A.
Pengertian GAKI
Gangguan Akibat Kekurang Yodium
(GAKI) adalah gejala yang timbul karena tubuh seseorang kekurangan yodium
secara terus menerus dalam jangka waktu yang cukup lama. GAKI merupakan salah
satu masalah kesehatan masyarakat yang serius mengingat dampaknya sangat besar
terhadap kelangsungan hidup dan kualitas sumber daya manusia.
Pada ibu hamil penderita GAKI
berat untuk kurun waktu lama (kronik), dampak buruk GAKI mulai terjadi pada
kehamilan trimester kedua tetapi masih dapat diperbaiki apabila segera mendapat
suplemen zat yodium. Apabila GAKI terjadi pada kehamilan tua (lebih dari
trimester kedua), dampak buruknya tidak dapat diperbaiki, artinya kelainan
fisik dan mental yang terjadi pada janin akan menjadi permanen sampai dewasa.
Dampak buruk pada janin dan bayi dapat berupa keguguran, lahir mati, lahir
cacat, kretin/cebol, kelainan psikomotor dan kematian bayi. Pada anak usia
sekolah dan orang dewasa GAKI dapat berakibat pembesaran kelenjar gondok, cacat
mental dan fisik.
Selama ini perhatian para pakar
terpusat pada GAKI tingkat berat, dan tingkat sedang, baru sekitar sepuluh
tahun belakang ini tertarik mengamati apa yang terjadi pada GAKI tingkat ringan
yang jumlahnya jauh lebih besar. Dampak buruk GAKI tingkat ringan ternyata
lebih mengejutkan. Pada tingkat ringan sudah terjadi kelainan perkembangan
sel-sel syaraf yang mempengaruhi kemampuan belajar anak yang ditunjukkan dengan
rendahnya IQ anak penderita GAKI. Perkembangan sel otak terjadi dengan pesat
pada janin dan anak sampai usia dua tahun, karena itu ibu hamil penderita GAKI
tingkat ringan dapat memberikan dampak buruk pada perkembangan syaraf motorik
dan kognitif janin yang berkaitan dengan perkembangan kecerdasan anak.
Untuk mengetahui masalah kurang
yodium, pemantauan besaran masalah dilakukan survei nasional. Pada tahun 1980
prevalensi GAKI pada anak usia sekolah adalah 27,7%,prevalensi ini menurun
menjadi 9,8% pada tahun 1988. Walaupun terjadi perubahan yang berarti, GAKI
masih dianggap masalah kesehatan masyarakat, karena secara umum prevalensi
masih di atas 5%. Tahun 2003 dilakukan lagi survei nasional, yang dibiayai
melalui Proyek Intensifikasi Penanggulangan GAKI (IP-GAKI), untuk mengetahui
dampak dari intervensi program penanggulangan GAKI.
Upaya pencegahan dan
penanggulangan GAKI, dapat dilakukan dengan menggunakan garam beryodium dalam
hidangan sehari-hari. Agar yodium yang terkandung di dalam garam tidak hilang
saat pemasakan, dianjurkan penambahan dilakukan saat masakan sudah matang dan
dalam keadaan dingin.
Upaya pencegahan dan
penanggulangan dilakukan dengan: Monitoring garam setiap Februari dan Agustus
di tingkat masyarakat; Penyuluhan kesehatan terutama mengenai GAKI, garam
beryodium, bahan makanan yang banyak mengandung zat yodium yang diperoleh dari
makanan berasal dari laut dan bahan makanan goitrogenik (penghambat penyerapan
yodium) seperti kol, singkong, jagung, rebung dan ubi jalar; Pemberian kapsul
minyak yodium untuk setiap kasus yng ditemukan, ibu hamil dan Wanita Usia
Subur; Pemetaan GAKI sebagai upaya pelacakan kasus GAKI di tingkat masyarakat.
Sebagai upaya dari kegiatan
tindak lanjut penanggulangan dan pencegahan GAKI adalah dengan meningkatkan
kerja sama dari berbagai sektor terkait, dalam melakukan pemantauan mutu garam
beryodium. Setiap upaya yahg ditujukan untuk kepentingan masyarakat, akan lebih
berhasil jika masyarakat secara aktif turut berperan serta.
Oleh karena itu, peran serta
masyarakat sangat diperlukan terutama dalam rangka meningkatkan kemampuan
masyarakat untuk dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan.
Dari hasil survei ini diketahui
secara umum bahwa Total Goitre Rate (TGR) angka prevalensi gondok yang dihitung
berdasarkan seluruh stadium pembesaran kelenjar gondok, baik yang teraba maupun
yang terlihat pada anak sekolah berkisar 11,1%.
B. Faktor
– Faktor Yang Berhubungan Dengan Masalah GAKI
Faktor – Faktor yang berhubungan dengan masalah GAKI antara
lain:
1. Faktor Defisiensi Iodium dan
Iodium Excess
Defisiensi iodium merupakan sebab
pokok terjadinya masalah GAKI. Hal ini disebabkan karena kelenjar tiroid
melakukan proses adaptasi fisiologis terhadap kekurangan unsur iodium dalam
makanan dan minuman yang dikonsumsinya (Djokomoeldjanto, 1994).
Hal ini dibuktikan oleh
Marine dan Kimbell (1921) dengan pemberian iodium pada anak usia sekolah di
Akron (Ohio) dapat menurunkan gradasi pembesaran kelenjar tiroid. Temuan
lain oleh Dunn dan Van der Haal (1990) di Desa Jixian, Propinsi Heilongjian
(Cina) dimana pemberian iodium antara tahun 1978 dan 1986 dapat
menurunkan prevalensi gondok secara drastic dari 80 % (1978) menjadi 4,5 %
(1986).
Iodium Excess terjadi apabila
iodium yang dikonsumsi cukup besar secara terus menerus, seperti yang dialami
oleh masyarakat di Hokaido (Jepang) yang mengkonsumsi ganggang laut dalam
jumlah yang besar. Bila iodium dikonsumsi dalam dosis tinggi akan terjadi
hambatan hormogenesis, khususnya iodinisasi tirosin dan proses coupling
(Djokomoeldjanto, 1994).
2. Faktor Geografis dan Non
Geografis
Menurut Djokomoeldjanto (1994)
bahwa GAKI sangat erat hubungannya dengan letak geografis suatu daerah,
karena pada umumnya masalah ini sering dijumpai di daerah pegunungan seperti
pegunungan Himalaya, Alpen, Andres dan di Indonesia gondok sering dijumpai di
pegunungan seperti Bukit Barisan Di Sumatera dan pegunungan Kapur
Selatan.
Daerah yang biasanya mendapat
suplai makanannya dari daerah lain sebagai penghasil pangan,
seperti daerah pegunungan yang notabenenya merupakan daerah yang miskin kadar
iodium dalam air dan tanahnya. Dalam jangka waktu yang lama namun
pasti daerah tersebut akan mengalami defisiensi iodium atau daerah
endemik iodium (Soegianto, 1996 dalam Koeswo, 1997).
3. Faktor Bahan Pangan Goiterogenik
Kekurangan iodium merupakan
penyebab utama terjadinya gondok, namun tidak dapat dipungkiri bahwa faktor
lain juga ikut berperan. Salah satunya adalah bahan pangan yang
bersifat goiterogenik (Djokomoeldjanto, 1974). Williams (1974) dari
hasil risetnya mengatakan bahwa zat goiterogenik dalam bahan makanan yang
dimakan setiap hari akan menyebabkan zat iodium dalam tubuh tidak
berguna, karena zat goiterogenik tersebut merintangi absorbsi dan metabolisme
mineral iodium yang telah masuk ke dalam tubuh.
Giterogenik adalah zat yang dapat
menghambat pengambilan zat iodium oleh kelenjar gondok, sehingga konsentrasi
iodium dalam kelenjar menjadi rendah. Selain itu, zat goiterogenik dapat
menghambat perubahan iodium dari bentuk anorganik ke bentuk organik sehingga
pembentukan hormon tiroksin terhambat (Linder, 1992).
Menurut Chapman (1982) goitrogen
alami ada dalam jenis pangan seperti kelompok Sianida (daun + umbi singkong ,
gaplek, gadung, rebung, daun ketela, kecipir, dan terung) ; kelompok Mimosin
(pete cina dan lamtoro) ; kelompok Isothiosianat (daun pepaya) dan
kelompok Asam (jeruk nipis, belimbing wuluh dan cuka).
4. Faktor Zat Gizi Lain
Defisiensi protein dapat
berpengaruh terhadap berbagai tahap pembentukan hormon dari kelenjar thyroid
terutama tahap transportasi hormon. Baik T3 maupun T4 terikat oleh
protein dalam serum, hanya 0,3 % T4 dan 0,25 % T3 dalam keadaan bebas. Sehingga
defisiensi protein akan menyebabkan tingginya T3 dan T4 bebas, dengan
adanya mekanisme umpan balik pada TSH maka hormon dari kelenjar thyroid
akhirnya menurun.
C. Kretin
1. Pengertian kretinisme
Syndrom kretin adalah suatu
syndrom yang disebabkan oleh karena kekurangan Iodine dan thyroid hormon
yang terjadi pada permulaan kehamilan atau kekurangan Iodine dan thyroid hormon
pada umur yang sangat muda. Syndrom kretin ini mempunyai gejala-gejalayang
sangat kompleks dan bennacam-macam manifestasinya. Kita sering mendengar
istilah-istilah serta pembagian-pembagian yang digunakan pada penderita kretin,
diantaranya kretin endemik dan kretin sporadik. Dua macam kretin tersebut
sepintas lalu sama; yaitu sama-sama menderita kretin, tetapi dari keduanya sangat
banyak perbedaan-perbedaan symtomatologinya.
Menurut Djokomoeljanto (1996)
kretin adalah seseorang yang lahir di suatu daerah dengan defisiensi iodium
berat dengan menunjukkan 2 atau lebih kombinasi gejala ireversibel yaitu
retardasi mental, kelainan neuromotorik (gangguan bicara, cara berjalan yang
khas, reflek patologis dan reflek fisiologis meninggi, mata juling, gangguan
akibat kerusakan batang otak serta late walker) dan gangguan pendengaran.
Kretinisme adalah suatu kelainan
hormonal pada anak-anak yang terjadi akibat kurangnya hormon tiroid . Penderita
kelainan ini mengalami kelambatan dalam perkembangan fisik maupun mental.
Kretinisme adalah perawakan pendek pada anak-anak akibat kurangnya hormon
tiroid dalam tubuh.
Kretinisme juga merupakan gejala
kekurangan iodium di intrauterin pada masa awal setelah bayi di lahirkan.
Biasanya terjadi pada daerah gondok endemic. Pertumbuhan bayi tersebut sangat
terhambat, wajahnya kasar dan membengkak, perut kembung dan membesar. Kulitnya
menjadi tebal dan kering dan seringkali mengeriput, lidahya membesar dan
bibirnya tebal dan selalu terbuka.
Pada Negara seperti Zaire,
kretinisme terjadi akibat konsumsi ubi kayu yang tinggi. Bahkan uji kontrol di
papua nugini membuktikan bahwa kretinisme dapat dicegah dengan pemberian minyak
beryodium sebelum hamil.
2. Jenis-jenis kretinisme
a. Kretin
sporadic
Kretin sporadik atau dikenal juga
sebagai hipotiroid kongenital berbeda dengan kretin endemik. Etiologi kretin
sporadik bukan karena defisiensi yodium tetapi kelenjar tiroid janin yang gagal
dlam memproduksi hormon tiroid secara cukup karena berbagai macam sebab.
Kretin Sporadik Ialah terdapatnya
penderita-penderita kretin pada daerah yang bukan endemik goiter (daerah gondok
endemik). Jadi pada penderita kretin sporadik tidak pernah terjadi kekurangan
Iodine sejak mulai hidupnya, tetapi terjadi gangguan faal dari glandula
thyroid.
Menurut Krupp-chatton (1973)
dikatakan bahwa penderita kretin sporadik akan terdapat glandula thyroid yang
mengalami rudimenter. Jadi pada penderita kretin sporadic ini yang sangat jelas
dan menonjol adalah gejala-gejala hypothyroidisme.
b. Kretin endemic
Menurut Djokomoeljanto (1974)
terjadinya kretin endemik disebabkan oleh karena kekurangan lodine selama
kehamilan dan saat-saat berikutnya, tetapi tak selalu menyebabkan
hypothyroidisme post—natal. Umumnya terdapat di daerah gondok endemik. Ini
berarti bahwa selama dalam kandungan anak telah mengalami cidera dan setelah
lahir anak tersebut dapat saja mempunyai hormon thyroid yang cukup untuk
pertumbuhan selanjutnya. Cidera di dalam kandungan ini dapat menyebabkan
gangguan neurologik yang lebih luas misalnya : paresis, mata juling, gangguan
waktu berjalan dan sebagainya.
Kretin endemik adalah istilah
gabungan untuk beberapa perkembangan yang abnormal, yang secara geografik
kebetulan bersamaan dengan adanya gondok endemik dan disebabkan oleh laesi yang
didapat sebelum atau segera sesudah kelahiran. Lebih tepat didefinisikan
sebagai ekses dari kelainan- kelainan yang ditemukan pada populasi gondok yang
tidak mendapat pencegahan yang cukup terhadap gondok. (Symposium Penyakit
Kelenjar Gondok 1975). Syndrom kretin endemik dapat dikenal dari dua komponen
utama.
1). Type nervosa.
Terdapat kerusakan pada susunan saraf pusat yang terdiri dari : Retardasi
mental, Gangguan pendengaran type perseptiv (tuli saraf), Kerusakan batang
otak, dan Retardasi neuromotorik.
2). Type myxoedema.
Pada type ini yang paling menyolok adalah tanda-tanda hypothyroid, yang
berupa: Gangguan pertumbuhan, Myxoedematosa, Rambut kering dan kasar, Tonus
otot yang lembek, Penimbunan lemak di pangkal leher, sehingga leher kelihatan,
lebih pendek, Perut buncit dan sering terdapat Hernia Umbilicalis
No comments:
Post a Comment