BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Akhir-akhir ini para ahli banyak sekali
mengamati adanya kecenderungan kasus meningkatnya masalah belajar anak yang
berhubungan dengan rentang konsentrasi. Para guru sendiri banyak mengeluh bahwa
rata-rata di kelasnya ada anak dengan gangguan konsentrasi yang jelas
mengganggu proses belajar-mengajar di kelas, di samping menjadi tugas tambahan
bagi guru untuk memberikan ekstra perhatian pada anak yang bersangkutan.
Ciri-ciri yang sangat mudah dikenali
untuk anak dengan gangguan pemusatan perhatian adalah tidak mampu menyaring
rangsang yang datangnya dari luar. Justru rangsang-rangsang yang tidak
berkaitan dengan aktivitas yang sedang dikerjakan mudah sekali menarik
perhatiannya, misalnya orang mengetuk pintu, bunyi bel, teman bertanya dan
sebagainya. Biasanya gangguan pemusatan perhatian ini akan berdampak pada
prestasi belajar anak yang rendah karena tentu saja ini berkaitan dengan
konsentrasi dalam menyerap pelajaran di sekolah.
Memang banyak orangtua dan guru yang
merasa tertekan dan mencemaskan masa depan anak, apabila memiliki atau
menghadapi anak seperti ini. Selain karena tuntutan lingkungan yang nampak
berlebihan dan kurang memahami kondisi anak, kesan kurang dapat diatur,
semaunya sendiri bahkan mengganggu aktivitas belajar di sekolah seringkali
dikeluhkan.
Jika anak dengan gangguan konsentrasi ini
tetap tidak ditangani, gejalanya juga dapat mempengaruhi kehidupan akademik,
sosial dan emosional dan juga perkembangan tingkah laku anak. Pengaruh negatif
juga bias berdampak bagi keluarganya, misalnya adalah orang tuanya akan
mengalami tingkat stress yang lebih tinggi, menyalahkan diri sendiri, isolasi
sosial, depresi, dan lain-lain.
Untuk itulah dibutukan suatu penanganan
secara diri untuk membantu anak-anak yang mengalami gangguan konsentrasi ini.
Sehingga dengan demikian, diharapkan anak dapat memaksimalkan potensi diri dan
meningkatkan prestasinya.
B.
Tujuan
Kegiatan bimbingan konseling untuk anak
usia dini ini dilakukan sebagai pembelajaran bagi kami, agar para mahasiswa
mendapatkan pembelajaran langsung dengan melakukan praktek bimbingan konseling
khususnya untuk anak dengan gangguan konsentrasi.
C.
Manfaat
Adapun manfaat pembuatan makalah ini agar
dapat menambah wawasan bagi penulis mengenai bimbingan konseling bagi anak usia
dini dengan permasalahan gangguan konsentrasi pada anak usia dini.
BAB II
BIMBINGAN KONSELING DI LEMBAGA PAUD
Program bimbingan dan konseling di lembaga PAUD merupakan program bimbingan
yang bermanfaat secara positif, tidak sekadar reaktif dan korektif. Terlebih
lagi, jika program bimbingan ini bersifat kontinu, berkelanjutan, dan
terus-menerus, mulai dari PAUD hingga perguruan tinggi, bahkan sampai di masyarakat.
Tentu, hasilnya akan jauh lebih baik daripada bimbingan yang sifatnya
eksidental semata.
Petualangan pencarian jati diri anak didik harus dimulai sejak dini atau di
lembaga PAUD. Sebab, penemuan dan pemahaman akan dirinya sendiri akan sangat
membantu mereka dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan-lingkungan baru yang
akan dihadapi. Di samping itu, penemuan jati diri atau kepribadian anak didik
dapat membantu mereka dalam mengembangkan bakat, minat, dan potensinya.
Perlu ditegaskan di sini bahwa bimbingan dan konseling di lembaga PAUD
tidak hanya diberikan kepada mereka yang mempunyai perilaku bermasalah,
melainkan juga harus diberikan kepada mereka yang sedang dalam proses
pertumbuhan dan perkembangan. Dengan demikian, konseling bukan hanya untuk
mengatasi perilaku bermasalah pada anak didik, melainkan juga tindakan untuk
memenuhi kebutuhan tumbuh kembangnya anak secara maksimal. Pandangan ini
menitik beratkan pada bimbingan yang bersifat preventif, kesehatan mental, dan
pengembangan diri daripada bimbingan yang menitik beratan pada psikoterapi
maupun diagnosis terhadap perilaku bermasalah.
Terlebih lagi, ketika para psikolog telah menyadari betapa pentingnya
melakukan identifikasi sejak dini terhadap perilaku bermasalah pada anak-anak.
Dengan melakukan identifikasi ini, diharapkan anak-anak di masa depan tidak
lagi mengalami hambatan dalam belajarnya, terlebih lagi gangguan pada
mentalnya.
Momen yang paling tepat untuk melakukan tindakan identifikasi ini adalah pada masa-masa awal usia dini atau di lembaga PAUD.
Momen yang paling tepat untuk melakukan tindakan identifikasi ini adalah pada masa-masa awal usia dini atau di lembaga PAUD.
BAB III
PERMASALAHAN
ANAK USIA DINI
“GANGGUAN
KONSENTRASI”
A.
Definisi
Gangguan Konsentrasi
Gangguan konsentrasi tergolong ke dalam
salah satu jenis gangguan ADHD, singkatan dari Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau dalam bahasa
Indonesia Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH). Suatu kondisi
yang juga dikenal sebagai Attention
Deficit Disorder (Sulit memusatkan perhatian).
Gangguan Pemusatan Perhatian (Attention Deficit Disorder/ADD) adalah
suatu pemusatan perhatian yang buruk atau singkat dan sifat impulsif (mengikuti
kata hati) yang tidak sesuai dengan usia anak. ADD terutama merupakan suatu masalah dalam pemusatan
perhatian, konsentrasi dan ketekunan menjalankan tugas. Anak juga mungkin
bersifat impulsif dan hiperaktif.
Pola perhatian anak terhadap suatu hal
terbagi menjadi beberapa klasifikasi. Kelompok yang paling berat adalah over exklusif dimana seorang anak hanya
terfokus pada sesuatu yang menarik perhatiannya tanpa mempedulikan hal lain
secara ekstrim (misalnya pada bayi yang sedang memperhatikan kancing bajunya
dan tidak mempedulikan rangsangan lain). Pola ini disebut autisme.
Kelompok dengan derajat sedang biasanya
fokus perhatian anak mudah teralihkan. Perhatian hanya mampu bertahan beberapa
saat saja oleh suatu rangsangan lain yang mungkin tidak adekuat. Hal ini
dinamakan kesulitan perhatian (Attention
Deficit Disorder). Kondisi normal adalah pola yang paling baik karena anak
mampu memperhatikan sesuatu dan mengalihkannya terhadap yang lain pada saat
yang tepat tanpa kehilangan daya konsentrasi, pola ini merupakan pola normal
perkembangan mental anak secara matang.
B. Gejala Gangguan Konsentrasi
ADD adalah terutama bermasalah pada
perhatian terus menerus, konsentrasi, dan ketetapan tugas (kemampuan untuk
menyelesaikan tugas). Anak juga mungkin terlalu aktif dan gegabah.
Gejala Gangguan Pemusatan Perhatian
biasanya muncul pada usia 3 tahun, tetapi diagnosis umumnya belum bisa
dipastikan sampai anak masuk sekolah, misalnya playgrup atau taman kanak-kanak.
Ciri-ciri utama ADD adalah kurangnya perhatian, cirri ini menjadi syarat mutlak
untuk diagnosis dan haruslah nyata ada pada lebih dari satu situasi (misalnya
di rumah, di kelas, di klinik).
Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual for Mental Disorder IV (DSM IV)
seorang anak bisa dikatakan mengalami gangguan pemusatan perhatian/konsentrasi
jika memiliki minimal enam (atau lebih) gejala-gejala inatensi berikut yang
menetap dan telah berlangsung sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan dan tidak
sesuai dengan tingkat perkembangan anak berikut :
1.
Sering gagal untuk memberikan perhatian yang
baik terhadap hal-hal yang rinci atau sering melakukan kesalahan yang tidak
seharusnya/ceroboh terhadap pekerjaan sekolah, bermain atau aktivitas-aktivitas
lainnya
2.
Seringkali mengalami kesulitan untuk
mempertahankan perhatian dalam melakukan tugasnya atau dalam kegiatan bermain.
3.
Seringkali tampak tidak mendengarkan (acuh) pada
waktu diajak berbicara
4.
Seringkali tidak mampu mengikuti aturan atau
instruksi dan gagal dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah, kegiatan
sehari-hari atau saat bermain
5.
Seringkali mengalami kesulitan dalam
mengorganisasikan/mengatur tugas atau aktivitas-aktivitasnya
6.
Seringkali menghindar, tidak suka atau menolak
mengikuti kegiatan-kegiatan yang memerlukan konsentrasi yang lama seperti dalam
mengerjakan tugas-tugas sekolah
C.
Penyebab
Gangguan Konsentrasi
Penyebab pasti gangguan pemusatan
perhatian/konsentrasi masih belum terungkap secara jelas. Banyak faktor yang
dianggap sebagai penyebab gangguan ini, diantaranya adalah faktor genetik,
perkembangan otak saat kehamilan, perkembangan otak setelah kelahiran, tingkat
kecerdasan (IQ), terjadinya disfungsi metabolisme, ketidakteraturan hormonal,
lingkungan fisik, sosial dan pola pengasuhan anak oleh orang tua, guru dan
orang-orang yang berpengaruh di sekitarnya.
BAB
IV
SOLUSI
DAN PEMBAHASAN
Dari observasi yang dilakukan, kasus ini
memperlihatkan berbagai gejala gangguan pemusatan perhatian, dengan kriteria-kriteria
sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya pada bab sebelumnya.
Penanganan terhadap anak penderitan ADD
tentulah tidak bisa dilakukan semata oleh guru saja, karena penanganan yang
ideal sebenarnya haruslah bersifat holistik dan menyeluruh. Penanganan yang
baik terhadap gangguan konsentrasi harus melibatkan multi disiplin ilmu yang
dilakukan antara dokter, orang tua, guru dan lingkungan yang berpengaruh
terhadap penderita secara bersama-sama.
Dalam studi kasus kali ini beberapa
bentuk treatment/layanan yang penulis lakukan untuk mengatasi kasus ini adalah
:
a.
Mendorong orang tua agar melakukan konsultasi
mengenai anaknya kepada tenaga ahli (dokter anak atau dokter psikiatri)
b.
Mengingatkan orang tua untuk mengatur pola makan
anak dengan cara menghindari makanan dan minuman dengan kadar gula dan
karbohidrat yang tinggi.
c.
Mengatur posisi duduk anak agar tidak berada
dekat dengan jendela, gambar-gambar,atau hal-hal lain yang dapat mengganggu
konsentrasinya.
d.
Menyingkirkan perlengkapan yang tidak diperlukan
di meja belajar anak, supaya perhatiannya tidak pecah
e.
Memberitahukan orang tuanya agar menyediakan
tempat belajar yang tenang, jauh dari televisi atau musik keras
f.
Membantu anak dalam hal mengontrol dan mengatur
waktunya. Cara yang dilakukan dengan menggunakan bantuan jam weker misalnya,
kepada anak dikatakan: “Kamu akan mengerjakan hal ini selama 15 menit sampai
weker ini bordering lalu berhenti dulu 5 menit dan kamu boleh mengerjakan apa
yang kamu sukai (misalnya bermain mobil-mobilan atau puzzle). Setelah itu mulai
lagi. Seiring dengan kondisinya sedikit demi sedikit ditambah waktu untuk
melatih rentang konsentrasinya.
g.
Menghindarkan penggunaan kalimat-kalimat
negatif, sindiran dan kecaman seperti “Dasar malas! “Tuh berantakan lagi kan?!”
“Pasti deh, nggak selesai lagi”
Mengatasi anak dengan gangguan
konsentrasi tentunya tidak semudah membalik telapak tangan. Diperlukan proses
yang membutuhkan kesabaran dan penanganan dari tenaga ahli seperti dokter anak
atau dokter psikiatri. Namun demikian dari serangkaian treatment/bimbingan yang
diberikan, anak sudah menunjukkan suatu perubahan positif seperti Anak sudah
bisa memusatkan perhatian sedikit lebih lama dari sebelumnya ketika melakukan
suatu permainan (seperti misalnya pada saat bermain balok-balok susun).
BAB
V
KESIMPULAN
Gangguan konsentrasi bukan merupakan
penyakit tetapi merupakan gejala penyimpangan perkembangan anak. Gangguan
konsentrasi atau inatensi atau
kurangnya pemusatan perhatian dapat dilihat dari kegagalan seorang anak dalam
memberikan perhatian secara utuh terhadap sesuatu, mudah sekali beralih
perhatian dari satu hal ke hal lainnya. Kualitas konsentrasi anak terhadap
suatu hal terbagi menjadi beberapa kategori.
Gejala gangguan konsentrasi diantaranya
meliputi : (1) sering mengalami kegagalan dalam memberikan perhatian penuh pada
hal tertentu dan kecerobohan pada tugas-tugas sekolah, (2) mengalami kesulitan
dalam memusatkan perhatian pada tugas atau kegiatan bermain, (3) tidak bisa
berkonsentrasi dalam percakapan, (4) tidak
bisa mengikuti perintah dan sering gagal menyelesaikan tugas-tugas yang
diberikan di sekolah, (5) sering menyela atau mengganggu teman yang sedang
bermain.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Attention
Deficit Hyperactivity Disorder (ADD, ADHD) http://medicastore.
Com/penyakit_subkategori/19/Attention_ Deficit Hyperactivity_Disorder_ADD_ADHD.
Html
Arcaro,
Jerome S. Pendidikan Berbasis Mutu.
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2007)
Direktorat
PAUD. Acuan Menu Pembelajaran Pada
Pendidikan Anak Usia Dini (Menu Pembelajaran Generik). (Jakarta: Depdiknas
Press. 2002)
Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Besar
Bahasa Indonesia. (Jakarta: Balai Pustaka 1990).
Fitriana. Gangguan
Konsentrasi dan Hiperaktifitas Pada Anak. http://www.mitranetra.or.id.
Imam
Musbikin. Mendidik Anak Kreatif Ala
Einstein. (Yogyakarta: Mitra Pustaka. 2006)
Latipun.
Psikologi Konseling. (Malang: UMM
2006).
Shapiro,
Lawrence E. Mengajarkan Emosional
Intellegence pada Anak. (Jakarta: Gramedia. 2003)
Suryadi, 2007. Cara
efektif memahami perilaku Anak Usia Dini.
Singgih D. Gunarsa.1978. Psikologi Anak Bermasalah. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Tanaya Vidia Maharani. Gangguan Pemusatan Perhatian. http://www.naya.web.id/2007/01/31/gangguan-pemusatan-perhatian.html.
Jasa
Ungguh M. Manajemen Playgroup dan Taman
Kanak-Kanak. (Yogyakarta: Diva Press. 2009)
Wina
Sanjaya. Strategi Pembelajaran
Berorientasi Standar Proses Pendidikan. (Jakarta: Kencana. 2009)
Winarno Surakhmad. Pengantar
Interaksi Mengajar Belajar: Dasar Dan Teknik Metodologi Pengajaran,
(Bandung: Penerbit Tarsito 1982).
No comments:
Post a Comment