Pada bagian ini, kita akan melihat
mengenai tradisi-tradisi sejarah dalam PL. Apakah maksud tradisi-tradisi ini,
bagaimanakah apabila kita membandingkannya dengan rekonsturuksi ilmiah para
ahli terhadap sejarah Israel kuno, dan apa yang terjadi apabila sang ahli
modern itu merasa perlu “memperbaiki” laporan yang disajikan dalam PL? Inilah
pertanyaan-pertanyaan yang utama di sini.
Telah banyak diketahui bahwa
Perjanjian Lama mengandung banyak kitab yang mengisahkan sejarah bangsa Israel
kuno. Memang Perjanjian Lama kadang-kadang dikritik karena terlalu banyak
berisi sejarah. Dari keenambelas kitab Perjanjian Lama yang pertama dalam
urutannya dalam kitab kita (Kejadian sampai Nehemia-urutan dalam Alkitab Ibrani
berbeda) hanya Imamat, Ulangan dan Rut tidak begitu banyak memberi sumbangan
bagi sejarah bangsa Ibrani dan masa Abraham (sekitar 1750) sampai akhir abad
ke-5 SM. Dalam kitab Perjanjian Lama lainnya, khususnya kitab nabi-nabi
kadang-kadang ada acuan pada peristiwa-peristiwa sejarah. Misalnya, latar
belakang Yesaya 7 adalah usaha raja-raja Damsyik dan Samaria pada
tahun 733 SM untuk memaksa Raja Ahaz dari Yehuda mengadakan persekutuan dengan
mereka melawan Asyur.
Mengingat kenyataan bahwa antara
sepertiga sampai setengah bagian Perjanjian Lama berkaitan langsung dengan
sejarah Israel tidaklah mengherankan bahwa banyak silabus universitas dan
sekolah tinggi memuat mata-mata kuliah yang membahas tradisi-tradisi sejarah
Perjanjian Lama dalam satu atau lain cara. Mata-mata kuliah demikian bermanfaat
dalam memberikan kerangka sejarah guna mempelajari sejarah dan teologi
Perjanjian Lama.
Tradisi sejarah Perjanjian Lama
ini biasanya dipelajari dengan pertolongan buku-buku teks modern yang diberi
judul Sejarah Israel. Tetapi buku-buku teks demikian bukanlah pengisahan cerita
Alkitab dalam kata-kata para sarjana modern. Mereka menyajikan fakta-fakta
sejarah Perjanjian Lama dalam suatu carasehingga sebagian pokoknya berbeda sama
sekali dengan laporan Alkitab. Dan tidak diragukan lagi bahwa hal ini
menciptakan banyak kesulitan bagi para mahasiswa.
Sebuah pendekatan yang lebih
radikal dapat ditemukan dalam buku Martin Nort, The History of Israel,
khususnya dalam pembahasan tentang periode awal. Noth tidak mulai dari mana
Perjanjian Lama mulai dengan sejarah Ibrani – dengan Abraham. Noth mulai dengan
pemukiman bangsa Israel di Kanaan pada periode setelah 1200 SM, ia mempunyai
alas an yang kuat untuk itu. Ia menulis sejarah Israel dan ia percaya
bahwa nama “Israel” pertama-tama dilahirkan oleh suatu konfederasi
suku-suku Kanaan pada abad ke-12 SM. Tetapi Noth juga percaya bahwa kerangka
dasar kisah bangsa Ibrani sebelum pemukimanitu tidak historis. Ia
tidak menyangkal bahwa sebagian orang Ibrani melarikan diri dari Mesir, atau
bahwa sebagian dari mereka tinggal beberapa waktu di padang gurun di selatan
Yehuda. Tetapi ia percaya bahwa kerangka dasarnya: Para leluhur-
Penindasan di Mesir-Keluaran- Pengembaraan di padang gurun-Penaklukan, sebagai
kisah yang terjadi terhadap bangsa Ibrani secara keseluruhan, adalah suatu
kerangka yang artifisial (tidak historis), yang membeku pada suatu proses
pembentukan konfederasi suku di Kanaan.
Pandangan Noth mengenai asal usul
tradisi-tradisi Perjanjian Lama yang paling awal dan rekontruksi histori yang
didasarkan pada tradisi-tradisi ini, adalah sangat berbeda dengan
laporan-laporan Perjanjian Lama sehingga bagian dari Historis-nya kemungkinan
besar akan melahirkan reaksi kuat bahkan dari para mahasiswa yang sama sekali
tidak menentang pembahasan Perjanjian Lama yang hati-hati dan kritis.
Kemungkinan besar mereka akan bertanya apakah memang mungkin, berdasarkan
bukti satu-satunya yang kita miliki (teks Perjanjian Lama), merekontruksi
dengan penuh kepastian sebuah laporan sejarah yang sangat berbeda dengan bukti
tersebut. Reaksi negatif dari pihak-pihak lain agaknya didasarkan pada satu
atau lebih pertimbangan berikut ini.
Pertama, kita barangkali merasa
ingin membela Perjanjian Lama bukan karena alasan doktriner tertentu apapun,
melainkan karena kesetiaan kepada sebuah lembaga yang tua hingga kita tidak ingin
melihatnya diperkosa. Mungkin kita memiliki kisah-kisah dari Perjanjian Lama
ketika kita masih kecil, dan kita tidak mau dengan mudah berpisah dengan apa
yang pernah memberikan kepada kita kesenangan dan pesona. Kalau ini alasan
utama kita untuk bereaksi negative terhadap keilmuan historis, maka saya harap
saya dapat menunjukkan bahwa kita dapat menerima hasil-hasil penelitian
sejarah, dan bahwa hasil-hasil itu akan membawa kita pada penghargaan yang
lebih baik terhadap kisah-kisah Perjanjian Lama sebagaimana adanya.
Kedua, keberatan kita barangkali
mempunyai dasar-dasar moral atau teologis. Apabila kita berdebat bahwa
kenyataan-kenyataan berbeda dengan apa yang dikatakan oleh para penulis Alkitab
(mis. apabila kita berdebat bahwa Nehemia muncul sebelum Ezra, sementara
Perjanjian Lama mengatakan yang sebaliknya) tidaklah kita menuduh bahwa para
penulis Alkitab tidak kompeten atau jujur, dan ini tidak adil karena mereka
tidak mampu membela diri? Keberatan-keberatan teologis mengambil nada yang
bahkan lebih serius.Apabila Alkitab dianggap sebagai karya Allah, maka Allah
sendirilah pengarang yang dituduh tidak kompeten atau tidak jujur. Apabila kita
mengakui bahwa Alkitab mengandung kesalahan-kesalahan dalam pembeberan
sejarahnya, bagaimana kita dapat yakin akan ketepatannya, ketika ia melukiskan
pekerjaan dan perkataan-perkataan Allah.
No comments:
Post a Comment