergerak kepada siswa didiknya. Guru diharapkan membimbing siswa dapat mengungkapkan cara bergerak mereka sendiri yang unik sesuai dan cara bergerak sesuai dengan perasaannya. Bentuk kegiatan guru dalam membimbing siswa didiknya belajar menari, adalah: (1) latihan mempersiapkan tubuh sebagai alat ekspresi, (2) latihan gerak kepala, tangan, badan, dan kaki untuk menumbuhkan kesadaran kepada siswa didiknya bahwa seluruh anggota badan merupakan sumber gerak tari, (3) latihan bergerak dengan ritme untuk tujuan memperkenalkan dan membiasakan siswa menanggapi birama, tempo dan frase dalam musik iringan tarinya, (4) latihan bergerak dengan arah untuk tujuan membiasakan siswa dapat cepat menyesuaikan dengan tempat menari, (5) latihan bergerak dengan membentuk formasi untuk tujuan melatih konsentrasi, dapat cepat menyesuaikan dengan tempat menari dan melatih kemampuan bekerja sama dalam kelompok. Kemampuan guru tari kreatif lebih cenderung berkaitan dengan visi misi sekolah yang dikembangkan sehingga tari kreatif lebih menyesuaikan dengan sekolah masing-masing ;
Pelajaran seni tari kreatif merupakan pelajaran yang mengacu pada visi dan misi sekolah, sehingga Input pelajaran tari mengikuti tema atau sub tema yang berlaku di sekolah anggapan terhadap pelajaran seni tari yang tidak penting disekolah. Padahal, dengan memberikan pelajaran tentang seni tari akan memberikan pengaruh positif bagi siswa, yaitu mengembangkan kreativitas siswa dan melatih sosialisasi siswa. Agar Output kreativitas siswa lebih berkembang dan bentuk karya tari yang sesuai dengan harapan meningkatkan kecerdasan siswa, maka kreativitas yang dapat dimunculkan dengan cara memotivasi siswa menciptakan gerak-gerak kreatif.
Proses pemunculan kreativitas tidak dapat diwujudkan secara sekonyong-konyong atau instan. Pemunculan kreativitas diperlukan sebuah proses melalui pemberian kesempatan untuk bersibuk diri secara kreatif. Bahwa pada siswa sekolah hendaknya kreativitas sebagai proses yang diutamakan, dan jangan terlalu cepat mengharapkan produk kreatif yang bermakna dan bermanfaat. Jika pendidik terlalu cepat menuntut produk kreatif yang memenuhi standar mutu tertentu, hal ini akan mengurangi kesenangan dan keasyikan anak untuk berkreasi.

Treatment tari kreatif Menurut Smith (1989 : 20) ada beberapa rangsangan yang dapat memotivasi siswa bergerak kreatif, yaitu rangsang auditif, visual, kinestetik, gagasan, dan peraba. Rangsang auditif meliputi berbagai suara dan bunyi-bunyian, seperti manusia, suara binatang, suara angin, bunyi alat atau instrumen musik, dsb. Rangsang visual dapat ditimbulkan dari gambar, patung, obyek alam, topeng, dsb. Rangsang kinestetik adalah rangsang yang muncul dari gerak tari/gerak yang indah, atau menampilkan pameran gerak saja. Rangsang gagasan berupa cerita, dongeng, cerpen, atau peristiwa tertentu. Rangsang peraba adalah rangsang yang menghasilkan respon yang kemudian menjadi motivasi untuk gerak tari.

Peranan Guru Dalam Menggambar


Guru memegang peranan penting dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, terutama dalam mengajarkan bagaimana cara menggambar atau memberikan contoh gambar untuk ditiru oleh anak. Peranan ugru memberikan inspirasi, memberikan kejelasan/klasifikasi, menerjemahkan gagasan, perasaan dan reaksi anak dalam bentuk-bentuk gambar atau menciptakan iklim yang menunjang bagi kegiatan menggambar anak.
Beberapa cara yang dapat dijadikan alat motivasi oleh guru pada awal pembelajaran seni yaitu insentif, membangun pengalaman probadi (ingatan, sosial emosional), pengalaman langsung kepada objek di lingkunagn, asosiasi gagasan dengan bahan/media dan perluasan pengetahuan.
Insentif dapat diartikan penguatan yang memungkinkan para anak didik terangkat minatnya untuk mengikuti pelajaran seperti kata-kata pujian, acungan jempol, gerak mimic atau tanda persetujuan dan penerimaan guru kepada anak yang mengemukakan gagasan menarik.
Membangun ingatan perlu dilakukan untuk mengungkapkan kembali pengalaman anak. Caranya dengan menggunakan pancingan-pancingan kata-kata. Asosiasi emosional dapat menyentuh perasaan dan imajinasi gagasan yang berkaitan dengan ekspresi menghasilkan karya yang lebih berkualitas. Guru berupaya agar pengetahuan siap mengenai suatu objek yang telah diimitasi oleh anak dapat dilakukan dengan diskusi pada awal kegiatan, waktu kegiatan sedang berlangsung atau setelah hasil karya selesai dibuat anak. Pengetahuan yang luas akan memperlancar proses kreasi bahkan meningkatkan daya tarik hasil karya (Wachowiah dan Clements, 1993)

Tahap Perkembangan Menggambar Anak


Dalam pembelajaran menggambar, guru perlu mengetahui bagaimana cara untuk mencapai tujuan yaitu anak mampu menggambar dengan baik. Sebelum  guru memberikan tugas, terlebih dahulu hendaknya memahami kondisi siswa yang akan dihadapi nanti.
Tahap perkembangan pada dasarnya sama bagi setiap anak, bila anak berbeda pada tiap tahap perkembangan, penyebabnya adalah kemungkinan dari pembawaan, pengalaman, kepercayaan diri, sosial budaya dan ekonomi.
a. Masa Perkembangan Anak
1. Masa Mencoreng (Usia 2-4 tahun)
Pada masa mencoreng ini anak belum mampu berkomunikasi dengan baik terutama bahasa lisan, belum memiliki perbendaharaan kata-kata. Anak seusia ini masih mengalami hambatan dalam berkomunikasi. Untuk mengatasinya adalah dengan bahasa gambar. Pada usia ini anak belum mempunyai daya tangkap visual (pengamatan) terutama dalam pengamatan lingkungan masih sangat terbatas dan belum mempunyai keterampilan anggota tubuh secara baik, misalnya anak seusia ini diberi alat tulis, kemudian diminta untuk membuat gambar, hasil goresannya memperlihatkan bentuk garis beraneka ragam.
Dari goresan yang berupa garis-garis panjang yang tidak rata, garis-garis pendek yang tidak menentu arahnya, garis-garis putus, tegak lurus diulang-ulang. Kemudian berkembang menjadi benang kusut walaupun bentuk gambarnya demikian adalah merupakan curahan, ungkapan, keinginan, dan batin anak. Gambar  yang dihasilkan sukar untuk dimengerti oleh orang lain. Namun andaikata ditanya lagi pada esok harinya jawaban anak berubah tidak sama dengan jawaban kemarin. Oleh karena itu gambar merupakan bahasa anak dalam bentuk visual.
2. Masa Prabagan (Usia 4-7 tahun)
Pada masa prabagan, seiring dengan perkembangannya kemampuan motorik dan konsep-konsep yang dimiliki, gambar anak pun sudah menunjukkan kemiripan dengan objek yang digambar. Obyek yang mereka gambar pun biasanya lebih bervariasi. Hal ini disebabkan oleh pengalaman hidup mereka yang lebih kaya.
Pada masa ini perkembangan fisik, mental, pikiran dan perasaan anak mulai memiliki daya pengamatan, sedikit demi sedikit mulai mengenal bentuk. Anak sudah mulai menghubungkan hasil pengamatan baik pengamatan yang sudah tersimpan dalam otak maupun pengamatan langsung pada saat itu dengan tangan yang dikendalikan otak, sehingga menghasilkan gambar. Pada mulanya anak mulai mencoba-coba membentuk gambar yang sangat sederhana, misalnya lingkaran, segitiga, segiempat, dan sebagainya. Anak membuat lingkaran yang tidak rata dan tidak bulat. Pada masa ini bertambahnya usia anak, daya visual atau penglihatan semakin kuat, sehingga bentuk gambar mereka mudah dipahami orang lain (U. Danarto, 1990:32).
3. Masa Bagan
Pada masa bagan anak-anak sudah memahami bentuk-bentuk suatu benda di sekitar. Dari hasil pengamatan, mereka mengenal berbagai macam benda, kemudian mencoba membangun setiap benda yang pernah ditemuinya ke dalam gambar, misalnya bagan rumah, pohon, meja, kursi, bunga, gunung, sungai, orang, mobil dan binatang. Bagian yang dibuat anak nampaknya akan sama. Namun halnya membuat huruf setiap garis yang ditarik anak-anak ketika menghasilkan bagan menunjukkan ungkapan pikiran, perasaan dan watak mereka. Bagan buatan anak yang satu berbeda dengan bagan yang dibuat oleh anak yang lainnya. Bertambahnya usia anak, bagan yang dibuat anak akan mengalami perubahan, bergantung kepada lingkungan, suasana hati dan pikiran anak ketika menggambar sesuatu objek.
4. Karakteristik Gambar Anak
Karakteristik gambar anak terdiri dari enam karakter :
a.         Obyek tegak lurus di atas garis mendatar
Anak dalam membentuk ruangan dinyatakan dengan garis mendatar, tidak terpikirkan olehnya bahwa benda yang ada di belakang benda yang lain itu, bahkan ada sebagian lain yang terhalang oleh benda di depannya.
b.        Peristiwa beruntun
Pada aktivitas menggambar pun anak suka menggambar suatu peristiwa yang beruntun. Peristiwa beruntun adalah gambar yang menunjukkan beberapa peristiwa yang beruntun dalam lembar kertas gambar.
c.         Gambar bening/tembus pandang
Yang disebut gambar bening yaitu anak menggambar dengan memperlihatkan bagian luar dan dalam, seakan-akan rumah itu bening, seolah-olah dindingnya terbuat dari kaca.
d.        Gambar rebahan
Gambar rebahan adalah gambar terlentang atau suatu gambar yang dilihat dari beberapa sudut atau dari atas, namun posisi orang dalam gambarnya seperti orang tidur terlentang.
e.         Mengutamakan kejelasan obyek dan pengetahuan aktif
Obyek lebih banyak ditentukan oleh pertalian batinnya dengan tiap-tiap sosok obyek itu. Sebuah bagan adalah pemahaman yang dicapai pada usia anak akan bertambah luas dan wawasannya berkembang dan merupakan perwujudan pengetahuan aktif dan dinamis tentang suatu obyek.
Misalnya anak biasanya menggambar sebuah rumah yang hanya beratap dan berjendela saja. Suatu ketika anak mengalami suatu peristiwa yang berarti baginya yaitu ia membuat pintu rumah, maka anak mengubah gambar rumahnya dengan menambah pintu. Melalu perubahan bagan seperti itu anak melahirkan pengalamannya yang baru dan akan berubah pada aktivitas menggambar selanjutnya.
f.         Warna

Warna adalah unsur rupa yang paling menyentuh perasaan secara langsung kita dapat menangkap keindahan. Susunan warna sebuah lukisan abstrak dari susunan garis atau bentuknya. Warna merupakan sesuatu yang sangat menarik untuk melengkapi sebuah gambar. Anak dapat menuangkan sebuah obyek yang dilihat dari obyek gambar. Anak dapat menyesuaikan warna yang cocok untuk obyek yang digambarnya. Misalnya gambar pohon, anak ingat bahwa pohon itu daunnya hijau, maka anak dapat menentukan warna sesuai dengan yang dilihatnya.

Potensi dan Bakat Anak

1.    Potensi dan Bakat Anak
Setiap anak mempunyai kemampuan untuk mengungkapkan dirinya secara kreatif sejak lahir. Pada dasarnya kreatif dalam berkarya adalah kemampuan untuk banyak membuat karya-karya yang baru dari pengalaman dan pengetahuan yang diperolehnya.
Potensi dan bakat yang dimiliki oleh anak sejak lahir dapat dikembangkan dalam berbagai kemampuan tertentu yaitu:
a.       Kemampuan Fisik
Kemampuan fisik yang perlu dikembangkan adalah kemampuan panca indera dalam mengamati benda dan peristiwa-peristiwa sehari-hari. Selain itu juga keterampilan tangan dalam menggunakan alat gambar melalui latihan-latihan keterampilan tersebut sangat membantu anak untuk berekspresi.
b.      Kemampuan Berpikir
Gambar atau lukisan karya anak-anak merupakan curahan perasaan, pikiran dan imajinasi anak-anak yang kadang-kadang diungkapkan dalam lambang-lambang yang sulit dimengerti oleh orang dewasa.
c.       Hasrat dan Rasa Ingin Tahu
Setiap anak tentu mempunyai hasrat untuk maju, seringkali anak menangis karena keinginannya tidak terpenuhi. Salah satu usaha untuk mengembangkan hasrat ingin maju atau ingin tahu pada anak yaitu menyediakan bahan dan alat bantu belajar baru yang beraneka ragam.
d.      Perasaan keindahan, kesadaran budi dan hati nurani
Pendidikan seni rupa harus mampu mengembangkan perasaan budi serta nurani anak yang dibawa sejak lahir. Tema seperti bencana alam, pengemis berjalan tertatih-tatih, melakukan ibadah dan sebagainya adalah tema-tema yang dapat menyentuh hati nurani anak. Menyajikan pemandangan alam yang indah atau langit biru yang mempesona yang diutarakan oleh guru secara menarik sebelum berkarya adalah salah satu upaya meningkatkan perasaan keindahan.
e.       Daya Fantasi dan Imajinasi

Anak usia dini masih mempunyai daya fantasi besar, karena kemampuan berpikirnya belum berkembang seperti orang dewasa. Mereka mengalami kesulitan untuk berkomunikasi secara lisan. Kesulitan ini disalurkan oleh anak ke dalam bahasa visual atau gambar. Umumnya gambar yang dibuat anak-anak itu merupakan gambar berwarna, yaitu mengungkapkan segala sesuatu yang diketahuinya, semacam gambar bercerita. Dengan demikian tujuan pendidikan seni rupa yang baik harus mampu untuk mengembangkan lima kemampuan yang terdapat pada diri anak itu sesuai dengan kemampuan dan perkembangan jiwanya.

Kreativitas Anak


1.    Pengertian Kreativitas
Kreativitas menurut Moslow sebagai ciri universal pada semua orang yang mengaktualisasikan diri dan sifat manusiawi yang penuh sifat-sifat yang dikaitkan dengan kreativitas adalah fleksibilitas, spontanitas, keberanian, berani membuat kesalahan, keterbukaan, kerendahan hati. Moslow menghargai kreativitas anak begitu tinggi sehingga kreativitas menjadi salah satu ciri orang-orang yang mencapai aktualitas diri (dalam Globe, 1987:53-54).
Kreativitas menurut Komite Penasehat Nasional di Bidang Pendidikan Kreatif dan Pendidikan Budaya, menggambarkan sebagai bentuk aktivitas imajinatif yang menghasilkan sesuatu yang bersifat original, murni, asli dan bermakna (Craff, 2004:1).
Kreativitas menurut Beetlestone pada tahun 1998 dan Nacce pada tahun 1999 menyatakan bahwa kreativitas merupakan sebuah bentuk pembelajaran.
Kreativitas yang dikemukakan para ahli dan merupakan kesimpulan dari pengertian kreativitas yaitu sebagai kemampuan seseorang untuk mengolah unsur-unsur yang sudah ada menjadi sesuatu yang orisinil.
Kreativitas ada pada setiap orang sejak dilahirkan, dan kita mengenal adanya berbagai variasi tingkat kreativitas.
Kreativitas disebabkan oleh pengaruh lingkungan tempat seseorang dibesarkan oleh pengaruh lingkungan yang memancing kreativitasnya, maka ia akan menjadi kreatif maka sebaliknya anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang menekan dan menghambat berkembangnya kreativitas maka ia tidak akan menjadi orang yang kreatif.
2.    Pentingnya Kreativitas
Mengapa kreativitas penting dipupuk dan dikembangkan dalam diri anak?
a.       Karena dengan berkreasi orang dapat mewujudkan dirinya dan manusia dapat mempertahankan hidupnya.
b.      Kreativitas atau berpikir kreatif sebagai kemampuan untuk melihat bermacam-macam kemungkinan untuk menyelesaikan masalah, terutama yang dilatih adalah pengetahuan, ingatan dan kemampuan berpikir logis atau penalaran. Pemikiran kreatif disebut juga berpikir divergen karena membuat anak lancar dan luwes dalam berpikir, maupun melihat sesuatu masalah dari berbagai sudut pandang dan mampu melahirkan banyak gagasan.
c.       Menyibukkan diri secara kreatif tidak hanya bermanfaat tapi mampu memberikan kepuasan kepada individu.
d.      Kreativitas yang memungkinkan manusia meningkatkan kualitas hidupnya.
3.    Hal-hal yang perlu dikembangkan dalam mengembangkan kreativitas:
a.       Sarana yang memadai
Sarana merupakan alat yang digunakan untuk menggali dan mengembangkan daya cipta anak dengan sarana yang memadai. Anak dapat mengekspresikan, bereksperimen dan mengembangkan kemampuannya.
b.      Lingkungan yang merangsang
Lingkungan rumah dan lingkungan sekolah harus merangsang anak dengan memberikan anak untuk berkreasi dan sarana yang mendorong daya ciptanya.
Hal ini harus dilakukan sedini mungkin sehingga masa anak di taman kanak-kanak menjadi suatu pengalaman yang menyenangkan dan dihargai secara sosial.
c.       Dorongan
Terlepas dari seberapa jauh kemampuan dan prestasi anak, cara mendidik anak hendaknya menganut paham demokratis serta mampu menghargai prestasinya dengan memberikan pujian atau hadiah, sehingga anak terlepas dari ejekan dan kritik yang sering dilontarkan pada anak yang kreatif dan jangan segan memberikan pujian bagus, baik, pintar, cantik. Hal ini dapat menumbuhkan rasa percaya diri pada anak.
4.    Kiat Merangsang Kreativitas Anak
a.       Bebas
Kreativitas muncul jika seorang anak diberi kebebasan membuat karya, anak melakukan apapun sekehendak hati dalam batasan yang tidak mengganggu atau mencelakai orang lain atau dirinya.
b.      Keleluasaan tempat
Kebebasan yang diberikan kepada anak untuk berkreativitas menuntut konsekuensi adanya tempat bagi diri anak untuk mencoba-coba. Ketidakleluasaan tempat dapat menghambat kreativitas anak.

c.       Hindari kritik
Pertanyaan-pertanyaan yang bersifat menyalahkan hasil karya anak tanpa disadari hal ini merupakan kritik bagi anak, sehingga lambat laun anak akan kehilangan rasa percaya diri, bahwa ia mampu melakukan segala sesuatunya dengan benar. Ketakutan membuat sesuatu yang salah akan membatasi aktivitas anak sehingga kreativitas pun bisa terhambat.
d.      Memperkaya imajinasi
Manfaat yang diperoleh anak dengan terbiasa berpikir kreatif adalah keluwesan mencari pemecahan masalah. Dalam proses kreatif dapat terjadi dengan adanya imajinasi. Sementara imajinasi berkembang dari kolaborasi pengetahuan-pengetahuan lama yang ada dalam ingatan anak bisa dipakai dengan cara membawanya ke tempat-tempat unik, misalnya di tempat wisata atau museum-museum.
5.    Karakteristik Kreativitas dan Ciri-ciri Afektif dari Kreativitas
Setiap orang memiliki kreativitas dengan tingkat yang berbeda-beda. Tidak ada orang yang sama sekali tidak memiliki kreativitas, dan yang diperlukan adalah bagaimana mengembangkan kreativitas itu.
Ciri-ciri kreativitas yang berhubungan dengan kemampuan berpikir seseorang seperti kelancaran, fleksibilitas, orisinalitas dan perincian. Ciri-ciri yang menyangkut sikap dan perasaan seseorang disebut ciri-ciri afektif dan kreativitas. Ciri-ciri afektif dari kreativitas disimpulkan dari beberapa pendapat para ahli yang sangat esensial dalam menentukan prestasi kreatif seseorang yaitu:
a.       Rasa ingin tahu
b.      Tertarik terhadap tugas-tugas majemuk yang dirasakan sebagai tantangan
c.       Berani mengambil resiko dalam berbuat kesalahan dan untuk dikritik oleh orang lain.
d.      Tidak mudah putus asa
e.       Menghargai keindahan
f.       Mempunyai rasa humor
g.      Ingin mencari pengalaman – pengalaman baru
h.      Menghargai diri sendiri maupun orang lain dan sebagainya (Munandar,S.C.U, 1999:20).
6.    Kegiatan Untuk Mengembangkan Kreativitas
Banyak sekali kegiatan yang dapat dilakukan untuk mengembangkan kreativitas anak, diantaranya yaitu kegiatan melukis atau menggambar bebas. Kegiatan menggambar ini merupakan salah satu sarana yang dapat dimanfaatkan oleh anak. Selain untuk melatih keterampilan tangan, kegiatan menggambar juga dapat menjadi sarana bagi anak untuk dapat menuangkan pikiran dan imajinasinya ke dalam gambar yang dibuatnya.
Pada kegiatan menggambar bebas ini, anak dapat mencurahkan isi hatinya melalui gambar dan anak menggambar sesuai dengan apa yang dirasakan pada saat itu.

Kadang kita melihat hasil gambar yang dibuat anak dengan warna yang tidak sesuai dengan obyek yang digambarnya misalnya warna daun diberi warna merah, gunung diberi warna hitam, buah diberi warna biru. Yang dia gambar bukan semata apa yang dilihatnya, tapi merupakan hasil kerja sama indra-indranya yang dirasakan, diimajinasikan serta dicetuskan menjadi sebuah gambar. Dengan menggambar bebas akan menghilangkan resah dan stress yang dialami anak yang berada dalam lingkungan yang mengekang.

Faktor Yang Mempengaruhi Kemampuan Berhitung Pada Anak


Perkembangan dipengaruhi oleh faktor kematangan dan belajar. Apabila anak sudah menunjukan masa peka (kematangan) untuk berhitung, maka orang tua dan guru di TK harus tanggap untuk segera memberikan layanan dan bimbingan sehingga kebutuhan anak dapat terpenuhi dan tersalurkan dengan sebaik-baiknya menuju perkembangan kemampuan berhitung yang optimal.
Anak usia TK adalah masa yang sangat strategis untuk mengenalkan berhitung di jalur matematika, karena usia TK sangat peka terhadap rangsangan yang diterima dari lingkungan. Contohnya: Ketika guru menjelaskan konsep satu dengan menggunakan benda (satu buah apel), anak-anak dapat menyebutkan benda lain yang memiliki konsep sama, sekaligus mengenalkan bentuk lambang dari angka satu itu. Rasa ingin tahunya yang tinggi akan tersalurkan apabila mendapat stimulasi/rangsangan/motivasi yang sesuai dengan tugas perkembangannya. Apabila kegiatan berhitung diberikan melalui berbagai macam permainan tentunya akan lebih efektif karena bermain merupakan wahana belajar dan bekerja bagi anak. Diyakini bahwa anak akan lebih berhasil mempelajari sesuatu apabila yang ia pelajari sesuai dengan minat, kebutuhan, dan kemampuannya (Murdjito, 2007).
Mudjito (2007: 2), mengemukakan berbagai prinsip-prinsip berhitung permulaan pada anak adalah sebagai berikut: a) Berhitung diberikan secara bertahap, diawali dengan menghitung benda-benda atau pengalaman peristiwa kongkret yang dialami melalui pengamatan terhadap alam sekitar; b) Pengetahuan dan keterampilan pada berhitung diberikan secara bertahap menurut tingkat kesukarannya, misalnya dari kongkret ke abstrak, mudah ke sukar, dan dari sederhana ke yang lebih kompleks; c) Berhitung akan berhasil jika anak-anak diberi kesempatan berpartisipasi dan dirangsang untuk menyelesaikan masalah-masalahnya sendiri; d) Berhitung membutuhkan suasana menyenangkan dan memberikan rasa aman serta kebebasan bagi anak. Untuk itu diperlukan alat peraga/media yang sesuai dengan benda sebenarnya (tiruan), menarik dan bervariasi, mudah digunakan dan tidak membahayakan; e) Bahasa yang digunakan di dalam pengenalan konsep berhitung seyogyanya bahasa yang sederhana dan jika memungkinkan mengambil contoh yang terdapat di lingkungan sekitar anak; f) Dalam berhitung anak dapat dikelompokkan sesuai tahap penguasaannya yaitu tahap konsep, masa transisi dan lambang; g) Dalam mengevaluasi hasil perkembangan anak harus dimulai dari awal sampai akhir kegiatan

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa prinsip permainan berhitung permulaan diberikan secara bertahap kepada anak dimulai dari tahap berhitung yang mudah kemudian ke tahap yang lebih sulit. Permainan berhitung harus memberikan kesempatan kepada anak untuk berpartisipasi dalam kegiatan matematika sehingga anak dapat memperoleh pengalaman yang diperoleh untuk mengembangkan kemampuan berhitung.

Kegiatan Pengenalan Matematika untuk Anak TK


Suyanto (2005: 67), menyatakan bahwa menyebutkan “satu, dua, tiga” pada mulanya tidak bermakna bagi anak yang belum memahami bilangan. Anak dapat mengucapkannya tetapi ia tidak memahami artinya. Sejak anak mulai bicara, anak bisa mengucapkan “satu, dua, tiga”, tetapi ia sekedar menirukan orang dewasa dan tidak memahami artinya. Ia tidak tahu bahwa bilangan merupakan simbol dari benyaknya benda. Hal itu dapat kita amati pada saat anak usia 2 tahun menghitung benda.
Piaget (Suyanto, 2005: 68), berpendapat bahwa anak TK berada pada fase perkembangan praoperasional menuju ke konkret. Anak pada fase tersebut belajar terbaik dari benda nyata. Berbagai benda yang ada di sekitar dapat gunakan untuk melatih anak berhitung. Berikut contoh-contoh kegiatan pengenalan matematika untuk anak TK sebagai berikut:
a.       Menghitung dengan jari. Tuhan memberi kita jari sedemikian baiknya sehingga merupakan alat menghitung yang paling mudah dan penting. Lima jari dalam satu tangan merupakan bilangan berbasis lima, dua tangan berbasis 10, suatu basis yang amat penting dalam sistem bilangan.
b.      Bermain domino. Kartu domino berisi lingkaran yang merepresentasikan bilangan dari kosong sampai 12. Kartu tersebut baik untuk melatih anak menghitung dan mengenal pola.
c.       Berhitung sambil bernyanyi dan berolah raga
d.      Menghitung benda-benda. Orangtua dan guru dapat melatih anak menghitung benda apa saja dan di mana saja. Setiap kesempatan dan ada benda nyata latih anak untuk berhitung. Di kelas, guru dapat menggunakan berbagai benda untuk melatih anak berhitung, seperti manik-manik biji, permen, atau benda-benda untuk pemainan.
Dari beberapa pendapat tentang berbagai kegiatan pengenalan matematika untuk anak TK maka dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian yang akan dilakukan pada anak TK Kelompok B sesuai tahapan perkembangan kognitif praoperasional menggunakan manik-manik. Kegiatan pengenalan matematika dengan menggunakan manik-manik yang dipilih dalam penelitian ini adalah menggunakan media manik-manik.

Deskripsi Tinta Printer

 Deskripsi Umum Tinta Printer Tinta printer adalah cairan berwarna (atau hitam) yang digunakan dalam printer untuk membuat gambar atau teks ...

Blog Archive