Perubahan Dan Fenomena Sosial
Logis sekali
kalau contoh-contoh penerimaan perubahan paling besar bila unsur perubahan itu
merupakan akibat dari kebutuhan di dalam masyarakat itu sendiri. Ini dapat
merupakan usaha suatu masyarakat, untuk beradaptasi secara ekonomis dengan
revolusi teknologi yang melanda seluruh dunia, meskipun dampak perubahan itu
mungkin terasa dalam masyarakat seluruhnya. Perubahan peranan wanita di Afrika,
atau sebenamya juga di Amerika Serikat, dapat dianggap sebagai contoh perubahan
seperti itu. Akan tetapi, perubahan sering dipaksakan dari luar kebudayaan,
biasanya oleh kolonialisme melalui penaklukan.
Perubahan
kebudayaan selain terjadi karena adanya mekanisme perubahan seperti yang telah
dijelaskan di atas, bisa juga terjadi karena adanya perubahan secara paksa.
Bentuk-bentuk perubahan kebudayaan secara paksa adalah kolonialisme.
Penaklukan, pemberontakan dan revolusi. Kolonilasme dan penaklukan biasanya
ditandai oleh kemenangan militer Negara penjajah/penakluk dan pemindah tanganan
kekuasaan politik tradisional ke tangankolonial/penakluk. Penduduk asli yang
ditaklukkan tidak mampu menolak perubahan yangdipaksakan. Kegiatan-kegiatan
tradisional di bidang ekonomi, politik, agama, sosial dibatasi dan dipaksa
untuk melakukan kegiatan-kegiatan baru yang cenderung mengisolasikan individu
dan merusak integrasi sosialnya. Perubahan kebudayaan secara paksa melalui
kolonialisme dan penaklukan terjadi pada abad ke-19 sampai awal abad ke-20.
Politik kolonilalisme dikembangkan oleh negara-negara, seperti Belanda,
Portugal, Inggris, Perancis,Spanyol dan Amerika serikat.Tidak mengherankan jika
unsur-unsur budaya negara penjajahsampai sekarang masih ditemukan dan
diterapkan di negara-negara bekas jajahan. Unsur-unsur bahasa, agama, system
politik negara colonial dapat ditemukan di negara bekas jajahannya.
Apabila
kolonialisme dan penaklukan merupakan bentuk perubahan kebudayaan secara paksa
yang berasal dari luar, maka pemberontakan dan revolusi dapat timbul dari dalam
masyarakat itu sendiri. Pemberontakan dan revolusi muncul karena
kondisi-kondisi yang dianggap kurang menguntungkan bagi sebagian besar
masyarakat. Kondisi yang dimaksud bisa berupa ketidak adilan dalam distribusi
(kekayaan/material dan kekuasaan), munculnya perasaan benci pada kelompok yang
dianggap sebagai penindas dan hilangnya kepercayaan penguasa. Menurut Haviland
(1988: 268) terdapat lima kondisi sebagai pencetus timbulnya pemberontakan dan
revolusi, yaitu: (1) hilangnya kewibawaan pejabat-pejabat yang kedudukan-nya
mantap, sering sebagai kegagalan politik luar negeri, kesulitan keuangan, pemecatan
menteri yang popular, atau perubahan kebijakan yang popular, (2) Bahaya
terhadap kemajuan ekonomi yang baru dicapai. Di Perancis dan Rusia, golongan
penduduk, golongan profesi dan pekerja di kota-kota yang nasib ekonominya
mengalami perbaikan sebelumnya, tertimpa oleh kesulitan-kesulitan yang tidak
terduga-duga, seperti tajamnya kenaikan pangan dan pengangguran, (3) Ketidak
tegasan pemerintah, seperti kebijaksanaan yang tidak konsisten. Pemerintah yang
demikian itu kelihatannya seperti dikendalikan dan tidak mengendalikan
peristiwa, (4) Hilangnya dukungan dari kelas cendekiawan. Kehilangan seperti
itu oleh pemerintah-pemerintah prarevolusi di Perencis danRusia menyebab-kan
pemerintah kehilangan dukungan falsafahnya, yang menyebabkan mereka kehilangan
popularitas dilingkungan cendekiawan, (5) Pemimpin atau kelompok pemimpin yang
memiliki kharisma cukup besar untuk menggerak kan sebagian besar rakyat
,melawan pemerintah.
Kelima kondisi
di atas dapat dijadikan sebagai acuan untuk menganalisis perubahan kebudayaan
melalui pemberontakan dan revolusi yang terjadi di Indonesia pada tahun
1997-1998 (masa reformasi). Pada saat itu Presiden Soeharto, kabinet serta
kroninya sudah kehilangan kewibawaan di mata rakyatnya, karena dianggap gagal
membenahi persoalan ekonomi politik yang terjadi. Tingkat inflasi yang tinggi,
korupsi, kolusi dan nepotisme yang merajalela mengakibatkan kehidupan rakyat
semakin sengsara. Rakyat semakin tidak percaya dengan rezim orde baru. Kalangan
cendekiawan dan akademisi mulai mencabut dukungannya serta menuntut untuk
segera mundur. Munculnya pemimpin informal yang kharismatik, seperti Amin Rais,
Gus Dur, Megawati Soekarnoputri, Hamengkubuwono X yang memiliki pengaruh
besar untuk menggerakkan rakyat. Dimotori oleh gerakan mahasiswa dan didukung
oleh pemimpin karismatik, akhirnya terjadilah perubahan besar-besaran
diIndonesia yang diawali dengan mundurnya Soeharto dari jabatan Presiden pada
21 Mei 1998.
Salah satu
produk sampingan kolonialisme adalah tumbuhnya antropologi terapan dan digunakannya
teknik dan pengetahuan antropologi untuk keperluan "praktis”. Dengan demikian,
tidak salah bila antropologi Inggris sering dipandang sebagai "hamba"
politik kolonial negara tersebut, karena mereka umumnya dipaksa menyediakan
informasi yangberguna untuk tetap mempertahankan kekuasaan pemerintahan
kolonial di daerah jajahannya. Di Amerika Serikat, para ahli antropologi dari
abad-19 sangat mendambakan kegunaan disiplin mereka, dan tidak jarang
mereka turun tangan membantu orang-orang Indian Amerika, tempat mereka bekerja.
Timbulnya
kebangkitan orang-orang Jepang untuk melawan tentara sekutu jugadisebabkan oleh
pengaruh dari para ahli antropologi dalam menentukan struktur pendudukanAmerika
Serikat. Eksperimen-eksperimen Amerika Utara yang dimaksudkan untuk memadu
kebudayaan kolonial dengan struktur pribumi dengan kekacauan yang sekecil
mungkin, jugatelah berhasil.Meskipun banyak di antara studi itu diakui memang
untuk kepentingan sandimiliter, akan tetapi itu semua juga bermanfaat untuk
program pengembangan ilmu pengetahuan.
Akan tetapi, seperti
yang tercermin dalam beberapa kepustakaan awal tentang hubungan antara
bangsa-bangsa Eropa dengan kelompok-kelompok penduduk asli, tidak mengandung
pengertian antropologis dan sering tidak ada perikemanusiaan sama
sekali.Pertemuan antara kolonialis dengan penduduk pribumi di beberapa tempat
sering mengakibatkan kematian besar-besaran, kesengsaraan yang memilukan, dan
keruntuhan komunitas atau yang lebih dikenal sebagai "kerusakan
kebudayaan" (culture crash).Keruntuhan tradisi komunitas seperti di atas
yang ditandai dengan terjadinya khaos atau ketidakstabilan sosial dan kecemasan
setiap individu, sering diikuti dengan terjadinya pendudukan kolonial.Ini sama
sekali tidak berarti, bahwa masyarakat tradisional itu tidak mengenal bentrokan
sebelum berhubungan dengan peradaban lain, tetapi berarti bahwa
pertentangan-pertentangan tersebut dapat diatasi melalui lembaga-lembaga
kebudayaanya.
No comments:
Post a Comment