1. a. Pengetahuan terdiri dari empat macam yaitu :
Pengetahuan Umum (Knowledge)
Pengetahuan umum muncul karena
adanya kegiatan akal sehat manusia yang ditujukan pada kejadian sehari-hari
yang mereka alami. Misalnya, pengetahuan tentang terbit dan tenggelamnya
matahari, pengetahuan tentang hujan yang turun dari langit. Pengetahuan biasa
bisa terjadi melalui pencerapan pancaindra, baik disengaja maupun tidak.
Pengetahuan
Ilmiah (science)
Science yaitu pengetahuan
yang tersusun secara sistematis dan metodis, pendekatan yang digunakan adalah
empiris-terikat dimensi ruang dan waktu serta berdasarkan kemampuan panca indra
manusia, rasional dan umum.
Ilmu pengetahuan
bukanlah sesuatu yang sudah selesai dipikirkan. Ia merupakan suatu hal yang
tidak mutlak. Kebenaran yang dihasilkan ilmu pengetahuan bersifat relatif
(nisbi), positif dan terbatas. Hal ini disebabkan ilmu pengetahuan tidak
mempunyai alat lain dalam menguak rahasia alam kecuali indra dan kecerdasan
(otak)
Pengetahuan
Filosofis
Filsafat ini akan mengajari manusia untuk menjadi manusia
yang sebenarnya, yaitu manusia yang mengikuti kebenaran, mempunyai ketenangan
pikiran, kepuasan, kemantapan hati, kesadaran akan arti dan tujuan hidup,
gairah rohani dan keinsafan, kemudian mengaplikasikannya dalam bentuk topangan
atas dunia baru, menuntun kepadanya, mengabdi kepada cinta mulia kemanusiaan,
berjiwa dan bersemangat universal dan sebagainya.
Pada dasarnya filsafat
merupakan cara berpikir yang sistematis, koheren, sinoptik, konsepsional,
rasional dan mengarah pada pandangan dunia. Filsafat merupakan berpikir tentang
hakekat dari segala sesuatu. Baik dari segi ontologinya, epistemologinya, dan
aksiologinya.
Pengetahuan Agama
Agama berasal dari bahasa sanskerta yaitu a dan gam yaitu
tidak pergi, sedangkan dalam bahasa arab yaitu din dan dalam bahasa latin yaitu
relegere yang berarti undang-undang.
Agama adalah sesuatu
yang berasal dari Tuhan, berupa ajaran tentang ketentuan, kepercayaan,
kepasrahan dan pengamalan, yang diberikan kepada makhluk yang berakal demi keselamatan
dan kesejahteraanya di dunia dan akherat. Agama merupakan kebenaran mutlak
karena bersumber dari Tuhan.
b.
Klasifikasi ilmu pengetahuan menurut obyek dan fungsinya :
1)
Universal/umum: meliputi keseluruhan yang ada seluruh hidup manusa,
misalnya: teologi/agama dan filsafat.
2)
Khusus: hanya mengenai salah satu lapangan tertentu dan kehidupan
manusia, jadi obyeknya terbatas, hanya ini saja atau itu saja. inilah yang
biasanya disebut “ilmu pengetahuan”
Ø
Ilmu-ilmu alam (natural scienses, natuurwetenschappen)
Ilmu yang mempelajari barang-barang menurut keadaanya di alam kodrat saja,
terlepas dari pengaruh manusia dan mencari hukum-hukum yang mengatur apa yang
terjasi di dalam alam, jadi terperinci lagi menurut obyeknya. Termasuk di
dalamnya adalah: ilmu alam, ilmu fisika, ilmu kimia, ilmu hayat dan sebagainya.
Ø Ilmu
pasti (mathematics)
Ilmu yang memandang barang-barang, terlepas dari isinya hanya menurut
besarnya. Jadi mengadakan abstaraksi barang-barang itu. Ilmunya dijabarkan
secara logis berpangkal pada beberapa asas-asas dasar (axioma). Termasuk di
dalamnya adalah: ilmu pasti, ilmu ukur, ilmu hitung, ilmu al jabar dan
sebagainnya.
Ø
Ilmu-ilmu kerohanian / kebudayaan (geisteswisssen-schaften/social-sciences)
Ilmu yang mempelahari hal-hal dimana jiwa manusia memegang peranan yang
menentukan. Yang dipandang bukan barang-barang seperti di alam dunia, terlepas
dari manusia, melainkan justru sekadar mengalami pengaruh dari manusia.
Termasuk misalnnya: ilmu sejarah, ilmu mendidik, ilmu hukum , ilmu ekonomi,
ilmu sosiologi, ilmu bahasa dan sebagainnya.
c.
Ilmu sosial
Ilmu sosial adalah ilmu yang mempelajari tentang manusia
sosial. Ilmu sosial terdiri dari berbagai ilmu yang mempelajari tentang manusia
sebagai makhluk sosial. Karena ada kata sosial arti lebih lanjut, bahwa ilmu
sosial ialah ilmu atau sejumlah ilmu yang mempelajari manusia dalam kehidupan
sosialnya.
Sosiologi pendidikan
Sosiologi pendidikan mempunyai kewajiban untuk menganalisa lembaga-lembaga
pendidikan dalam hubungannya dengan perkembangan manusia dan dibatasi oleh
pengaruh-pengaruh lembaga-lembaga pendidikan yang menentukan kepribadian sosial
dari tiap-tiap individu. Jadi pada dasarnya antara individu dengan
lembaga-lembaga sosial saling mempengaruhi (process social interaction).
Tugas atau garapan sosiologi pendidikan meliputi
pokok-pokok berikut ini:
1. hubungan sistem pendidikan dengan aspek-aspek lain dalam masyarakat
a. hubungan pendidukan dengan sistem sosial atau struktur sosial
b. hubungan antara sistem pendidikan dengan proses kontrol sosial dan sistem kekuasaan
c. fungsi pendidikan dalam kebudayaan
d. fungsi sistem pendidikan dalam proses perubahan sosial dan kultural atau usaha mempertahankan status quo, dan
e. fungsi sistem pendidikan formal bertalian dengan kelompok rasial, kultural dan sebagainya
a. hubungan pendidukan dengan sistem sosial atau struktur sosial
b. hubungan antara sistem pendidikan dengan proses kontrol sosial dan sistem kekuasaan
c. fungsi pendidikan dalam kebudayaan
d. fungsi sistem pendidikan dalam proses perubahan sosial dan kultural atau usaha mempertahankan status quo, dan
e. fungsi sistem pendidikan formal bertalian dengan kelompok rasial, kultural dan sebagainya
2. hubugan antar manusia di dalam Sekolah
a. hakikat kebudayaan Sekolah sejauh ada perbeadaanya dengan kebudayaan diluar sekolah dan
b. pola interaksi sosial dan stuktur masyarakat Sekolah, yang antara lain meliputi berbagai hubungan kekuasaan, stratifikasi sosial dan pola kepemimpinan informal sebagai terdapat dalam clique serta kelompok-kelompok murid lainnya
a. hakikat kebudayaan Sekolah sejauh ada perbeadaanya dengan kebudayaan diluar sekolah dan
b. pola interaksi sosial dan stuktur masyarakat Sekolah, yang antara lain meliputi berbagai hubungan kekuasaan, stratifikasi sosial dan pola kepemimpinan informal sebagai terdapat dalam clique serta kelompok-kelompok murid lainnya
3. pengaruh Sekolah terhadap perilaku dan kepribadian semua pihak di sekolah
/ lembaga pendidikan
a. peranan sosial guru-guru / tenaga pendidikan
b. hakikat kepribadian guru / tenaga pendidikan
c. pengaruh kepribadian guru / tenaga kependidikan terhadap kelakuan anak / peserta didik, dan
d. fungsi Sekolah / lembaga pendidikan dalam sosial murid / peserta didik.
a. peranan sosial guru-guru / tenaga pendidikan
b. hakikat kepribadian guru / tenaga pendidikan
c. pengaruh kepribadian guru / tenaga kependidikan terhadap kelakuan anak / peserta didik, dan
d. fungsi Sekolah / lembaga pendidikan dalam sosial murid / peserta didik.
4. hubungan lembaga pendidikan dalam masyarakat
Di sini dianalisis pola-pola interaksi antara sekolah/ lembaga pendidikan dengan kelompok-kelompok sosial lainnya dalam masyarakat di sekitar sekolah / lembaga pendidikan.
Hal yang termasuk dalam wilayah itu antara lain yaitu :
a. Pengaruh masyakarat atas organisasi Sekolah /lembaga pendidikan
b. Analisis proses pendidikan yang terdapat dalam sistematis sosial dalam masyarakat luar sekolah.
c. Hubungan antara Sekolah dan masyarakat pendidikan dan
d. Faktor-faktor demografi dan ekologi dalam masyarakat yang berkaitan dengan organisasi Sekolah, yang perlu untuk memahami sistem pendidikan dalam masyarakat serta integrasinya di dalam kehidupan masyarakat.
Ruang lingkup sosiologi pendidikan tersebut pada dasarnta untuk mempererat dan meningkatkan tujuan pendidikan secara keseluruhan. Karena itu, sosiologi pendidikan tidak akan keluar dari upaya-upaya agar pencapaian tujuan dan fungsi pendidikan tercapai menurut pendidikan itu sendiri
Di sini dianalisis pola-pola interaksi antara sekolah/ lembaga pendidikan dengan kelompok-kelompok sosial lainnya dalam masyarakat di sekitar sekolah / lembaga pendidikan.
Hal yang termasuk dalam wilayah itu antara lain yaitu :
a. Pengaruh masyakarat atas organisasi Sekolah /lembaga pendidikan
b. Analisis proses pendidikan yang terdapat dalam sistematis sosial dalam masyarakat luar sekolah.
c. Hubungan antara Sekolah dan masyarakat pendidikan dan
d. Faktor-faktor demografi dan ekologi dalam masyarakat yang berkaitan dengan organisasi Sekolah, yang perlu untuk memahami sistem pendidikan dalam masyarakat serta integrasinya di dalam kehidupan masyarakat.
Ruang lingkup sosiologi pendidikan tersebut pada dasarnta untuk mempererat dan meningkatkan tujuan pendidikan secara keseluruhan. Karena itu, sosiologi pendidikan tidak akan keluar dari upaya-upaya agar pencapaian tujuan dan fungsi pendidikan tercapai menurut pendidikan itu sendiri
2. a.
Definisi kebudayaan menurut E.B Taylor
E.B Tylor, menyatakan
bahwa kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks yang didalamnya meliputi
pengetahuan, kepercayaan, seni, kesusilaan, adat istiadat, serta kesanggupan
dan kebiasaan lainnya yang mempelajari oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Dari
definisi tersebut berimplikasi bahwa segenap aktivitas manusia dalam kehidupan
merupakan bagian dari kebudayaan. Hal ini dikarenakan aktivitas manusia tidak
terlepas dari kompleksitas dan akulturasi antara pengetahuan, kepercayaan,
seni, kesusilaan, adat istiadat serta kebiasaan-kebiasaan lainnya yang terjadi
dalam kehidupan sehari baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat maupun
berbangsa.
b. Wujud
kebudayan menurut Koentjaraningrat
1) wujud kebudayaan sebagai ide, gagasan, nilai, atau
norma.
2) Kedua wujud kebudayaan sebagai aktifitas atau pola
tindakan manusia dalam masyarakat.
3) wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya
manusia.
c.
Tujuh unsur kebudayaan menurut C. Kluckhon, yaitu:
1. Peralatan dan perlengkapan hidup manusia
(pakaian, perumahan, alat-alat rumah tangga, senjata, alat-alat produksi,
transpor).
Ini meliputi segala sesuatu yang
berhubungan dengan kelengkapan atau peralatan hidup manusia sehari-hari demi
menunjang aktivitas kehidupan dan mencapai kesejahteraan. Peralatan dan
perlengkapan yang dimaksud meliputi pakaian, perumahan, alat-alat rumah tangga,
senjata, alat pabrik, alat transportasi.
2. Mata pencaharian hidup dan sistem-sistem
ekonomi (pertanian, peternakan, sistem produksi, sistem distribusi).
Segala sesuatu yang berkenaan dengan
perekonomian dan mata pencaharian diantaranya alat-alat pertanian, sistem jual
beli, cara bercocok tanam, sistem produksi, sistem distribusi, sistem
konsumsi).
3. Sistem kemasyarakatan (sistem kekerabatan,
organisasi politik, sistem hukum, sistem perkawinan).
Yaitu cara-cara perilaku manusia yang terorganisir secara sosial meliputi
sistem kekeraban, sistem komunitas, sistem pelapisan sosial, sistem politik.
4. Bahasa (lisan, tulisan).
Terdiri dari bahasa lisan, bahasa tertulis dan naskah kuno.
5. Sistem pengetahuan.
Meliputi teknologi dan kepandaian dalam hal tertentu, misalnya pada
masyarakat petani ada pengetahuan masa tanam, alat pertanian yang sesuai lahan,
pengetahuan yang menentukan proses pengolahan lahan.
6. Religi (sistem kepercayaan).
Berkenaan dengan agama dan
kepercayaan yang dianut dalam suatu masyarakat.
7. Kesenian.
Berkenaan
dengan hal-hal yang menurut etika dan estetika seperti: seni gambar, musik,
tari dan lainnya
3. Empat
pilar pendidikan menurut Jacques Delor dari UNESCO
a). Konsep learning to know menyiratkan makna bahwa pendidik harus mampu
berperan sebagai informator, organisator, motivator, diretor, inisiator,
transmitter, fasilitator, mediator, danevaluator bagi siswanya, sehingga
peserta didik perlu dimotivasi agar timbul kebutuhan terhadap informasi,
keterampilan hidup, dan sikap tertentu yang ingin dikuasainya. Yusak (2003)
mengatakan bahwa secara kreatif menguasai instrumen ilmu dan pemahaman yang
terus berkembang, umum atau spesifik, sebagai sarana dan tujuan , dan memungkinkan
terjadinya belajar sepanjang hayat.
b). Konsep learning to do menyiratkan bahwa siswa dilatih untuk sadar dan
mampu melakukan suatu perbuatan atau tindakan produktif dalam ranah kognitif,
afektif, dan psikomotor. Terkait dengan hal tersebut maka proses belajar-mengajar
perlu didesain secara aplikatif agar keterlibatan peserta didik, baik fisik,
mental dan emosionalnya dapat terakomodasi sehingga mencapai tujuan yang
diharapkan.
c). Konsep learning to live together merupakan tanggapan nyata terhadap
arus individualisme serta sektarianisme yang semakin menggejala dewasa ini.
Fenomena ini bertalian erat dengan sikap egoisme yang mengarah pada chauvinisme
pada peserta didik sehingga melunturkan rasa kebersamaan dan harga-menghargai.
Memahami, menghormati dan bekerja dengan orang lain, mengakui ketergantungan,
hak dan tanggungjawab timbal balik yang melibatkan partisipasi aktif warga,
tujuan bersama menuju kerekatan sosial, perdamaian dan semangat kerjasama demi
kebaikan bersama.
d). Konsep learning to be, perlu dihayati oleh praktisi pendidikan untuk
melatih siswa agar mampu memiliki rasa percaya diri (self confidence) yang
tinggi. Kepercayaan merupakan modal utama bagi siswa untuk hidup dalam
masyarakat. Pengembangan dan pemenuhan manusia seutuhnya yang terus “berevolusi”,
mulai dengan pemahaman diri sendiri, kemudian memahami dan berhubungan dengan
orang lain. Menguak kekayaan tak ternilai dalam diri.
Untuk itu semua, pendidikan di Indonesia harus diarahkan pada peningkatan kualitas kemampuan intelektual dan profesional serta sikap, kepribadian dan moral. Dengan kemampuan dan sikap manusia Indonesia yang demikian maka pada gilirannya akan menjadikan masyarakat Indonesia masyarakat yang bermartabat di mata masyarakat dunia.
Untuk itu semua, pendidikan di Indonesia harus diarahkan pada peningkatan kualitas kemampuan intelektual dan profesional serta sikap, kepribadian dan moral. Dengan kemampuan dan sikap manusia Indonesia yang demikian maka pada gilirannya akan menjadikan masyarakat Indonesia masyarakat yang bermartabat di mata masyarakat dunia.
4. a.
Makna, Sifat umum dan substansi budaya belajar
Konsep budaya
belajar bersumber dari konsep budaya, dalam hal ini, budaya tidak
dipandang sebagai gejala yang bersifat material baik yang berupa benda, orang,
tindakan, ataupun emosi, melainkan sesuatu yang bersifat abstrak yang terdapat
dalam pikiran manusia. Tegas kebudayaan diartikan sebagai keseluruhan
pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami dan
menginterpretasikan pengalaman lingkungannya serta menjadi kerangka landasan
untuk menciptakan dan mendorong terwujudnya kelakuan. Budaya
belajar juga dipandang sebagai model-model pengetahuan manusia
mengenai belajar yang digunakan oleh individu atau kelompok sosial untuk
menafsirkan benda – tindakan dan emosi dalam lingkungannya.
Sifat umum budaya belajar terbagi dalam empat bagian,
yakni
(a) budaya belajar dimiliki bersama;
(b) budaya belajar cenderung bertahan dan berubah;
(c) fungsi budaya belajar adalah untuk pemenuhan
kebutuhan hidup; dan
(d) budaya belajar diperoleh melalui proses belajar.
Substansi budaya belajar dapat dikategorikan dalam tiga bagian penting,
yakni :
a. Sistem pengetahuan budaya belajar
b. Sistem nilai budaya belajar dan sistem etos budaya belajar
c. Sistem pandangan hidup mengenai budaya belajar
Sistem pengetahuan budaya belajar, merupakan hasil akumulasi perolehan
pembelajaran sepanjang hidup lingkungannya, baik lingkungan sosial maupaun
lingkungan alam. Pengetahuan yang baik merupakan melakukan penyesuaian diri
dengan perubahan-perubahan. Ada 3 (tiga) cara manusia mendapatkan pengetahuan
belajar yang diperoleh dari penyesuaian diri dan lingkungan yaitu :
a. Melalui serangkaian pengalaman hidup tentang kehidupan yang dirasakan,
baik pengalaman dalam lingkungan alam atau sosial.
b. Melalui berbagai pengajaran yang diperolehnya baik melalui pembelajaran
dirumah, masyarakat, atau pendidikan di sekolah.
c. Melalui petunjuk-petunjuk yang bersifat simbolik.
Nilai budaya belajar dan ethos budaya belajar yang mempunyai kaitan dengan
sistem pengetahuan yang menyebabkan dirinya meyakini akan pentingnya nilai
pengetahuan belajar pada individu atau kelompok sosial faktor-faktor yang
mempengaruhi besarnya kepentingan nilai belajar adalah pengalaman dan orientasi
budaya di masa depan. Nilai budaya belajar akan berkaitan dengan jenis materi
belajar yang dipandang penting oleh suatu masyarakat. Dalam nilai budaya
belajar mengalami perkembangan. Perkembangan tersebut mengikuti pola perubahan
sosial budayanya.
Ethos budaya belajar merujuk pada penampilan watak dasar belajar melekat
pada individu atau kelompok suatu masyarakat. Watak dasar itu menjadi ciri
sekaligus identitas kelompok sosial. M.E Opler (1946) menyebutnya ethos sebagai
konfigurasi yang berisi keseluruhan bagian-bagian yang bersifat abstrak yang
bersumber dari sistem gagasan, pola-pola tindakan dari berbagai individu atau
kelompok masyarakat yang mengandung arti atau makna yang berbeda.
Ruth Benedict (1934), dalam suatu peneltian komparatifnya berhasil
mengungkapkan watak tiga kelompok masyarakat yakni masyarakat Indian Pueblo
Zuni dari negara bagian Colorado Amerika Serikat, masyarakat Dobu berada di
sebelah tenggara Papua Newgini dan masyarakat Kwakiuti yang terdapat di
kepulauan dekat pantai barat Kanada.
Pandangan hidup budaya belajar terbentuk atas dasar sistem pengetahuan,
nilai dan ethos budaya belajar yang dianut oleh masyarakat setempat. Sistem
pengetahuan belajar yang diperoleh dari lingkungan masyarakat dioperasikan
dalam bentuk sistem berfikir mengenai pengkategorisasian. Pandangan hidup
terlihatkan atas sikap terbuka atau tertutup. Terdapat kelompok masyarakat yang
menerima budaya belajar yang hanya cocok untuk lingkungannya dan menolak budaya
belajar yang tidak sesuai dengan lingkungan masyarakatnya.
b.
Budaya belajar sebagai sistem pengetahuan dan pola kelakuan manusia pada
masyarakat
Budaya belajar sebagai sistem pengetahuan menyiratkan,
bahwa budaya belajar dapat berfungsi sebagai pola bagi kelakuan manusia. Yang
menjadikan pola tersebut berfungsi sebagai blueprint atau pedoman hidup yang
dianut secara bersama. Budaya belajar juga dapat dipandang sebagai proses
adaptasi manusia dan lingkungannya, baik berupa lingkungan fisik maupun
lingkungan sosial. Sistem pengetahuan belajar digunakan untuk adaptasi dalam
kerangka untuk memenuhi tiga syarat kebutuhan hidup; yaitu : 1) Syarat dasar
alamiah, yang berupa kebutuhan biologis, 2) Syarat kewajiban, yaitu pemenuhan
kebutuhan akan perasaan tenang, jauh dari perasaan takut, keterkucilan,
kegelisahan dan berbagai kebutuhan untuk berhubungan dengan orang lain, dapat
melangsungkan hubungan, dapat mempelajari budaya, dapat mempertahankan diri
dari serangan musuh, dsb.
Bennet menjelaskan, bahwa adaptasi adalah upaya
menyesuaikan dalam arti ganda, yaitu manusia belajar menyesuaikan kehidupan
dengan lingkungannya atau sebaliknya manusia juga belajar agar lingkungan yang
dihadapi dapat disesuaikan dengan keinginan dan tujuannya. Kenyataan lain
menunjukan bahwa lingkungan dengan sumber dayanya memiliki
keterbatasan-keterbatasan, namun pada pihak lain kebutuhan manusia dalam rangka
memenuhi syarat dasar hidupnya setiap saat senantiasa mengalami peningkatan.
Implikasinya pada setiap pembelajaran baik individu maupun kelompok akan
memiliki pilihan strategis yang satu sama lain saling berbeda. Individu atau
kelompok pembelajar dengan pengetahuan belajarnya akan melihat permasalahan
adanya keterbatasan tersebut dengan cara merespon secara aktif. Permasalahan
yang berlangsung dilingkungan itu akan berusaha untuk diatasi dengan
pembelajaran. Kemampuan budaya belajar individu atau kelompok sosial
keadaftipannya ditujukan untuk memecahkan berbagai persoalan yang timbul
dilingkungannya.
No comments:
Post a Comment