Friday, January 6, 2017

Sosiologi Antropologi Pendidikan

1.   a. Pengetahuan terdiri dari empat macam yaitu :
Pengetahuan Umum (Knowledge)
Pengetahuan umum muncul karena adanya kegiatan akal sehat manusia yang ditujukan pada kejadian sehari-hari yang mereka alami. Misalnya, pengetahuan tentang terbit dan tenggelamnya matahari, pengetahuan tentang hujan yang turun dari langit. Pengetahuan biasa bisa terjadi melalui pencerapan pancaindra, baik disengaja maupun tidak.
Pengetahuan Ilmiah (science)
Science yaitu pengetahuan yang tersusun secara sistematis dan metodis, pendekatan yang digunakan adalah empiris-terikat dimensi ruang dan waktu serta berdasarkan kemampuan panca indra manusia, rasional dan umum.
Ilmu pengetahuan bukanlah sesuatu yang sudah selesai dipikirkan. Ia merupakan suatu hal yang tidak mutlak. Kebenaran yang dihasilkan ilmu pengetahuan bersifat relatif (nisbi), positif dan terbatas. Hal ini disebabkan ilmu pengetahuan tidak mempunyai alat lain dalam menguak rahasia alam kecuali indra dan kecerdasan (otak)
Pengetahuan Filosofis
Filsafat ini akan mengajari manusia untuk menjadi manusia yang sebenarnya, yaitu manusia yang mengikuti kebenaran, mempunyai ketenangan pikiran, kepuasan, kemantapan hati, kesadaran akan arti dan tujuan hidup, gairah rohani dan keinsafan, kemudian mengaplikasikannya dalam bentuk topangan atas dunia baru, menuntun kepadanya, mengabdi kepada cinta mulia kemanusiaan, berjiwa dan bersemangat universal dan sebagainya.
Pada dasarnya filsafat merupakan cara berpikir yang sistematis, koheren, sinoptik, konsepsional, rasional dan mengarah pada pandangan dunia. Filsafat merupakan berpikir tentang hakekat dari segala sesuatu. Baik dari segi ontologinya, epistemologinya, dan aksiologinya.
Pengetahuan Agama
Agama berasal dari bahasa sanskerta yaitu a dan gam yaitu tidak pergi, sedangkan dalam bahasa arab yaitu din dan dalam bahasa latin yaitu relegere yang berarti undang-undang.
Agama adalah sesuatu yang berasal dari Tuhan, berupa ajaran tentang ketentuan, kepercayaan, kepasrahan dan pengamalan, yang diberikan kepada makhluk yang berakal demi keselamatan dan kesejahteraanya di dunia dan akherat. Agama merupakan kebenaran mutlak karena bersumber dari Tuhan.

b. Klasifikasi ilmu pengetahuan menurut obyek dan fungsinya :
1)  Universal/umum: meliputi keseluruhan yang ada seluruh hidup manusa, misalnya: teologi/agama dan filsafat.
2)  Khusus: hanya mengenai salah satu lapangan tertentu dan kehidupan manusia, jadi obyeknya terbatas, hanya ini saja atau itu saja. inilah yang biasanya disebut “ilmu pengetahuan”
Ø  Ilmu-ilmu alam (natural scienses, natuurwetenschappen)
Ilmu yang mempelajari barang-barang menurut keadaanya di alam kodrat saja, terlepas dari pengaruh manusia dan mencari hukum-hukum yang mengatur apa yang terjasi di dalam alam, jadi terperinci lagi menurut obyeknya. Termasuk di dalamnya adalah: ilmu alam, ilmu fisika, ilmu kimia, ilmu hayat dan sebagainya.
Ø  Ilmu pasti (mathematics)
Ilmu yang memandang barang-barang, terlepas dari isinya hanya menurut besarnya. Jadi mengadakan abstaraksi barang-barang itu. Ilmunya dijabarkan secara logis berpangkal pada beberapa asas-asas dasar (axioma). Termasuk di dalamnya adalah: ilmu pasti, ilmu ukur, ilmu hitung, ilmu al jabar dan sebagainnya.
Ø  Ilmu-ilmu kerohanian / kebudayaan (geisteswisssen-schaften/social-sciences)
Ilmu yang mempelahari hal-hal dimana jiwa manusia memegang peranan yang menentukan. Yang dipandang bukan barang-barang seperti di alam dunia, terlepas dari manusia, melainkan justru sekadar mengalami pengaruh dari manusia. Termasuk misalnnya: ilmu sejarah, ilmu mendidik, ilmu hukum , ilmu ekonomi, ilmu sosiologi, ilmu bahasa dan sebagainnya.
c. Ilmu sosial
Ilmu sosial adalah ilmu yang mempelajari tentang manusia sosial. Ilmu sosial terdiri dari berbagai ilmu yang mempelajari tentang manusia sebagai makhluk sosial. Karena ada kata sosial arti lebih lanjut, bahwa ilmu sosial ialah ilmu atau sejumlah ilmu yang mempelajari manusia dalam kehidupan sosialnya.
Sosiologi pendidikan
Sosiologi pendidikan mempunyai kewajiban untuk menganalisa lembaga-lembaga pendidikan dalam hubungannya dengan perkembangan manusia dan dibatasi oleh pengaruh-pengaruh lembaga-lembaga pendidikan yang menentukan kepribadian sosial dari tiap-tiap individu. Jadi pada dasarnya antara individu dengan lembaga-lembaga sosial saling mempengaruhi (process social interaction).
Tugas atau garapan sosiologi pendidikan meliputi pokok-pokok berikut ini:
1. hubungan sistem pendidikan dengan aspek-aspek lain dalam masyarakat
a. hubungan pendidukan dengan sistem sosial atau struktur sosial
b. hubungan antara sistem pendidikan dengan proses kontrol sosial dan sistem kekuasaan
c. fungsi pendidikan dalam kebudayaan
d. fungsi sistem pendidikan dalam proses perubahan sosial dan kultural atau usaha mempertahankan status quo, dan
e. fungsi sistem pendidikan formal bertalian dengan kelompok rasial, kultural dan sebagainya
2. hubugan antar manusia di dalam Sekolah
a. hakikat kebudayaan Sekolah sejauh ada perbeadaanya dengan kebudayaan diluar sekolah dan
b. pola interaksi sosial dan stuktur masyarakat Sekolah, yang antara lain meliputi berbagai hubungan kekuasaan, stratifikasi sosial dan pola kepemimpinan informal sebagai terdapat dalam clique serta kelompok-kelompok murid lainnya
3. pengaruh Sekolah terhadap perilaku dan kepribadian semua pihak di sekolah / lembaga pendidikan
a. peranan sosial guru-guru / tenaga pendidikan
b. hakikat kepribadian guru / tenaga pendidikan
c. pengaruh kepribadian guru / tenaga kependidikan terhadap kelakuan anak / peserta didik, dan
d. fungsi Sekolah / lembaga pendidikan dalam sosial murid / peserta didik.
4. hubungan lembaga pendidikan dalam masyarakat
Di sini dianalisis pola-pola interaksi antara sekolah/ lembaga pendidikan dengan kelompok-kelompok sosial lainnya dalam masyarakat di sekitar sekolah / lembaga pendidikan.
Hal yang termasuk dalam wilayah itu antara lain yaitu :
a. Pengaruh masyakarat atas organisasi Sekolah /lembaga pendidikan
b. Analisis proses pendidikan yang terdapat dalam sistematis sosial dalam masyarakat luar sekolah.
c. Hubungan antara Sekolah dan masyarakat pendidikan dan
d. Faktor-faktor demografi dan ekologi dalam masyarakat yang berkaitan dengan organisasi Sekolah, yang perlu untuk memahami sistem pendidikan dalam masyarakat serta integrasinya di dalam kehidupan masyarakat.
Ruang lingkup sosiologi pendidikan tersebut pada dasarnta untuk mempererat dan meningkatkan tujuan pendidikan secara keseluruhan. Karena itu, sosiologi pendidikan tidak akan keluar dari upaya-upaya agar pencapaian tujuan dan fungsi pendidikan tercapai menurut pendidikan itu sendiri


2.   a. Definisi kebudayaan menurut E.B Taylor
E.B Tylor, menyatakan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks yang didalamnya meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, kesusilaan, adat istiadat, serta kesanggupan dan kebiasaan lainnya yang mempelajari oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Dari definisi tersebut berimplikasi bahwa segenap aktivitas manusia dalam kehidupan merupakan bagian dari kebudayaan. Hal ini dikarenakan aktivitas manusia tidak terlepas dari kompleksitas dan akulturasi antara pengetahuan, kepercayaan, seni, kesusilaan, adat istiadat serta kebiasaan-kebiasaan lainnya yang terjadi dalam kehidupan sehari baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat maupun berbangsa.

b. Wujud kebudayan menurut Koentjaraningrat
1) wujud kebudayaan sebagai ide, gagasan, nilai, atau norma.
2) Kedua wujud kebudayaan sebagai aktifitas atau pola tindakan manusia dalam masyarakat.
3) wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.
c. Tujuh unsur kebudayaan menurut C. Kluckhon, yaitu:
1. Peralatan dan perlengkapan hidup manusia (pakaian, perumahan, alat-alat rumah tangga, senjata, alat-alat produksi, transpor).
Ini meliputi segala sesuatu yang berhubungan dengan kelengkapan atau peralatan hidup manusia sehari-hari demi menunjang aktivitas kehidupan dan mencapai kesejahteraan. Peralatan dan perlengkapan yang dimaksud meliputi pakaian, perumahan, alat-alat rumah tangga, senjata, alat pabrik, alat transportasi.
2. Mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi (pertanian, peternakan, sistem produksi, sistem distribusi).
Segala sesuatu yang berkenaan dengan perekonomian dan mata pencaharian diantaranya alat-alat pertanian, sistem jual beli, cara bercocok tanam, sistem produksi, sistem distribusi, sistem konsumsi).
3. Sistem kemasyarakatan (sistem kekerabatan, organisasi politik, sistem hukum, sistem perkawinan).
Yaitu cara-cara perilaku manusia yang terorganisir secara sosial meliputi sistem kekeraban, sistem komunitas, sistem pelapisan sosial, sistem politik.
4. Bahasa (lisan, tulisan).
Terdiri dari bahasa lisan, bahasa tertulis dan naskah kuno.
5. Sistem pengetahuan.
Meliputi teknologi dan kepandaian dalam hal tertentu, misalnya pada masyarakat petani ada pengetahuan masa tanam, alat pertanian yang sesuai lahan, pengetahuan yang menentukan proses pengolahan lahan.
6. Religi (sistem kepercayaan).
Berkenaan dengan agama dan kepercayaan yang dianut dalam suatu masyarakat.
7. Kesenian.
Berkenaan dengan hal-hal yang menurut etika dan estetika seperti: seni gambar, musik, tari dan lainnya

3.   Empat pilar pendidikan menurut Jacques Delor dari UNESCO
a). Konsep learning to know menyiratkan makna bahwa pendidik harus mampu berperan sebagai informator, organisator, motivator, diretor, inisiator, transmitter, fasilitator, mediator, danevaluator bagi siswanya, sehingga peserta didik perlu dimotivasi agar timbul kebutuhan terhadap informasi, keterampilan hidup, dan sikap tertentu yang ingin dikuasainya. Yusak (2003) mengatakan bahwa secara kreatif menguasai instrumen ilmu dan pemahaman yang terus berkembang, umum atau spesifik, sebagai sarana dan tujuan , dan memungkinkan terjadinya belajar sepanjang hayat.
b). Konsep learning to do menyiratkan bahwa siswa dilatih untuk sadar dan mampu melakukan suatu perbuatan atau tindakan produktif dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Terkait dengan hal tersebut maka proses belajar-mengajar perlu didesain secara aplikatif agar keterlibatan peserta didik, baik fisik, mental dan emosionalnya dapat terakomodasi sehingga mencapai tujuan yang diharapkan.
c). Konsep learning to live together merupakan tanggapan nyata terhadap arus individualisme serta sektarianisme yang semakin menggejala dewasa ini. Fenomena ini bertalian erat dengan sikap egoisme yang mengarah pada chauvinisme pada peserta didik sehingga melunturkan rasa kebersamaan dan harga-menghargai. Memahami, menghormati dan bekerja dengan orang lain, mengakui ketergantungan, hak dan tanggungjawab timbal balik yang melibatkan partisipasi aktif warga, tujuan bersama menuju kerekatan sosial, perdamaian dan semangat kerjasama demi kebaikan bersama.
d). Konsep learning to be, perlu dihayati oleh praktisi pendidikan untuk melatih siswa agar mampu memiliki rasa percaya diri (self confidence) yang tinggi. Kepercayaan merupakan modal utama bagi siswa untuk hidup dalam masyarakat. Pengembangan dan pemenuhan manusia seutuhnya yang terus “berevolusi”, mulai dengan pemahaman diri sendiri, kemudian memahami dan berhubungan dengan orang lain. Menguak kekayaan tak ternilai dalam diri.
Untuk itu semua, pendidikan di Indonesia harus diarahkan pada peningkatan kualitas kemampuan intelektual dan profesional serta sikap, kepribadian dan moral. Dengan kemampuan dan sikap manusia Indonesia yang demikian maka pada gilirannya akan menjadikan masyarakat Indonesia masyarakat yang bermartabat di mata masyarakat dunia.

4.   a. Makna, Sifat umum dan substansi budaya belajar
Konsep budaya belajar bersumber dari konsep budaya, dalam hal ini, budaya tidak dipandang sebagai gejala yang bersifat material baik yang berupa benda, orang, tindakan, ataupun emosi, melainkan sesuatu yang bersifat abstrak yang terdapat dalam pikiran manusia. Tegas kebudayaan diartikan sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami dan menginterpretasikan pengalaman lingkungannya serta menjadi kerangka landasan untuk menciptakan dan mendorong terwujudnya kelakuan. Budaya belajar juga dipandang sebagai model-model pengetahuan manusia mengenai belajar yang digunakan oleh individu atau kelompok sosial untuk menafsirkan benda – tindakan dan emosi dalam lingkungannya.
Sifat umum budaya belajar terbagi dalam empat bagian, yakni
(a) budaya belajar dimiliki bersama;
(b) budaya belajar cenderung bertahan dan berubah;
(c) fungsi budaya belajar adalah untuk pemenuhan kebutuhan hidup; dan
(d) budaya belajar diperoleh melalui proses belajar.
Substansi budaya belajar dapat dikategorikan dalam tiga bagian penting, yakni :
a. Sistem pengetahuan budaya belajar
b. Sistem nilai budaya belajar dan sistem etos budaya belajar
c. Sistem pandangan hidup mengenai budaya belajar

Sistem pengetahuan budaya belajar, merupakan hasil akumulasi perolehan pembelajaran sepanjang hidup lingkungannya, baik lingkungan sosial maupaun lingkungan alam. Pengetahuan yang baik merupakan melakukan penyesuaian diri dengan perubahan-perubahan. Ada 3 (tiga) cara manusia mendapatkan pengetahuan belajar yang diperoleh dari penyesuaian diri dan lingkungan yaitu : 

a. Melalui serangkaian pengalaman hidup tentang kehidupan yang dirasakan, baik pengalaman dalam lingkungan alam atau sosial.
b. Melalui berbagai pengajaran yang diperolehnya baik melalui pembelajaran dirumah, masyarakat, atau pendidikan di sekolah.
c. Melalui petunjuk-petunjuk yang bersifat simbolik.

Nilai budaya belajar dan ethos budaya belajar yang mempunyai kaitan dengan sistem pengetahuan yang menyebabkan dirinya meyakini akan pentingnya nilai pengetahuan belajar pada individu atau kelompok sosial faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya kepentingan nilai belajar adalah pengalaman dan orientasi budaya di masa depan. Nilai budaya belajar akan berkaitan dengan jenis materi belajar yang dipandang penting oleh suatu masyarakat. Dalam nilai budaya belajar mengalami perkembangan. Perkembangan tersebut mengikuti pola perubahan sosial budayanya.

Ethos budaya belajar merujuk pada penampilan watak dasar belajar melekat pada individu atau kelompok suatu masyarakat. Watak dasar itu menjadi ciri sekaligus identitas kelompok sosial. M.E Opler (1946) menyebutnya ethos sebagai konfigurasi yang berisi keseluruhan bagian-bagian yang bersifat abstrak yang bersumber dari sistem gagasan, pola-pola tindakan dari berbagai individu atau kelompok masyarakat yang mengandung arti atau makna yang berbeda.

Ruth Benedict (1934), dalam suatu peneltian komparatifnya berhasil mengungkapkan watak tiga kelompok masyarakat yakni masyarakat Indian Pueblo Zuni dari negara bagian Colorado Amerika Serikat, masyarakat Dobu berada di sebelah tenggara Papua Newgini dan masyarakat Kwakiuti yang terdapat di kepulauan dekat pantai barat Kanada.

Pandangan hidup budaya belajar terbentuk atas dasar sistem pengetahuan, nilai dan ethos budaya belajar yang dianut oleh masyarakat setempat. Sistem pengetahuan belajar yang diperoleh dari lingkungan masyarakat dioperasikan dalam bentuk sistem berfikir mengenai pengkategorisasian. Pandangan hidup terlihatkan atas sikap terbuka atau tertutup. Terdapat kelompok masyarakat yang menerima budaya belajar yang hanya cocok untuk lingkungannya dan menolak budaya belajar yang tidak sesuai dengan lingkungan masyarakatnya.

b. Budaya belajar sebagai sistem pengetahuan dan pola kelakuan manusia pada masyarakat
Budaya belajar sebagai sistem pengetahuan menyiratkan, bahwa budaya belajar dapat berfungsi sebagai pola bagi kelakuan manusia. Yang menjadikan pola tersebut berfungsi sebagai blueprint atau pedoman hidup yang dianut secara bersama. Budaya belajar juga dapat dipandang sebagai proses adaptasi manusia dan lingkungannya, baik berupa lingkungan fisik maupun lingkungan sosial. Sistem pengetahuan belajar digunakan untuk adaptasi dalam kerangka untuk memenuhi tiga syarat kebutuhan hidup; yaitu : 1) Syarat dasar alamiah, yang berupa kebutuhan biologis, 2) Syarat kewajiban, yaitu pemenuhan kebutuhan akan perasaan tenang, jauh dari perasaan takut, keterkucilan, kegelisahan dan berbagai kebutuhan untuk berhubungan dengan orang lain, dapat melangsungkan hubungan, dapat mempelajari budaya, dapat mempertahankan diri dari serangan musuh, dsb.
Bennet menjelaskan, bahwa adaptasi adalah upaya menyesuaikan dalam arti ganda, yaitu manusia belajar menyesuaikan kehidupan dengan lingkungannya atau sebaliknya manusia juga belajar agar lingkungan yang dihadapi dapat disesuaikan dengan keinginan dan tujuannya. Kenyataan lain menunjukan bahwa lingkungan dengan sumber dayanya memiliki keterbatasan-keterbatasan, namun pada pihak lain kebutuhan manusia dalam rangka memenuhi syarat dasar hidupnya setiap saat senantiasa mengalami peningkatan. Implikasinya pada setiap pembelajaran baik individu maupun kelompok akan memiliki pilihan strategis yang satu sama lain saling berbeda. Individu atau kelompok pembelajar dengan pengetahuan belajarnya akan melihat permasalahan adanya keterbatasan tersebut dengan cara merespon secara aktif. Permasalahan yang berlangsung dilingkungan itu akan berusaha untuk diatasi dengan pembelajaran. Kemampuan budaya belajar individu atau kelompok sosial keadaftipannya ditujukan untuk memecahkan berbagai persoalan yang timbul dilingkungannya.



No comments:

Post a Comment

Deskripsi Tinta Printer

 Deskripsi Umum Tinta Printer Tinta printer adalah cairan berwarna (atau hitam) yang digunakan dalam printer untuk membuat gambar atau teks ...

Blog Archive