Friday, March 10, 2017

Fase-fase Perkembangan Antropologi


Fase-fase perkembangan antropologi paling tidak diawali sejak akhir abad ke 15 atau awal abad ke 16 (Koentjaraningrat, 1996). Dengan mengikuti pembagian fase perkembangan antropologi menurut Koentjaraningrat dan perkembangannya pada akhir-akhir ini, maka perkembangan antropologi
dapat dibagi ke dalam 5 (lima) fase perkembangan. Fase pertama berawal dari akhir abad ke 15 dan awal abad ke 16 hingga sebelum abad ke 18. Fase kedua terjadi sekitar pertengahan Abad ke 19, fase ketiga di sekitar awal Abad ke 20, fase keempat terjadi sesudah tahun 1930-an, dan fase kelima kira-kira sejak tahun 1970-an. Pembagian fase pertama hingga fase keempat berasal dari Koentjaraningrat, sedangkan fase kelima berasal dari penulis berdasarkan referensi yang ada.

a. Fase pertama (sebelum abad ke 18)
Bahan-bahan tulisan, yang kemudian menjadi cikal bakal karangan etnografi, banyak dihasilkan oleh para musafir, pelaut, pendeta, para pegawai jajahan, para pegawai agama atau misionaris yang berasal dari Eropa. Bahan-bahan tulisan ini banyak muncul sejak akhir abad ke 15 dan awal abad ke 16.
Selama kurang lebih 4 abad lamanya, mereka berhasil menulis kisah-kisah perjalanan dan cerita kehidupan masyarakat yang mereka temui. Persebaran mereka pada masa ini seiring dengan kedatangan orang-orang Eropa di benua
Afrika, Asia dan Amerika Selatan, bahkan ke daerah Oceania. Namun tulisan-tulisan tersebut masih jauh dari sebuah karangan etnografi karena masih bersifat subyektif sehingga tidak komprehensif dan holistik dalam menggambarkan kehidupan suatu masyarakat.
Pada umumnya mereka hanya menuliskan apa-apa yang dianggapnya menarik (aneh) di mata mereka. Setelah tulisan etnografi di atas diterbitkan dan banyak dibaca orang, tulisan ini banyak mempengaruhi sikap bangsa Eropa, terutama kaum terpelajar, di mana kemudian mereka beranggapan bahwa bangsa-bangsa di luar Eropa merupakan bangsa-bangsa yang primitif (savage) dan sangat terbelakang. Kelompok masyarakat ini juga dianggap masih murni, jujur dan tidak mengenal kejahatan. Keunikan dari bangsa-bangsa di luar Eropa ini, seperti adat istiadat dan benda-benda kebudayaannya, memicu munculnya pemikiran untuk menyebarluaskan kepada khalayak luas di Eropa, yaitu misalnya dengan mendirikan museum-museum yang secara khusus mengoleksi kebudayaan masyarakat di luar Eropa.
Di samping itu pada awal abad ke 19 ini timbul pula keinginan para ilmuwan Eropa untuk mengintegrasikan karangan-karangan yang masih terlepas-lepas tersebut menjadi sebuah karangan etnografi tersendiri. Pada fase ini belum diketahui adanya para tokoh antropologi.

b. Fase kedua (sekitar pertengahan abad ke 19)
Fase ini ditandai oleh keberhasilan para ilmuwan dalam menyusun karya-karya etnografi yang bahannya dikumpulkan dari berbagai karangan yang dihasilkan oleh para musafir, pelaut,  pendeta, para pegawai jajahan, dan para pegawai agama atau misionaris yang pernah tinggal di luar masyarakat Eropa.
Dari bahan-bahan yang terkumpul kemudian disusun berdasarkan pola pikir evolusi sosial, yaitu menyusun secara sistematis mulai dari masyarakat dan kebudayaan yang sangat sederhana hingga masyarakat yang hidup pada tingkat yang lebih tinggi. Kelompok masyarakat yang digolongkan ke dalam tingkat yang paling tinggi atau beradab adalah masyarakat Eropa Barat pada masa itu, sedangkan tingkat yang paling rendah adalah masyarakat yang hidup di luar Eropa Barat.
Para tokoh antropologi pada fase kedua ini adalah para ahli antropologi terutama para tokoh penganut teori evolusi seperti L.H. Morgan. Beliau sebenarnya seorang ahli hukum Amerika yang bekerja sebagai pengacara yang membantu penduduk Amerika Timur dalam menangani masalah pertanahan. Salah satu karangan L.H. Morgan yang terkenal adalah sebuah buku tentang evolusi masyarakat yang berjudul “Ancient Society” (1877).
Buku ini ditulis berdasarkan hasil penelitiannya tentang adat-istiadat orang Indian dan berpuluh-puluh masyarakat di dunia. Tokoh lain dalam fase ini adalah P.W. Schmidt tetapi ia lebih memfokuskan perhatiannya terhadap masalah sejarah asal mula penyebaran kebudayaan suku-suku bangsa di
seluruh dunia.



c. Fase ketiga (awal abad ke 20)
Pada masa awal abad ke 20, antropologi telah berkembang bukan saja sebagai ilmu yang mengkaji masalah kehidupan bangsa-bangsa di luar Eropa yang ada kepentingannya dengan kebutuhan negara besar yang menjadi penjajah tetapi juga dalam rangka memperoleh pengertian tentang masyarakat modern yang kompleks. Artinya, dengan mempelajari masyarakat yang masih sederhana akan diperoleh pemahaman yang baik mengenai masyarakat Eropa yang lebih kompleks. Negara yang memiliki pengaruh cukup besar dan memiliki daerah jajahan paling luas pada masa ini adalah Inggris.
Oleh karena itu, antropologi sebagai ilmu yang praktis telah berkembang pesat di Inggris terutama dalam mempelajari masyarakat dan kebudayaan suku-suku bangsa yang menjadi jajahan Inggris. Selain Inggris, negara-negara lain yang memiliki daerah jajahan juga ikut memanfaatkan antropologi dalam upaya memahami karakteristik kehidupan suku bangsa
yang ada di wilayah jajahannya. Amerika Serikat juga memanfaatkan ilmu ini untuk memahami  masyarakat pribuminya, suku bangsa Indian, yang pada waktu itu dianggap bermasalah terkait dengan masalah integrasi sosial politik.
Tokoh antropologi pada masa ketiga ini adalah B. Malinowski. Beliau adalah ahli antropologi Inggris yang meneliti adat-istiadat penduduk Kepulauan Trobriand. Tokoh lainnya adalah M. Fortes yang banyak menulis adat-istiadat dari suku bangsa yang tinggal di Afrika Barat.

d. Fase keempat (sesudah tahun 1930-an)
Setelah tahun 1930-an, antropologi mendapat perhatian yang sangat luas baik dari kalangan pemerintah terkait dengan fungsi praktisnya maupun kalangan akademisi. Bagi kalangan pemerintah, ilmu ini tetap dijadikan ilmu praktis guna memperoleh pemahaman pemakaian tentang kehidupan dari masyarakat jajahannya. Sedangkan para akademisi lebih tertarik guna memperoleh pemahaman tentang masyarakat secara umum, yakni keberadaan masyarakat yang masih sederhana yang dianggap masih primitif (savage) dan keberadaan masyarakat yang sudah kompleks.
Keterkaitan kedua bentuk masyarakat tersebut berguna bagi kajian tentang perkembangan masyarakat (perubahan sosial), dengan menetapkan bahwa masyarakat akan berkembang dari yang paling sederhana ke masyarakat yang lebih kompleks. Pandangan ini dipengaruhi oleh pendekatan evolusi yang pada masa ini sangat kuat pengaruhnya. 

No comments:

Post a Comment

Deskripsi Tinta Printer

 Deskripsi Umum Tinta Printer Tinta printer adalah cairan berwarna (atau hitam) yang digunakan dalam printer untuk membuat gambar atau teks ...

Blog Archive