Kognitif adalah salah satu ranah
dalam taksonomi pendidikan. Secara umum kognitif diartikan potensi intelektual
yang terdiri dari tahapan: pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehention),
penerapan (aplication), analisa (analysis), sintesa (sinthesis), evaluasi
(evaluation). Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak).
Kognitif berarti persoalan yang
menyangkut kemampuan untuk mengembangkan kemampuan rasional (akal). Teori
kognitif lebih menekankan bagaimana proses atau upaya untuk mengoptimalkan
kemampuan aspek rasional yang dimiliki oleh orang lain.
Oleh sebab itu kognitif berbeda
dengan teori behavioristik, yang lebih menekankan pada aspek kemampuan perilaku
yang diwujudkan dengan cara kemampuan merespons terhadap stimulus yang datang
kepada dirinya. Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar kata
kognitif. Dari aspek tenaga pendidik misalnya. Seorang guru diharuskan memiliki
kompetensi bidang kognitif. Artinya seorang guru harus memiliki kemampuan
intelektual, seperti penguasaan materi pelajaran, pengetahuan mengenai cara
mengajar, pengetahuan cara menilai siswa dan sebagainya.
Seiring dengan masuknya anak ke
sekolah dasar, maka kemampuan kognitifnya turut mengalami perkembangan yang
pesat. Karena dengan masuk sekolah, dunia dan minat anak semakin luas, dan
dengan meluasnya minat maka bertambah pula pengertian tentang manusia dan
objek-objek yang sebelumnya kurang berarti bagi anak. Pada sekolah dasar,
pemikiran seorang anak sudah berkembang ke arah konkrit, rasional dan objektif.
Daya ingatnya menjadi sangat kuat, sehingga anak benar-benar dalam stadium
belajar.
Perkembangan
Kognitif pada anak-anak Menurut Piaget
1. Sensori Motor (usia 0-2 tahun)
Dalam tahap ini perkembangan panca indra sangat
berpengaruh dalam diri anak. Keinginan terbesarnya adalah keinginan untuk
menyentuh atau memegang, karena didorong oleh keinginan untuk mengetahui reaksi
dari perbuatannya. Dalam usia ini mereka belum mengerti akan motivasi dan
senjata terbesarnya adalah ‘menangis’. Menyampaikan cerita atau berita pada
anak usia ini tidak dapat hanya sekedar dengan menggunakan gambar sebagai alat
peraga, melainkan harus dengan sesuatu yang bergerak (panggung boneka akan
sangat membantu).
Piaget berpendapat bahwa tahapan ini menandai
perkembangan kemampuan dan pemahaman spatial penting dalam enam sub-tahapan:
1. Sub-tahapan skema refleks, muncul saat lahir
sampai usia enam minggu dan berhubungan terutama dengan refleks.
2. Sub-tahapan fase reaksi sirkular primer, dari usia
enam minggu sampai empat bulan dan berhubungan terutama dengan munculnya
kebiasaan-kebiasaan.
3. Sub-tahapan fase reaksi sirkular sekunder, muncul
antara usia empat sembilan bulan dan berhubungan terutama dengan koordinasi
antara penglihatan dan pemaknaan.
4. Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular sekunder,
muncul dari usia sembilan sampai duabelas bulan, saat berkembangnya kemampuan
untuk melihat objek sampai sebagai sesuatu yang permanen walau kelihatannya
berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda (permanensi objek).
5. Sub-tahapan fase reaksi sirkular tersier, muncul
dalam usia dua belas sampai delapan belas bulan dan berhubungan terutama dengan
penemuan cara-cara baru untuk mencapai tujuan.
6. Sub-tahapan awal representasi simbolik,
berhubungan terutama dengan tahapan awal kreativitas.
2. Pra-operasional (usia 2-7 tahun)
Pada usia ini anak menjadi ‘egosentris’, sehingga
berkesan ‘pelit’, karena ia tidak bisa melihat dari sudut pandang orang lain.
Anak tersebut juga memiliki kecenderungan untuk meniru orang di sekelilingnya.
Meskipun pada saat berusia 6-7 tahun mereka sudah mulai mengerti motivasi,
namun mereka tidak mengerti cara berpikir yang sistematis – rumit. Dalam
menyampaikan cerita harus ada alat peraga.
3. Operasional Kongkrit (usia 7-11 tahun)
Saat ini anak mulai meninggalkan ‘egosentris’-nya dan
dapat bermain dalam kelompok dengan aturan kelompok (bekerja sama). Anak sudah
dapat dimotivasi dan mengerti hal-hal yang sistematis. Namun dalam menyampaikan
berita harus diperhatikan penggunaan bahasa yang mampu mereka pahami.
Proses-proses penting selama tahapan ini adalah:
a. Pengurutan
kemampuan untuk mengurutan objek menurut ukuran,
bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, bila diberi benda berbeda ukuran, mereka
dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke yang paling kecil.
b. Klasifikasi
kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi
serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain,
termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya
ke dalam rangkaian tersebut. Anak tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa
animisme (anggapan bahwa semua benda hidup dan berperasaan)
c. Decentering
anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu
permasalahan untuk bisa memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan lagi
menganggap cangkir lebar tapi pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir
kecil yang tinggi.
d. Reversibility
anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda
dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan
cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah
sebelumnya.
e. Konservasi
memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah
benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek
atau benda-benda tersebut. Sebagai contoh, bila anak diberi cangkir yang
seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas
lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi
cangkir lain.
f. Penghilangan sifat Egosentrisme
kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang
orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah).
Sebagai contoh, tunjukkan komik yang memperlihatkan Siti menyimpan boneka di
dalam kotak, lalu meninggalkan ruangan, kemudian Ujang memindahkan boneka itu
ke dalam laci, setelah itu baru Siti kembali ke ruangan. Anak dalam tahap
operasi konkrit akan mengatakan bahwa Siti akan tetap menganggap boneka itu ada
di dalam kotak walau anak itu tahu bahwa boneka itu sudah dipindahkan ke dalam
laci oleh Ujang.
4. Operasional Formal (Usia 11 tahun ke atas)
Pengajaran pada anak pra-remaja ini menjadi sedikit
lebih mudah, karena mereka sudah mengerti konsep dan dapat berpikir, baik
secara konkrit maupun abstrak, sehingga tidak perlu menggunakan alat peraga.
Namun kesulitan baru yang dihadapi guru adalah harus menyediakan waktu untuk
dapat memahami pergumulan yang sedang mereka hadapi ketika memasuki usia
pubertas.
Seorang individu dalam hidupnya selalu berinteraksi
dengan lingkungan. Dengan berinteraksi tersebut, seseorang akan memperoleh
skema. Skema berupa kategori pengetahuan yang membantu dalam menginterpretasi
dan memahami dunia. Skema juga menggambarkan tindakan baik secara mental maupun
fisik yang terlibat dalam memahami atau mengetahui sesuatu. Sehingga dalam
pandangan Piaget, skema mencakup baik kategori pengetahuan maupun proses
perolehan pengetahuan tersebut. Seiring dengan pengalamannya mengeksplorasi
lingkungan, informasi yang baru didapatnya digunakan untuk memodifikasi,
menambah, atau mengganti skema yang sebelumnya ada. Anak akan perlu
memodifikasi skema yang ia miliki sebelumnya tentang burung untuk memasukkan
jenis burung yang baru ini.
Asimilasi adalah proses menambahkan informasi baru ke
dalam skema yang sudah ada. Proses ini bersifat subjektif, karena seseorang
akan cenderung memodifikasi pengalaman atau informasi yang diperolehnya agar
bisa masuk ke dalam skema yang sudah ada sebelumnya. Dalam contoh di atas,
melihat burung kenari dan memberinya label “burung” adalah contoh mengasimilasi
binatang itu pada skema burung si anak.
Akomodasi adalah bentuk penyesuaian lain yang
melibatkan pengubahan atau penggantian skema akibat adanya informasi baru yang
tidak sesuai dengan skema yang sudah ada. Dalam proses ini dapat pula terjadi
pemunculan skema yang baru sama sekali. Dalam contoh di atas, melihat burung unta
dan mengubah skemanya tentang burung sebelum memberinya label “burung” adalah
contoh mengakomodasi binatang itu pada skema burung si anak.
Melalui kedua proses penyesuaian tersebut, sistem
kognisi seseorang berubah dan berkembang sehingga bisa meningkat dari satu
tahap ke tahap di atasnya. Proses penyesuaian tersebut dilakukan seorang
individu karena ia ingin mencapai keadaan equilibrium, yaitu berupa keadaan
seimbang antara struktur kognisinya dengan pengalamannya di lingkungan.
Seseorang akan selalu berupaya agar keadaan seimbang tersebut selalu tercapai
dengan menggunakan kedua proses penyesuaian di atas.
Dengan demikian, kognisi seseorang berkembang bukan
karena menerima pengetahuan dari luar secara pasif tapi orang tersebut secara
aktif mengkonstruksi pengetahuannya.
1.
Tingkat
Pencapaian Perkembangan Kelompok Usia 0 - < 12 bulan
|
Lingkup Perkembangan |
Tingkat Pencapaian Perkembangan |
|||
|
< 3 bulan |
3 - < 6 bulan |
6 - < 9 bulan |
9 – <12 bulan |
|
|
Fisik Motorik A.
Motorik
Kasar |
1.Refleks menggenggam benda yang menyentuh telapak
tangan, 2.Menegakkan kepala saat ditelungkupkan 3.Tengkurap 4.Berguling ke kanan dan ke kiri |
1.
Meraih
benda di depannya 2.
Tengkurap
dengan dada diangkat dan kedua tangan menopang 3.
Duduk
dengan bantuan |
1.
Melempar
benda yang dipegang 2.
Merangkak
ke segala arah 3.
Duduk
tanpa bantuan 4.
Berdiri
dengan bantuan 5.
Bertepuk
tangan |
1.
Menarik
benda yang terjangkau 2.
Berjalan
dengan berpegangan 3.
Berjalan
beberapa langkah tanpa bantuan 4.
Melakukan
gerak menendang bola |
|
B. Motorik
Halus |
1.
Memainkan
jari tangan dan kaki 2.
Memegang
benda dengan lima jari |
1.
Memasukkan
benda ke dalam mulut 2.
Memindahkan
mainan dari satu tangan ke tangan yang lain |
1.
Memegang
benda dengan ibu jari dan jari telunjuk (menjumput) 2.
Meremas |
1.
Menggaruk
kepala 2.
Memegang
benda kecil atau tipis (misal potongan buah atau biskuit) 3.
Memukul-mukul
atau mengetuk-ngetuk mainan |
|
Kognitf A. Mengenali
apa yang diinginkan |
1. Membedakan
apa yg diinginkan (ASI atau dot) |
1.
Memperhatikan permainan yang dinginkan |
1.
Mengamati
benda yang bergerak |
1.
Mulai
memahami perintah sederhana |
|
B. Menunjukkan
reaksi atas rangsangan |
1. Berhenti
menangis setelah keinginannya terpenuhi (misal: setelah digendong atau diberi
susu) |
1. Mengulurkan
kedua tangan untuk digendong |
1.
Berpaling
ke arah sumber suara 2.
Mengamati
benda yang dipegang kemudian dijatuhkan |
1.
Menunjukkan
reaksi saat namanya dipanggil 2.
Mencoba
mencari benda yang disembunyikan 3.
Mencoba
membuka/ melepas benda yang tertutup |
2.
Tingkat
Pencapaian Perkembangan Kelompok Usia 12 – 24 Bulan
|
Lingkup Perkembangan |
Tingkat Pencapaian Perkembangan |
|
|
12 - < 18 bulan |
18 - < 24 bulan |
|
|
Fisik Motorik A.
Motorik
Kasar |
1.
Berjalan
sendiri 2.
Naik
tangga atau tempat yang lebih tinggi dengan merangkak 3.
Menendang
bola ke arah depan 4.
Berdiri
dengan satu kaki selama satu detik |
1.
Melompat
di tempat 2.
Naik
tangga atau tempat yang lebih tinggi dengan berpegangan 3.
Berjalan
mundur beberapa langkah 4.
Menarik
benda yang tidak terlalu berat (kursi kecil) |
|
B. Motorik Halus |
1.
Memegang
alat tulis 2.
Membuat
coretan bebas 3.
Menyusun
menara dengan tiga balok 4.
Memegang
gelas dengan dua tangan 5.
Menumpahkan
benda-benda dari wadah dan memasukkannya kembali |
1.
meniru
garis vertikal atau horisontal 2.
Memasukkan
benda ke dalam wadah yang sesuai 3.
Membalik
halaman buku walaupun belum sempurna 4.
Menyobek
kertas |
|
Kognitif A. Mengenali
pengetahuan umum |
1.
Menyebut
beberapa nama benda 2.
Menanyakan
nama benda yang belum dikenal 3.
Mengenal
beberapa warna primer (merah, biru, kuning) |
1.
Mempergunakan
alat permainan dengan cara semaunya seperti balok dipukul-pukul 2.
Mulai
memahami gambar wajah orang 3.
Mulai
memahami prinsip milik orang lain seperti milik saya, milik kamu |
|
B. Mengenal
konsep ukuran dan bilangan |
Membedakan
ukuran benda (besar-kecil) |
Membilang
sampai lima |
3.
Tingkat
Pencapaian Perkembangan Kelompok Usia 2 - < 4 tahun
|
Lingkup Perkembangan |
Tingkat Pencapaian Perkembangan |
|
|
2 - < 3 tahun |
3 - 4 tahun |
|
|
Fisik Motorik A.
Motorik
Kasar |
1.
Berjalan
sambil berjinjit 2.
Melompat
ke depan dan kebelakang dengan dua kaki 3.
Melempar
dan menangkap bola 4.
Menari
mengikuti irama 5.
Naik-turun
tangga atau tempat yang lebih tinggi/rendah dengan berpegangan |
1.
Berlari
sambil membawa sesuatu yang ringan (bola) 2.
Naik-turun
tangga atau tempat yang lebih tinggi dengan kaki bergantian 3.
Meniti
di atas papan yang cukup lebar 4.
Melompat
turun dari ketinggian kurang lebih 20 cm (di bawah tinggi lutut anak) 5.
Meniru
gerakan senam sederhana seperti menirukan gerakan pohon, kelinci melompat |
|
B. Motorik Halus |
1.
Meremas
kertas atau kain dengan menggerakkan lima jari 2.
Melipat
kertas meskipun belum rapi/lurus 3.
Menggunting
kertas tanpa pola 4.
Koordinasi
jari tangan cukup baik untuk memegang benda pipih seperti sikat gigi, sendok |
1.
Menuang
air, pasir, atau biji-bijian ke dalam tempat penampung (mangkuk, ember) 2.
Memasukkan
benda kecil ke dalam botol (potongan lidi, kerikil, biji-bijian) 3.
Meronce
manik-manik yang tidak terlalu kecil dengan benang yang agak kaku 4.
Menggunting kertas mengikuti pola garis lurus |
|
Kognitif A. Mengenali pengetahuan umum |
1.
Menyebut
bagian-bagian suatu gambar seperti gambar wajah orang, mobil, binatang dsb 2.
Mengenal
bagian-bagian tubuh (lima bagian) |
1.
Menemukan/mengenali
bagian yg hilang dari suatu pola gambar seperti pd gbr wajah orang, mobil,
dsb 2.
Menyebutkan
berbagai nama makanan dan rasanya (garam,gula atau cabai) 3.
Memahami
perbedaan antara dua hal dari jenis yang sama seperti membedakan antara buah
rambutan dan pisang, perbedaan antara ayam dan kucing |
|
B. Mengenal
konsep ukuran, bentuk dan pola |
1. Memahami konsep ukuran (besar-kecil,
panjang-pendek) 2. Mengenal tiga macam bentuk (¡r¨) 3. Mulai mengenal pola |
1. Menempatkan benda dalam urutan ukuran
(paling kecil-paling besar) 2. Mulai mengikuti pola tepuk tangan 3. Mengenal konsep banyak dan sedikit |
4.
Tingkat
Pencapaian Perkembangan Kelompok Usia 4 - < 6 tahun
|
Lingkup Perkembangan |
Tingkat Pencapaian Perkembangan |
|
|
4 - < 5 tahun |
5 - < 6 tahun |
|
|
Fisik
|
1.
Menirukan
gerakan binatang, pohon tertiup angin, pesawat terbang, dsb 2.
Melakukan
gerakan menggantung (bergelayut) 3.
Melakukan
gerakan melompat, meloncat, dan berlari secara terkoordinasi 4.
Melempar
sesuatu secara terarah 5.
Menangkap
sesuatu secara tepat 6.
Melakukan
gerakan antisipasi 7.
Menendang
sesuatu secara terarah 8.
Memanfaatkan
alat permainan di luar kepala |
1.
Melakukan
gerakan tubuh secara terkoordinasi untuk melatih kelenturan, keseimbangan dan
kelincahan 2.
Melakukan
koordinasi gerakan kaki-tangan-kepala dalam menirukan tarian atau senam. 3.
Melakukan
permainan fisik dengan aturan. 4.
Terampil
menggunakan tangan kanan dan kiri 5.
Melakukan
kegiatan kebersihan diri |
|
B. Motorik Halus |
1.
Membuat
garis vertikal, horizontal, lengkung kiri/kanan, miring kiri/kanan, dan lingkaran 2.
Menjiplak
bentuk 3.
Mengkoordinasikan
mata dan tangan unuk melakukan gerakan yang rumit 4.
Melakukan
gerakan manipulatif untuk menghasilkan suatu bentuk dengan menggunakan
berbagai media 5.
Mengekspresikan
diri dengan berkarya seni menggunakan berbagai media |
1.
Menggambar
sesuai gagasannya 2.
Meniru
bentuk 3.
Melakukan
eksplorasi dengan berbagai media dan kegiatan 4.
Menggunakan
alat tulis dengan benar 5.
Menggunting
sesuai dengan pola 6.
Menempel
gambar dengan tepat 7.
Mengekspresikan
diri melalui gerakan menggambar secara detail |
|
C. Kesehatan Fisik |
1.
Memiliki
kesesuaian antara usia dengan berat badan 2.
Memiliki
kesesuaian antara usia dengan tinggi badan 3.
Memiliki
kesesuaian antara tinggi dengan berat badan |
1.
Memiliki
kesesuaian antara usia dengan berat badan 2.
Memiliki
kesesuaian antara usia dengan tinggi badan 3.
Memiliki
kesesuaian antara tinggi dengan berat badan |
|
Kognitif A. Pengetahuan umum dan sains |
1.
Mengenal
benda berdasarkan fungsi (pisau untuk memotong pensil untuk menulis) 2.
Menggunakan
benda-benda sebagai permainan simbolik (kursi sebagai mobil) 3.
Mengenal
gejala sebab-akibat yang terkait dengan dirinya 4.
Mengenal
konsep sederhana dalam kehidupan sehari-hari (gerimis, hujan, gelap, terang,
temaram dsb) 5.
Mengekspresikan
sesuatu sesuai dengan idenya sendiri |
1.
Mengklasifikasikan
benda berdasarkan fungsi 2.
Menunjukkan
aktivitas yang bersifat eksploratif dan menyelidik (seperti apa yang terjadi
ketika air ditumpahkan) 3.
Menyusun
perencanaan kegiatan yang akan dilakukan 4.
Mengenal
sebab-akibat tentang lingkungannya (angin bertiup menyebabkan daun bergerak,
air dapat menyebabkan sesuatu menjadi basah) 5.
Menunjukkan
inisiatif dalam memilih tema permainan (seperti: ayo kita bermain pura-pura
seperti burung) 6.
Memecahkan
masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari |
|
B. Konsep
bentuk, warna, ukuran dan pola |
1. Mengklasifikasikan benda berdasarkan bentuk
atau warna atau ukuran 2. Mengklasifikasikan benda ke dalam kelompok
yang sama atau kelompok yang sejenis atau kelompok yang berpasangan dengan 2
variasi 3. Mengenal pola AB-AB dan ABC-ABC 4. Mengurutkan benda berdasarkan 5
seriasi ukuran atau warna |
1. Mengenal perbedaan berdasarkan ukuran ”lebih dari”, ”kurang dari”, dan
”paling /ter” 2. Mengklasifikasikan benda berdasarkan warna, bentuk, dan ukuran (3
variasi) 3. Mengklasifikasikan benda yang lebih banyak ke dalam kelompok yang
sejenis, atau kelompok berpasangan yang lebih dari 2 variasi 4. Mengenal pola ABCD-ABCD 5. Mengurutkan benda berdasarkan ukuran dari paling kecil ke paling besar
atau sebaliknya |
|
C. konsep
bilangan, lambang bilangan, dan huruf |
1.
Mengetahui
konsep banyak dan sedikit 2.
Membilang
banyak benda satu sampai sepuluh 3.
Mengenal
konsep bilangan 4.
Mengenal
lambang huruf |
1.
Menyebutkan
lambang bilangan 1-10 2.
Mencocokkan
bilangan dengan lambang bilangan 3.
Mengenal
berbagai macam lambang huruf vokal dan konsonan |
|
C. Keaksaraan |
1.
Mengenal
simbol-simbol 2.
Mengenal
suara-suara hewan/benda yang ada di sekitarnya 3.
Membuat
coretan yang bermakna 4.
Meniru
huruf |
1. Menyebutkansimbol-simbol huruf yang
dikenal 2. Mengenal suara huruf awal dari nama
benda-benda yang ada di sekitarnya 3. Menyebutkan kelompok gambar yang
memiliki bunyi/huurf awal yang sama 4. Memahami hubungan antara bunyi dan
bentuk huruf 5. Membaca nama sendiri 6. menuliskan nama
sendiri |
No comments:
Post a Comment