Friday, January 6, 2017

Makalah Bimbingan Konseling Bagi Anak Usia Dini

BAB I
PENDAHULUAN


A.           Latar Belakang
Akhir-akhir ini para ahli banyak sekali mengamati adanya kecenderungan kasus meningkatnya masalah belajar anak yang berhubungan dengan rentang konsentrasi. Para guru sendiri banyak mengeluh bahwa rata-rata di kelasnya ada anak dengan gangguan konsentrasi yang jelas mengganggu proses belajar-mengajar di kelas, di samping menjadi tugas tambahan bagi guru untuk memberikan ekstra perhatian pada anak yang bersangkutan.
Ciri-ciri yang sangat mudah dikenali untuk anak dengan gangguan pemusatan perhatian adalah tidak mampu menyaring rangsang yang datangnya dari luar. Justru rangsang-rangsang yang tidak berkaitan dengan aktivitas yang sedang dikerjakan mudah sekali menarik perhatiannya, misalnya orang mengetuk pintu, bunyi bel, teman bertanya dan sebagainya. Biasanya gangguan pemusatan perhatian ini akan berdampak pada prestasi belajar anak yang rendah karena tentu saja ini berkaitan dengan konsentrasi dalam menyerap pelajaran di sekolah.
Memang banyak orangtua dan guru yang merasa tertekan dan mencemaskan masa depan anak, apabila memiliki atau menghadapi anak seperti ini. Selain karena tuntutan lingkungan yang nampak berlebihan dan kurang memahami kondisi anak, kesan kurang dapat diatur, semaunya sendiri bahkan mengganggu aktivitas belajar di sekolah seringkali dikeluhkan.
Jika anak dengan gangguan konsentrasi ini tetap tidak ditangani, gejalanya juga dapat mempengaruhi kehidupan akademik, sosial dan emosional dan juga perkembangan tingkah laku anak. Pengaruh negatif juga bias berdampak bagi keluarganya, misalnya adalah orang tuanya akan mengalami tingkat stress yang lebih tinggi, menyalahkan diri sendiri, isolasi sosial, depresi, dan lain-lain.
Untuk itulah dibutukan suatu penanganan secara diri untuk membantu anak-anak yang mengalami gangguan konsentrasi ini. Sehingga dengan demikian, diharapkan anak dapat memaksimalkan potensi diri dan meningkatkan prestasinya.
B.            Tujuan
Kegiatan bimbingan konseling untuk anak usia dini ini dilakukan sebagai pembelajaran bagi kami, agar para mahasiswa mendapatkan pembelajaran langsung dengan melakukan praktek bimbingan konseling khususnya untuk anak dengan gangguan konsentrasi.

C.           Manfaat
Adapun manfaat pembuatan makalah ini agar dapat menambah wawasan bagi penulis mengenai bimbingan konseling bagi anak usia dini dengan permasalahan gangguan konsentrasi pada anak usia dini.



BAB II
BIMBINGAN KONSELING DI LEMBAGA PAUD


Program bimbingan dan konseling di lembaga PAUD merupakan program bimbingan yang bermanfaat secara positif, tidak sekadar reaktif dan korektif. Terlebih lagi, jika program bimbingan ini bersifat kontinu, berkelanjutan, dan terus-menerus, mulai dari PAUD hingga perguruan tinggi, bahkan sampai di masyarakat. Tentu, hasilnya akan jauh lebih baik daripada bimbingan yang sifatnya eksidental semata.
Petualangan pencarian jati diri anak didik harus dimulai sejak dini atau di lembaga PAUD. Sebab, penemuan dan pemahaman akan dirinya sendiri akan sangat membantu mereka dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan-lingkungan baru yang akan dihadapi. Di samping itu, penemuan jati diri atau kepribadian anak didik dapat membantu mereka dalam mengembangkan bakat, minat, dan potensinya.
Perlu ditegaskan di sini bahwa bimbingan dan konseling di lembaga PAUD tidak hanya diberikan kepada mereka yang mempunyai perilaku bermasalah, melainkan juga harus diberikan kepada mereka yang sedang dalam proses pertumbuhan dan perkembangan. Dengan demikian, konseling bukan hanya untuk mengatasi perilaku bermasalah pada anak didik, melainkan juga tindakan untuk memenuhi kebutuhan tumbuh kembangnya anak secara maksimal. Pandangan ini menitik beratkan pada bimbingan yang bersifat preventif, kesehatan mental, dan pengembangan diri daripada bimbingan yang menitik beratan pada psikoterapi maupun diagnosis terhadap perilaku bermasalah.
Terlebih lagi, ketika para psikolog telah menyadari betapa pentingnya melakukan identifikasi sejak dini terhadap perilaku bermasalah pada anak-anak. Dengan melakukan identifikasi ini, diharapkan anak-anak di masa depan tidak lagi mengalami hambatan dalam belajarnya, terlebih lagi gangguan pada mentalnya.
Momen yang paling tepat untuk melakukan tindakan identifikasi ini adalah pada masa-masa awal usia dini atau di lembaga PAUD.



BAB III
PERMASALAHAN ANAK USIA DINI
“GANGGUAN KONSENTRASI”


A.           Definisi Gangguan Konsentrasi
Gangguan konsentrasi tergolong ke dalam salah satu jenis gangguan ADHD, singkatan dari Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau dalam bahasa Indonesia Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH). Suatu kondisi yang juga dikenal sebagai Attention Deficit Disorder (Sulit memusatkan perhatian).
Gangguan Pemusatan Perhatian (Attention Deficit Disorder/ADD) adalah suatu pemusatan perhatian yang buruk atau singkat dan sifat impulsif (mengikuti kata hati) yang tidak sesuai dengan usia anak. ADD terutama merupakan suatu masalah dalam pemusatan perhatian, konsentrasi dan ketekunan menjalankan tugas. Anak juga mungkin bersifat impulsif dan hiperaktif.
Pola perhatian anak terhadap suatu hal terbagi menjadi beberapa klasifikasi. Kelompok yang paling berat adalah over exklusif dimana seorang anak hanya terfokus pada sesuatu yang menarik perhatiannya tanpa mempedulikan hal lain secara ekstrim (misalnya pada bayi yang sedang memperhatikan kancing bajunya dan tidak mempedulikan rangsangan lain). Pola ini disebut autisme.
Kelompok dengan derajat sedang biasanya fokus perhatian anak mudah teralihkan. Perhatian hanya mampu bertahan beberapa saat saja oleh suatu rangsangan lain yang mungkin tidak adekuat. Hal ini dinamakan kesulitan perhatian (Attention Deficit Disorder). Kondisi normal adalah pola yang paling baik karena anak mampu memperhatikan sesuatu dan mengalihkannya terhadap yang lain pada saat yang tepat tanpa kehilangan daya konsentrasi, pola ini merupakan pola normal perkembangan mental anak secara matang.

B.       Gejala Gangguan Konsentrasi
ADD adalah terutama bermasalah pada perhatian terus menerus, konsentrasi, dan ketetapan tugas (kemampuan untuk menyelesaikan tugas). Anak juga mungkin terlalu aktif dan gegabah.
Gejala Gangguan Pemusatan Perhatian biasanya muncul pada usia 3 tahun, tetapi diagnosis umumnya belum bisa dipastikan sampai anak masuk sekolah, misalnya playgrup atau taman kanak-kanak. Ciri-ciri utama ADD adalah kurangnya perhatian, cirri ini menjadi syarat mutlak untuk diagnosis dan haruslah nyata ada pada lebih dari satu situasi (misalnya di rumah, di kelas, di klinik).
Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual for Mental Disorder IV (DSM IV) seorang anak bisa dikatakan mengalami gangguan pemusatan perhatian/konsentrasi jika memiliki minimal enam (atau lebih) gejala-gejala inatensi berikut yang menetap dan telah berlangsung sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan dan tidak sesuai dengan tingkat perkembangan anak berikut :
1.        Sering gagal untuk memberikan perhatian yang baik terhadap hal-hal yang rinci atau sering melakukan kesalahan yang tidak seharusnya/ceroboh terhadap pekerjaan sekolah, bermain atau aktivitas-aktivitas lainnya
2.        Seringkali mengalami kesulitan untuk mempertahankan perhatian dalam melakukan tugasnya atau dalam kegiatan bermain.
3.        Seringkali tampak tidak mendengarkan (acuh) pada waktu diajak berbicara
4.        Seringkali tidak mampu mengikuti aturan atau instruksi dan gagal dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah, kegiatan sehari-hari atau saat bermain
5.        Seringkali mengalami kesulitan dalam mengorganisasikan/mengatur tugas atau aktivitas-aktivitasnya
6.        Seringkali menghindar, tidak suka atau menolak mengikuti kegiatan-kegiatan yang memerlukan konsentrasi yang lama seperti dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah
C.           Penyebab Gangguan Konsentrasi
Penyebab pasti gangguan pemusatan perhatian/konsentrasi masih belum terungkap secara jelas. Banyak faktor yang dianggap sebagai penyebab gangguan ini, diantaranya adalah faktor genetik, perkembangan otak saat kehamilan, perkembangan otak setelah kelahiran, tingkat kecerdasan (IQ), terjadinya disfungsi metabolisme, ketidakteraturan hormonal, lingkungan fisik, sosial dan pola pengasuhan anak oleh orang tua, guru dan orang-orang yang berpengaruh di sekitarnya.



BAB IV
SOLUSI DAN PEMBAHASAN


Dari observasi yang dilakukan, kasus ini memperlihatkan berbagai gejala gangguan pemusatan perhatian, dengan kriteria-kriteria sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya pada bab sebelumnya.
Penanganan terhadap anak penderitan ADD tentulah tidak bisa dilakukan semata oleh guru saja, karena penanganan yang ideal sebenarnya haruslah bersifat holistik dan menyeluruh. Penanganan yang baik terhadap gangguan konsentrasi harus melibatkan multi disiplin ilmu yang dilakukan antara dokter, orang tua, guru dan lingkungan yang berpengaruh terhadap penderita secara bersama-sama.
Dalam studi kasus kali ini beberapa bentuk treatment/layanan yang penulis lakukan untuk mengatasi kasus ini adalah :
a.       Mendorong orang tua agar melakukan konsultasi mengenai anaknya kepada tenaga ahli (dokter anak atau dokter psikiatri)
b.      Mengingatkan orang tua untuk mengatur pola makan anak dengan cara menghindari makanan dan minuman dengan kadar gula dan karbohidrat yang tinggi.
c.       Mengatur posisi duduk anak agar tidak berada dekat dengan jendela, gambar-gambar,atau hal-hal lain yang dapat mengganggu konsentrasinya.
d.      Menyingkirkan perlengkapan yang tidak diperlukan di meja belajar anak, supaya perhatiannya tidak pecah
e.       Memberitahukan orang tuanya agar menyediakan tempat belajar yang tenang, jauh dari televisi atau musik keras
f.       Membantu anak dalam hal mengontrol dan mengatur waktunya. Cara yang dilakukan dengan menggunakan bantuan jam weker misalnya, kepada anak dikatakan: “Kamu akan mengerjakan hal ini selama 15 menit sampai weker ini bordering lalu berhenti dulu 5 menit dan kamu boleh mengerjakan apa yang kamu sukai (misalnya bermain mobil-mobilan atau puzzle). Setelah itu mulai lagi. Seiring dengan kondisinya sedikit demi sedikit ditambah waktu untuk melatih rentang konsentrasinya.
g.      Menghindarkan penggunaan kalimat-kalimat negatif, sindiran dan kecaman seperti “Dasar malas! “Tuh berantakan lagi kan?!” “Pasti deh, nggak selesai lagi”
Mengatasi anak dengan gangguan konsentrasi tentunya tidak semudah membalik telapak tangan. Diperlukan proses yang membutuhkan kesabaran dan penanganan dari tenaga ahli seperti dokter anak atau dokter psikiatri. Namun demikian dari serangkaian treatment/bimbingan yang diberikan, anak sudah menunjukkan suatu perubahan positif seperti Anak sudah bisa memusatkan perhatian sedikit lebih lama dari sebelumnya ketika melakukan suatu permainan (seperti misalnya pada saat bermain balok-balok susun).




BAB V
KESIMPULAN


Gangguan konsentrasi bukan merupakan penyakit tetapi merupakan gejala penyimpangan perkembangan anak. Gangguan konsentrasi atau inatensi atau kurangnya pemusatan perhatian dapat dilihat dari kegagalan seorang anak dalam memberikan perhatian secara utuh terhadap sesuatu, mudah sekali beralih perhatian dari satu hal ke hal lainnya. Kualitas konsentrasi anak terhadap suatu hal terbagi menjadi beberapa kategori.
Gejala gangguan konsentrasi diantaranya meliputi : (1) sering mengalami kegagalan dalam memberikan perhatian penuh pada hal tertentu dan kecerobohan pada tugas-tugas sekolah, (2) mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian pada tugas atau kegiatan bermain, (3) tidak bisa berkonsentrasi dalam percakapan,  (4) tidak bisa mengikuti perintah dan sering gagal menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan di sekolah, (5) sering menyela atau mengganggu teman yang sedang bermain.




DAFTAR PUSTAKA



Anonim. Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADD, ADHD) http://medicastore. Com/penyakit_subkategori/19/Attention_ Deficit Hyperactivity_Disorder_ADD_ADHD. Html
Arcaro, Jerome S. Pendidikan Berbasis Mutu. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2007)
Direktorat PAUD. Acuan Menu Pembelajaran Pada Pendidikan Anak Usia Dini (Menu Pembelajaran Generik). (Jakarta: Depdiknas Press. 2002)
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia. (Jakarta: Balai Pustaka 1990).
Fitriana. Gangguan Konsentrasi dan Hiperaktifitas Pada Anak. http://www.mitranetra.or.id.
Imam Musbikin. Mendidik Anak Kreatif Ala Einstein. (Yogyakarta: Mitra Pustaka. 2006)
Latipun. Psikologi Konseling. (Malang: UMM 2006).
Shapiro, Lawrence E. Mengajarkan Emosional Intellegence pada Anak. (Jakarta: Gramedia. 2003)
Suryadi, 2007. Cara efektif memahami perilaku Anak Usia Dini.

Singgih D. Gunarsa.1978. Psikologi Anak Bermasalah. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Tanaya Vidia Maharani. Gangguan Pemusatan Perhatian. http://www.naya.web.id/2007/01/31/gangguan-pemusatan-perhatian.html.
Jasa Ungguh M. Manajemen Playgroup dan Taman Kanak-Kanak. (Yogyakarta: Diva Press. 2009)
Wina Sanjaya. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. (Jakarta: Kencana. 2009)

Winarno Surakhmad. Pengantar Interaksi Mengajar Belajar: Dasar Dan Teknik Metodologi Pengajaran, (Bandung: Penerbit Tarsito 1982).

No comments:

Post a Comment

Deskripsi Tinta Printer

 Deskripsi Umum Tinta Printer Tinta printer adalah cairan berwarna (atau hitam) yang digunakan dalam printer untuk membuat gambar atau teks ...

Blog Archive