1 Pengertian Autisme
Istilah Autisme baru diperkenalkan sejak tahun 1943 oleh Leo
Kanner. Autisme berasal dari kata auto yang berarti menyendiri, maka kita akan
mendapat kesan bahwa individu autisme itu seolah-olah hidup di dunianya
sendiri. Jadi, autisme merupakan suatu gangguan perkembangan yang kompleks
menyangkut komunikasi, interaksi sosial, kognisi, dan aktivitas imajinasi.
Indonesia mengenal masalah autisme sejak tahun 1977.
Gejala autisme mulai tampak sebelum anak berusia berusia
tiga tahun. Bahkan pada autisme infatil gejalanya sudah ada sejak lahir.
Seseorang baru dapat dikatakan termasuk kategori Autisme, bila ia memiliki
hambatan perkembangan dalam tiga sapek yaitu kualitas kemampuan interaksi
sosial dan emosional, kualitas yang kurang dalam kemampuan komunikasi timbal
balik, minat yang terbatas disertai gerakan-gerakan tanpa tujuan. Gejala
tersebut harus sudah terlihat sebelum usia tiga tahun. Mengingat bahwa tiga
aspek tersebut terwujud dalam bentuk yang berbeda, maka dapat disimpulkan bahwa
autisme merupakan sekumpulan gejala klinis yang dilatar belakangi oleh berbagai
faktor yang sangat bervariasi, berkaitan satu sama lain dan unik karena tidak
sama untuk masing-masing kasus.
2. Penyebab Anak Autisme
1. Ibu yang dingin
Teori ini mengatakan bahwa sikap ibu yang dingin terhadap
kehadiran anaknya menyebabkan anak masuk kedalam dunianya sendiri sehingga ia
menjadi autisme. Namun ternyata anak yang mendapat kasih sayang dan perhatian
dari kedua orang tuanya terutama ibunya, menunjukan ciri-ciri autisme. Teori
tersebut tidak memberi gambaran secara pasti, sehingga hal ini mengakibatkan
penanganan yang diberikan kurang tepat bahkan tidak jarang berlawanan dan
berakibat kurang menguntungan bagi pekembangan individu autisme.
2. Lingkungan
Faktor lain penyebab autisme pada anak adalah lingkungan.
Ibu hamil yang tinggal di lingkungan kurang baik dan penuh tekanan, tentunya
berisiko pada janin yang dikandungnya. Selain itu lingkungan yang tidak bersih
juga dapat mempengaruhi perkembangan janin dalam kandungan.
3. Genetik
Lebih kurang 20% dari kasus-kasus autisme disebabkan oleh
faktor genetik. Penyakit genetic yang sering dihubungkan dengan autisme adalah
Tuberous Sclerosis (17-58%) dan syndrome fragile X (20-30%). Disebut Fragile-X
karena secara sito genetik penyakit ini ditandai oleh adanya kerapuhan
(fragile) yang tampak seperti patahan di ujung akhir lengan panjang kromosom X
4. Sindrom fragile X merupakan penyakit yang diwariskan secara X-linked (X
terangkai) yaitu melalui kromosom X. Pola penurunannya tidak umum, yaitu tidak
seperti penyakit dengan pewarisan X-linked lainnya karena tidak bisa
digolongkan sebagai dominan atau resesi, laki-laki dan perempuan dapat menjadi
penderita maupun pembawa sifat (carrier).
4. Usia orangtua
Makin tua usia orangtua saat memiliki anak, makin tinggi
risiko si anak menderita autisme. Penelitian yang dipublikasikan tahun 2010
menemukan, perempuan usia 40 tahun memiliki risiko 50 persen memiliki anak
autisme dibandingkan dengan perempuan berusia 20-29 tahun.
“Memang belum diketahui dengan pasti hubungan usia orangtua
dengan autisme. Namun, hal ini diduga karena terjadinya faktor mutasi gen,”
kata Alycia Halladay, Direktur Riset Studi Lingkungan Autismem Speaks.
5. Pestisida
Paparan pestisida yang tinggi juga dihubungkan dengan
terjadinya autisme. Beberapa riset menemukan, pestisida akan mengganggu fungsi
gen di sistem saraf pusat. Menurut Dr Alice Mao, profesor psikiatri, zat kimia
dalam pestisida berdampak pada mereka yang punya bakat autisme.
6. Obat-obatan
Bayi yang terpapar obat-obatan tertentu ketika dalam
kandungan memiliki risiko lebih besar mengalami autisme. Obat-obatan tersebut
termasuk valproic dan thalidomide. Thalidomide adalah obat generasi lama yang
dipakai untuk mengatasi gejala mual dan muntah selama kehamilan, kecemasan,
serta insomnia. Obat thalidomide sendiri di Amerika sudah dilarang beredar
karena banyaknya laporan bayi yang lahir cacat. Namun, obat ini kini diresepkan
untuk mengatasi gangguan kulit dan terapi kanker. Sementara itu, valproic acid
adalah obat yang dipakai untuk penderita gangguan mood dan bipolar disorder.
7. Perkembangan otak
Area tertentu di otak, termasuk serebal korteks dan
cerebellum yang bertanggung jawab pada konsentrasi, pergerakan dan pengaturan
mood, berkaitan dengan autisme. Ketidakseimbangan neurotransmiter, seperti
dopamin dan serotonin, di otak juga dihubungkan dengan autisme.
3 Karakteristik Anak Autisme.
Menurut Delay & Deinaker (1952), dan Marholin &
Philips (1976) gejala-gejala autisme yaitu :
1. Senang tidur bermalas-malasan atau duduk menyendiri
dengan tampang acuh, muka pucat, dan mata sayu dan selalu memandang kebawah.
2. Selalu diam sepanjang waktu.
3. Jika ada pertanyaan terhadapnya, jawabannya sangat pelan
dengan nada monoton, kemudian dengan suara aneh ia akan mengucapkan atau akan
menceriterakan dirinya dengan beberapa kata, kemudian diam menyendiri lagi.
4. Tidak pernah bertanya, tidak menunjukan rasa takut, tidak
punya keingginan yang macam-macam, serta tidak menyenangi sekelilingnya.
5. Tidak tampak ceria.
6. Tidak perduli terhadap lingkungannya, kecuali dengan
benda yang ia suka, misalnya boneka.
Sedangkan karakterisik yang tampak pada anak autisme dalam
buku Bimbingan Anak Berkebutuhan Khusus (Hidayat, dkk) yaitu :
1. Anak tampak seperti tuli, sulit berbicara, atau pernah
berbicara , tetapi kemudian sirna.
2. Anak tidak dapat mengikuti jalan pikiran orang lain,
kadang-kadang anak berperilaku menyakiti dirinya sendiri.
3. Anak tidak mempunyai empati dan tidak tahu apa reaksi
orang lain atas perbuatannya.
4. Pemahaman anak sangat kurang, sehingga apa yang ia baca
sukar dipahami. Misalnya dalam bercerita kembali dan soal berhitung yang
menggunakan kalimat.
5. Kadangkala anak mempunyai daya ingat yang sangat kuat,
seperti perkalian, kalender, dan lagu-lagu.
6. Dalam belajar mereka lebih mudah memahami lewat
gambar-gambar (visual learners)
7. Anak belum dapat bersosialisasi dengan teman sekelasnya,
seperti sukar bekerja sama dalam kelompok sebayanya, bermain peran dan
sebagainya.
8. Kesulitan mengekspresikan perasaanya, seperti : suka
marah, mudah frustasi bila tidak dimengerti dan dapat menimbulkan tantrum
(ekspresi emosi dalam bentuk fisik atau marah yang tidak terkendali).
9. Memperlihatkan prilaku stimulasi diri sendiri seperti
bergoyang-goyang, mengepakan tangan seperti burung, berputar-putar, mendekatkan
mata ke pesawat tv.
4 Masalah Anak Autisme di Sekolah
a. Perilaku
Adanya perilaku khas pada anak autisme seringkali membuat
para guru dan anak lain dikelas bingung. Perilaku tersebut sangat tidak wajar
dan cenderung mengalihkan perhatian. Keadaan anak yang cenderung “peka secara
berlebihan” (suara, sentuhan, irama) terhadap stimulus lingkungan juga kerap
membuat anak berperilaku tidak menyenagkan.
b. Pemahaman
Gaya berpikir mereka yang visual dalam bentuk film/gambar,
membuat reaksi mereka lebih lambat dari pada anak lain, dimana mereka
memerlukan jeda waktu sedikit lebih lama sebelum berespons. Mereka mengalami
kesulitan memusatkan perhatian apalagi dengan kelas yang begitu banyak siswa.
c. Komunikasi
Sebagian dari anak autisme, meskipun dapat berbicara
menggunakan kalimat pendek dengan kosa kata yang sederhana. Seringkali mereka
bisa mengerti orang lain tapi hanya bila orang tersebut berbica langsung kepada
mereka. Itu sebabnya kadang mereka tampak seakan tidak mendengar padahal
jelas-jelas kita memanggil mereka.
d. Interaksi
Anak autisme juga bermasalah pada perkembangan keterapilan
sosialnya, sulit berkomunikasi. Tidak mampu memahami aturan-aturan dalam
pergaulan, sehingga biasanya tidak memiliki banyak teman. Mereka hanya memiliki
1-2 teman yang dapat memberikan rasa aman kepada mereka.
5 Klasifikasi Anak Autisme
Dalam berinteraksi sosial anak autismetikdikelompokan atas 3
kelompok yaitu:
1. Kelompok Menyendiri
a. Terlihat menghindari kontak fisik dengan lingkungannya
b. Bertedensi kurang menggunakan kata-kata, dan
kadang-kadang sulit berubahmeskipun usianya bertambah lanjut. Dan meskipun ada
ada perubahan,mungkin hanya bisa mengucapkan beberapa patah kata yang sederhana
saja.
c. Menghabiskan harinya berjam-jam untuk sendiri, dan kalu
berbuat sesuatu,akan melakukannya berulang-ulang.
d. Gangguan perilaku pada kelompok anak ini termasuk
bunyi-bunyi aneh,gerakan tangan, tabiat yang mudah marah, melukai diri sendiri,
menyerangteman sendiri, merusak dan menghancurkan mainannya.
2. Kelompok Anak Autisme yang Pasif
a. Lebih bisa bertahan dengan kontak fisik, dan agak mampu
bermain dengan kelompok teman bergaul dan sebaya, tetapi jarang sekali mencari
teman sendiri.
b. Mempunyai perbendaharaan kata yang lebih banyak meskipun
masih agak terlambat bisa berbicara dibandingkan dengan anak sebaya.
c. Kadang-kadang malah lebih cepat merangkai kata meskipun
kadang-kadang pula dibumbui kata yang kurang dimengerti.
d. Kelompok pasif ini masih bisa diajari dan dilatih dibandingkan
dengan anak autisme yang menyendiri dan yang aktif tetapi menurut kemauannya
sendiri.
3. Kelompok Anak Autisme Yang Aktif Tetapi Menurutkemauannya
Sendiri
a. Kelompok ini seperti bertolak belakang dengan kelompok
anak autisme yangmenyendiri karena lebih cepat bisa bicara dan memiliki
perbendaharaan katayang paling banyak.
b. Meskipun dapat merangkai kata dengan baik, tetapi tetap
saja terselip kata-kata yang aneh dan kurang dimengerti.
c. Masih bisa ikut berbagi rasa dengan teman bermainnya.
d. Dalam berdialog, seringmengajukan pertanyaan dengan topik
yang menarik,dan bila jawaban tidak memuaskan atau pertanyaannya dipotong, akan
bereaksi sangat marah.
6 Mengenali Hambatan Anak Autisme
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah merumuskan suatu kriteria
yang harus dipenuhi untuk mendapat diagnosis autisme. Rumusan ini dipakai
diseluruh dunia, dan dikenal dengan sebutan ICD-10 (International
Classifikation of Diseases) 1993. Rumusan lain yang dipakai yaitu DSM-IV
(Diagnostic and Statistical Manual) 1994, yang dibuat oleh grup psikiatri dari
Amerika. Adapun isi dari ICD-10 dan DSM-IV sebenarnya sama.
Adapun kriteria DSM-IV untuk Autisme Masa Kanak :
1. Harus ada sedikitnya 6 gejala dari (1.1), (1.2) dan
(1.3), dengan minimal dua gejala dari (1.1) dan masing-masing satu gejala dari
(1.2) dan (1.3).
1.1 Gangguan kualitatiif dalam interaksi sosial yang timbal
balik. Minumal harus ada 2 gejala :
a. Tidak mampu menjalin interaksi sosial yang cukup memadai
: kontak mata sangat kurang, ekspresi muka kurang hidup, gerak gerik yang
kurang setuju.
b. Tidak bisa bermain dengan teman sebaya.
c. Tak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain.
d. Kurang adanya hubungan sosial dan emosional yang baik.
1.2 Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi seperti yang
ditunjukan oleh minimal satu dari gejala-gejala dibawah ini :
a. Bicara terlambat atau sama sekali tak berkembang ( tak
ada usaha untuk mengimbangi komunikasi dengan cara lain tanpa bicara)
b. Bila bisa bicara, bicaranya tidak dipakai untuk
komunikasi
c. Sering menggunakan bahasa aneh yang diulang-ulang
d. Cara berain kurang variatif, kurang imajinatif dan kurang
meniru
1.3 Suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dala
perilaku, minat dan kegiatan. Sedikitnya harus ada satu dari gejala dibawah ini
:
a. Mempertahankan satu minat atau lebih, dengan cara yang
sangat khas dan berlebih-lebihan.
b. Terpaku pada suatu kegiatan yang ritualistik atau
rutinitas yang tak ada gunanya.
c. Ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan diulang-ulang.
d. Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian benda.
2. Sebelum mur 3 tahun tampak adanya keterlambatan atau
gangguan dalam bidang :
(1) Interaksi sosial, (2) bicara dan bahasa, (3) cara
bermain yang kurang variatif.
3. Bukan disebabkan oleh Sindroma Rett atau Gangguan Disintegratif
Masa kanak.
Meskipun kriteria diagnosis telah dijabarkan dengan jelas
dalam ICD-10 maupun DSM-IV namun kesalahan diagnosis masih sering terjadi. Hal
ini disebabkan oleh karena seringnya terdapat gangguan atau penyakit lain yang
menyertai gangguan autisme ini, misalnya hiperaktivitas, epilepsi, retardasi
mental, sindroma Down, dan lain sebagainya.
7. Layananan Bimbingan Autisme
Layanan bimbingan bagi anak autisme, idealnya diberikan
dalam bentuk sekelompok penanganan untuk membantu mereka mengatasi kebutuhan
khususnya. Di Amerika Serikat, banyak bentuk-bentuk pendidikan yang tersedia,
antara lain (Siegel, 1996) :
a. Individual therapy, antara lain melalui penanganan
ditempat terapi atau dirumah (home based therapy dan kemudian homeschooling).
b. Designated Autismetic Classses. Salah satu bentuk
transisi dari penanganan individual dibentuk kelas klasikal, dimana sekelompok
anak yang semuanya autisme, belajar bersama-sama mengikuti jenis instruksi yang
khas. Anak-anak ini berada dalam kelompok yang kecil (1-3 anak) dan biasanya
merupakan anak-anak yang masih kecil yang belum mampu imitasi dengan baik.
c. Ability Grouped Classes. Anak-anak yang sudah dapat
melakukan imitasi, sudah tidak terlalu memerlukan penanganan one-on-one untuk
meningkatkan kepatuhan, sudah ada respons terhadap pujian, dan ada minat
terhadap alat permaian, memerlukan jenis lingkungan yang menyediakan teman
sebaya yang secara sosial lebih baik meski juga memiliki masalah perkembangan
bahasa.
d. Social skill Development and mixed Disability Classes.
Kelas ini terdiri atas anak dengan kebutuhan khusus, tetapi tidak hanya anak
autisme.
Bagaimana konsep pembelajaran untuk anak dengan berkebutuhan khusus yang lain ?
ReplyDeleteBagaimana konsep pembelajaran untuk anak dengan berkebutuhan khusus yang lain ?
ReplyDeleteTerima kasih atas perhatian dan pertanyaannya.
ReplyDeletePembelajaran untuk anak dengan berkebutuhan khusus yang lain akan kami sajikan pada artikel selanjutnya