PERMASALAHAN
ANAK USIA DINI
“GANGGUAN
KONSENTRASI”
A.
Definisi
Gangguan Konsentrasi
Gangguan konsentrasi tergolong ke dalam
salah satu jenis gangguan ADHD, singkatan dari Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau dalam bahasa
Indonesia Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH). Suatu kondisi
yang juga dikenal sebagai Attention
Deficit Disorder (Sulit memusatkan perhatian).
Gangguan Pemusatan Perhatian (Attention Deficit Disorder/ADD) adalah
suatu pemusatan perhatian yang buruk atau singkat dan sifat impulsif (mengikuti
kata hati) yang tidak sesuai dengan usia anak. ADD terutama merupakan suatu masalah dalam pemusatan
perhatian, konsentrasi dan ketekunan menjalankan tugas. Anak juga mungkin
bersifat impulsif dan hiperaktif.
Pola perhatian anak terhadap suatu hal
terbagi menjadi beberapa klasifikasi. Kelompok yang paling berat adalah over exklusif dimana seorang anak hanya
terfokus pada sesuatu yang menarik perhatiannya tanpa mempedulikan hal lain
secara ekstrim (misalnya pada bayi yang sedang memperhatikan kancing bajunya
dan tidak mempedulikan rangsangan lain). Pola ini disebut autisme.
Kelompok dengan derajat sedang biasanya
fokus perhatian anak mudah teralihkan. Perhatian hanya mampu bertahan beberapa
saat saja oleh suatu rangsangan lain yang mungkin tidak adekuat. Hal ini
dinamakan kesulitan perhatian (Attention
Deficit Disorder). Kondisi normal adalah pola yang paling baik karena anak
mampu memperhatikan sesuatu dan mengalihkannya terhadap yang lain pada saat
yang tepat tanpa kehilangan daya konsentrasi, pola ini merupakan pola normal
perkembangan mental anak secara matang.
B. Gejala Gangguan Konsentrasi
ADD adalah terutama bermasalah pada
perhatian terus menerus, konsentrasi, dan ketetapan tugas (kemampuan untuk
menyelesaikan tugas). Anak juga mungkin terlalu aktif dan gegabah.
Gejala Gangguan Pemusatan Perhatian
biasanya muncul pada usia 3 tahun, tetapi diagnosis umumnya belum bisa
dipastikan sampai anak masuk sekolah, misalnya playgrup atau taman kanak-kanak.
Ciri-ciri utama ADD adalah kurangnya perhatian, cirri ini menjadi syarat mutlak
untuk diagnosis dan haruslah nyata ada pada lebih dari satu situasi (misalnya
di rumah, di kelas, di klinik).
Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual for Mental Disorder IV (DSM IV)
seorang anak bisa dikatakan mengalami gangguan pemusatan perhatian/konsentrasi
jika memiliki minimal enam (atau lebih) gejala-gejala inatensi berikut yang
menetap dan telah berlangsung sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan dan tidak
sesuai dengan tingkat perkembangan anak berikut :
1.
Sering gagal untuk memberikan perhatian yang
baik terhadap hal-hal yang rinci atau sering melakukan kesalahan yang tidak
seharusnya/ceroboh terhadap pekerjaan sekolah, bermain atau aktivitas-aktivitas
lainnya
2.
Seringkali mengalami kesulitan untuk
mempertahankan perhatian dalam melakukan tugasnya atau dalam kegiatan bermain.
3.
Seringkali tampak tidak mendengarkan (acuh) pada
waktu diajak berbicara
4.
Seringkali tidak mampu mengikuti aturan atau
instruksi dan gagal dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah, kegiatan
sehari-hari atau saat bermain
5.
Seringkali mengalami kesulitan dalam
mengorganisasikan/mengatur tugas atau aktivitas-aktivitasnya
6.
Seringkali menghindar, tidak suka atau menolak
mengikuti kegiatan-kegiatan yang memerlukan konsentrasi yang lama seperti dalam
mengerjakan tugas-tugas sekolah
C.
Penyebab
Gangguan Konsentrasi
Penyebab pasti gangguan pemusatan
perhatian/konsentrasi masih belum terungkap secara jelas. Banyak faktor yang
dianggap sebagai penyebab gangguan ini, diantaranya adalah faktor genetik,
perkembangan otak saat kehamilan, perkembangan otak setelah kelahiran, tingkat
kecerdasan (IQ), terjadinya disfungsi metabolisme, ketidakteraturan hormonal,
lingkungan fisik, sosial dan pola pengasuhan anak oleh orang tua, guru dan
orang-orang yang berpengaruh di sekitarnya.
No comments:
Post a Comment