Saturday, December 25, 2021

Sejarah Perjanjian Lama dan Bangsa Israel

 


Pada bagian ini, kita akan melihat mengenai tradisi-tradisi sejarah dalam PL. Apakah maksud tradisi-tradisi ini, bagaimanakah apabila kita membandingkannya dengan rekonsturuksi ilmiah para ahli terhadap sejarah Israel kuno, dan apa yang terjadi apabila sang ahli modern itu merasa perlu “memperbaiki” laporan yang disajikan dalam PL? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang utama di sini.

Telah banyak diketahui bahwa Perjanjian Lama mengandung banyak kitab yang mengisahkan sejarah bangsa Israel kuno. Memang Perjanjian Lama kadang-kadang dikritik karena terlalu banyak berisi sejarah. Dari keenambelas kitab Perjanjian Lama yang pertama dalam urutannya dalam kitab kita (Kejadian sampai Nehemia-urutan dalam Alkitab Ibrani berbeda) hanya Imamat, Ulangan dan Rut tidak begitu banyak memberi sumbangan bagi sejarah bangsa Ibrani dan masa Abraham (sekitar 1750) sampai akhir abad ke-5 SM. Dalam kitab Perjanjian Lama lainnya, khususnya kitab nabi-nabi kadang-kadang ada acuan pada peristiwa-peristiwa sejarah. Misalnya, latar belakang Yesaya 7 adalah  usaha raja-raja Damsyik dan  Samaria pada tahun 733 SM untuk memaksa Raja Ahaz dari Yehuda mengadakan persekutuan dengan mereka melawan Asyur.

Mengingat kenyataan bahwa antara sepertiga sampai setengah bagian Perjanjian Lama berkaitan langsung dengan sejarah Israel tidaklah mengherankan bahwa banyak silabus universitas dan  sekolah tinggi memuat mata-mata kuliah yang membahas tradisi-tradisi sejarah Perjanjian Lama dalam satu atau lain cara. Mata-mata kuliah demikian bermanfaat dalam memberikan kerangka sejarah guna mempelajari sejarah dan teologi Perjanjian Lama.

Tradisi sejarah Perjanjian Lama ini biasanya dipelajari dengan pertolongan buku-buku teks modern yang diberi judul Sejarah Israel. Tetapi buku-buku teks demikian bukanlah pengisahan cerita Alkitab dalam kata-kata para sarjana modern. Mereka menyajikan fakta-fakta sejarah Perjanjian Lama dalam suatu carasehingga sebagian pokoknya berbeda sama sekali dengan laporan Alkitab. Dan tidak diragukan lagi bahwa hal ini menciptakan banyak kesulitan bagi para mahasiswa.

Sebuah pendekatan yang lebih radikal dapat ditemukan dalam buku Martin Nort, The History of Israel, khususnya dalam pembahasan tentang periode awal. Noth tidak mulai dari mana Perjanjian Lama mulai dengan sejarah Ibrani – dengan Abraham. Noth mulai dengan pemukiman bangsa Israel di Kanaan pada periode setelah 1200 SM, ia mempunyai alas an yang kuat untuk itu. Ia menulis sejarah Israel dan ia percaya bahwa  nama “Israel” pertama-tama dilahirkan oleh suatu konfederasi suku-suku Kanaan pada abad ke-12 SM. Tetapi Noth juga percaya bahwa kerangka dasar kisah bangsa Ibrani   sebelum pemukimanitu tidak historis. Ia tidak menyangkal bahwa sebagian orang Ibrani melarikan diri dari Mesir, atau bahwa sebagian dari mereka tinggal beberapa waktu di padang gurun di selatan Yehuda. Tetapi ia  percaya bahwa kerangka dasarnya: Para leluhur- Penindasan di Mesir-Keluaran- Pengembaraan di padang gurun-Penaklukan, sebagai kisah yang terjadi terhadap bangsa Ibrani secara keseluruhan, adalah suatu kerangka yang artifisial (tidak historis), yang membeku pada suatu proses pembentukan konfederasi suku di Kanaan.

Pandangan Noth mengenai asal usul tradisi-tradisi Perjanjian Lama yang paling awal dan rekontruksi histori yang didasarkan pada tradisi-tradisi ini, adalah sangat berbeda dengan laporan-laporan Perjanjian Lama sehingga bagian dari Historis-nya kemungkinan besar akan melahirkan reaksi kuat bahkan dari para mahasiswa yang sama sekali tidak menentang pembahasan Perjanjian Lama yang hati-hati dan kritis. Kemungkinan besar mereka akan bertanya apakah memang mungkin,  berdasarkan bukti satu-satunya yang kita miliki (teks Perjanjian Lama), merekontruksi dengan penuh kepastian sebuah laporan sejarah yang sangat berbeda dengan bukti tersebut. Reaksi negatif dari pihak-pihak lain agaknya didasarkan pada satu atau lebih pertimbangan berikut ini.

Pertama, kita barangkali merasa ingin membela Perjanjian Lama bukan karena alasan doktriner tertentu apapun, melainkan karena kesetiaan kepada sebuah lembaga yang tua hingga kita tidak ingin melihatnya diperkosa. Mungkin kita memiliki kisah-kisah dari Perjanjian Lama ketika kita masih kecil, dan kita tidak mau dengan mudah berpisah dengan apa yang pernah memberikan kepada kita kesenangan dan pesona. Kalau ini alasan utama kita untuk bereaksi negative terhadap keilmuan historis, maka saya harap saya dapat menunjukkan bahwa kita dapat menerima hasil-hasil penelitian sejarah, dan bahwa hasil-hasil itu akan membawa kita pada penghargaan yang lebih baik terhadap kisah-kisah Perjanjian Lama sebagaimana adanya.

Kedua, keberatan kita barangkali mempunyai dasar-dasar moral atau teologis. Apabila kita berdebat bahwa kenyataan-kenyataan berbeda dengan apa yang dikatakan oleh para penulis Alkitab (mis. apabila kita berdebat bahwa Nehemia muncul sebelum Ezra, sementara Perjanjian Lama mengatakan yang sebaliknya) tidaklah kita menuduh bahwa para penulis Alkitab tidak kompeten atau jujur, dan ini tidak adil karena mereka tidak mampu membela diri? Keberatan-keberatan teologis mengambil nada yang bahkan lebih serius.Apabila Alkitab dianggap sebagai karya Allah, maka Allah sendirilah pengarang yang dituduh tidak kompeten atau tidak jujur. Apabila kita mengakui bahwa Alkitab mengandung kesalahan-kesalahan dalam pembeberan sejarahnya, bagaimana kita dapat yakin akan ketepatannya, ketika ia melukiskan pekerjaan dan perkataan-perkataan Allah.

No comments:

Post a Comment

Deskripsi Tinta Printer

 Deskripsi Umum Tinta Printer Tinta printer adalah cairan berwarna (atau hitam) yang digunakan dalam printer untuk membuat gambar atau teks ...

Blog Archive