Kawasan Asia Tenggara merupakan satu wilayah yang
berada di bagian tenggara dari benua Asia yang terdiri dari kawasan daratan dan
kepulauan Malaya. N. J. Enfield menyatakan bahwa setidaknya ada lima bahasa induk
di kawasann Asia Teggara. Lima bahasa itu meliputi bahasa Mon-Khmer, Tai-Kadai,
Sino-Tibet, Hmong Mien, dan Bahasa Austronesia. Enfield juga menjelaskan bahwa
perbedaan bahasa di setiap wilayah itu berkaitan erat dengan politik dan
wilayah geografis masing-masing wilayah.
Bahasa Induk di Asia Tenggara
Mon-Khmer merupakan rumpun bahasa induk yang
memanjang dari Semenanjung Malaya dan barat melintas ke laut timur India dan
Laut Andaman, Vietnam dan Kamboja. Bahasa Mon-Khemer juga digunakan sebagai
bahasa nasional mereka. Mon-Khemer mempunyai sub bahasa antara lain Khmer dari
Kamboja dan Vietnam selatan, Nicobarese dari kepulauan Nicobar, dan Khasi dari
Assam di India.
Bahasa Tai-Kadai memiliki dua cabang utama yakni Tai
dan Kadai. Bahasa Tai digunakan sebagai bahasa yang homogen yang tersebar luas
di bagian barat Asia Tenggara hingga ke dataran tinggi Burma hingga ke timur
Laut India. Sementara itu Bahasa Kadai merupakan sebuah bahasa yang kompleks
dipakai di Guanxi, Yunnan, dan Guangdong (sebuah propinsi di barat daya Cina).
Bahasa Tai-Kadai juga dikenal sebagai Daic, Kadai, Kradai, atau Dai. Bahasa ini
pada mulanya dianggap sebagai bagian dari Keluarga Sino-Tibet, namun di luar
China dikategorikan sabagai bahasa yang independen. Kosa kata yang digunakan
sebagian besar menggunakan bahasa Sino Tibet. Beberapa peneliti menyebutkan
bahwa Tai-Kadai sangat erat hubungannya dengan bahasa Austronesia.
Hmong Mien merupakan bahasa yang digunakan oleh
masyarakat minoritas tradisional di Cina dengan melalui kontak intensif
dengan Sinitic dari segi budaya dan Sejarah. Hmong Mien atau disebut juga
Miao digunakan di daerah pegunungan di Selatan Cina, termasuk Guizhou, Hunan,
Yunnan, Sichuan, Guangxi dan propinsi Hubei. Dalam 300-400 tahun terakhir para
pengguna bahasa tersebut telah berpindah ke wilayah Thailand, Laos, dan
Vietnam. Klasifikasi awal bahasa ini pada awalnya menempatkan Hmong-Mien
tergolong pada rumpun Sino-Tibet. Namun para ahli bahasa barat menyebutkan
bahwa Hmong-merupakan satu bahasa mereka sendiri. Hal itu disandarkan pada
perkembangan fonologinya.
Sino-Tibet merupakan bahasa yang digunakan oleh
masyarakat yang memanjang dari utara melalui Cina dan barat laut di Himalaya.
Bahasa ini juga mempunyai cabang bahasa antara lain bahasa Loloish diucapkan di
dataran tinggi Burma, Laos Utara, Thailand Utara, dan barat daya Cina, dan
Sinitic yaitu bahasa yang diucapkan secara kolektif oleh masyarakat Cina.
Meskipun Loloish dan Sinitic itu biasanya disebut dialek padahal sebenarnya
keduanya itu bukanlah dialek. Hal ini dapat dilihat bahwa antara satu dengan
lainnya tidak saling mengerti bila mengucapkan bahasa masing-masing. Sekarang
ini banyak peneliti yang menyelidiki bahasa Sinitic dalam konteks areal mereka.
Satu pendekatan yang digunakan ialah kontak historis dengan bahasa lainnya di
Asia Timur dan Tenggara.
Bahasa induk Austronesia merupakan rumpun yang
sangat kaya dan luas penyebarannya. Austronesia merupakan istilah yang dipakai
oleh para ahli linguistik untuk keluarga bahasa yang berkembang di Asia
Tenggara Kepulauan, Micronesia, Melanesia Kepulauan dan Polynesia. Penyebaran
bahasa ini dilakukan dengan cara ekaspansi para pelaut yang mengarungi
samudera.
Pembentukan dan Perkembangan Bahasa di Asia Tenggara
Kebudayaan Asia tenggara sangat terpengaruh oleh kebudayaan yang ada di India
dan Cina. Hal serupa juga terjadi di bidang bahasa. Bahasa yang berkembang
tidak dapat dipisahkan dari bahasa yang ada di Cina dan India. Sebagaimana
penjelasan sebelumnya bahwa kawasan Asia tenggara memiliki ratusan bahasa
yang digunakan oleh masyarakat. Bahasa-bahasa tersebut merupakan hasil dari
sebuah interaksi yang dilakukan oleh masyarakat di satu tempat ke tempat
lainnya. Banyak faktor yang menjelaskan bahwa interaksi tersebut
dilatarbelakangi oleh motif ekonomi, politis dan lainnya. Beberapa antropolog
tertarik mengkaji fenomena sosial yang terjadi di Asia tenggara ini. Pada
umumnya mereka tertarik pada banyaknya persamaan dan perbedaan bahasa di Asia
Tenggara. Mereka memperdebatkan apakah fenomena tersebut merupakan sebuah
warisan atau difusi dari dua atau beberapa kebudayaan yang berlainan.
Trubetzkoy berpendapat bahwa
strukur bahasa dapat berdifusi dan menembus batas wilayah dan silsilah bahasa.
Sebuah wilayah bahasa didefinisikan sebagai wilayah geografis dimana bahasa
setempat dengan bahasa tetangga itu berbeda. Namun pernyataan itu mendapat
banyak pertentang dari beberapa kalangan lainnya. Sebenarnya bahasa tidak bisa
ditahan perkembangannya dan tidak bisa disamakan dengan satu kesatuan wilayah
geografis. Untuk itu penyebaran bahasa sangat memungkinkan melintasi batasan
wilayah geografis.
Secara geografis wilayah Asia
Tenggra didominasi oleh wilayah yang dilalui sungai yang memanjang dari utara
ke selatan. Sungai merupakan unsur yang sangat penting guna mendukung kehidupan
manusia. Banyak peradaban besar yang lahir dan berkembang di sepanjang aliran
sungai. Sungai memberikan kehidupan bagi masyarakat yang tinggal di daerah
sekitarnya. Pada umumnya sungai digunakan oleh masyarakat sebagai sarana
irigasi dan transportasi. Di wilayah yang dilalui oleh sungai tersebut muncul
perkampungan petani dan areal pertanian dengan memanfaatkan sungai tersebut.
Sungai juga menjadi sarana yang mendukung interaksi dan sarana mobilisasi
masyarakat dalam kegiatan sehari-hari.
Enfield menjelaskan pola ini telah
ada sejak dua ribuan tahun yang lalu. Sebagian migrasi dilakukan oleh
orang-orang dari dataran tinggi ke dataran rendah. Migrasi yang paling
signifikan terjadi ketika orang-orang yang berbahasa Tai menginpasi barat daya
Cina. Orang-orang yang berbicara bahasa Tai tersebut melakukan migrasi untuk
mencari lahan datar yang subur untuk dijadikan sawah. Orang tai terkenal dengan
teknik pertanianyang maju. Dalam teknik pertaniannya orang-orang Tai terkenal
dengan sistem parit dan tanggul. Dalam pencariannya itu mereka bertemu dan
berinteraksi dengan orang yang menggunakan bahasa Mon-Khemer dan Sino-Tibet.
Seiring perkembangannya orang-orang
berbahasa Tai ini menetap dan mnjalin hubungan dengan masyarakat berbahasa
Mon-Khmer dan Sino-Tibet. Sekarang ini tidak semua pembicara bahasa Tai
merupakan keturunan sebelumnya yang merupakan bahasa pendatang. Keturunan orang
yang berbahasa Tai ini telah mengadopsi politik, budaya, teknologi, dan bahasa
masyarakat tempat mereka tinggal. Dengan demikian wilayah Siam yang merupakan
masyarakat dataran rendah Thailand lebih banyak pengaruh genetik dari penduduk
berbahasa Khemer Kamboja dibandingkan dengan bahasa Tai. Proses perkembangan
dan pergeseran budaya ini terus berlangsung hingga saat ini.
Para pendatang terbaru di daerah
Asia Tenggara adalah orang yang berbahasa Hmong-Mien yang datang dari Cina
Selatan setelah tiba di Laos, Thailand, dan Vietnam dalam beberapa ratus tahun
terakhir. Mereka yang merupakan kalangan minoritas berinteraksi dengan
masyarakat mayoritas di dataran rendah dalam hal sosial budaya. Orang-orang di
dataran rendah telah membawa perubahan bagi masyarakat pendatang dan begitu
juga sebaliknya. Masyarakat dataran rendah mendominasi politik dan ekonomi.
Kondisi tersebut membawa kemajuan terutama dalam hal melek huruf, media massa,
dan standarisasi lainnya.
Persilangan antara masyarakat
dataran tinggi dengan masyarakat dataran rendah menciptakan dua perbedaan
sosial budaya. Perkembangan tersebut membagi masyarakat ke dalam dua bagian
yang berbeda yakni indosphere dan sinospher. Perbedaan mencolok dapat ditemui
di bidang politik, budaya, dan agama yang berkembang dari India dan Cina.
Perbedaan itu nampak di Vietnam yang semula merupakan sepupunya Khemer namun
sekarang ini banyak terpengaruh oleh kebudayaan Cina. Hal itu terjadi karena
Vietnam telah menjadi propinsi Cina selama hampir 1000 tahun hingga 939
Masehi. Potret kebudayaan sebagian besar berwujud budaya Cina bahkan bahasa
mereka menggunakan huruf Cina. Sebaliknya, Merah-, Lao-, dan Siam berada di
bawah pengaruh India. Hal ini dapat dilihat dalam agama, seni, dan ikonografi
budaya lainnya.
Dengan inilah terdapat kebocoran sosial budaya di Asia tenggara. Sebagai contoh
kita lihat apa yang terjadi pada bahasa Sinitic. Bahasa Sinitic sangat
dipengaruhi oleh masyarakat indospheric. Hal ini dapat dilihat dalam pemakaian
angka dan istilah-istilah umum seperti kertas, kuda, dan meja. Sebagai
perbandingan, Indic/Sinitic adalah salah satu latar belakang dari budaya dan
adat dataran tinggi yang sebagian besar merupakan Mon-Khemer atau
Austroasiatic. Misalnya di sebagian besar Pura di Indospheric Thailand, Laos, dan
Kamboja, tidak hanya unsur-unsur dan praktek keagamaan Budha melainkan praktek
animist merupakan praktek keagamaan masyarakat minoritas di dataran tinggi.
Tidak sedikit pula masyarakat dataran tinggi yang mengadopsi budaya masyarakat
dataran rendah.
Selain bahasa berkembang dengan menyebar dengan cara difusi, bahasa juga
berkembang dengan cara menyebar dengan cara ekspansi. Bahasa Austronesia
merupakan bahasa yang tersebar luas hampir di semua kawasan kepulauan
Indo-Pasifik. Para ahli menjelaskan bahwa penyebaran bahasa tersebut disebabkan
oleh ekspansi komunitas penutur rumpun bahasa tersebut. Hendrik Kern dalam
penelitiannya tentang daerah asal bahasa Austronesia dengan pendekatan
pemilihan kosa kata menyimpulkan bahwa daerah asal bahasa ini berasal dari
suatu daerah tropis. Dari temuan tersebut Blust kemudian mengembangkan kajian
serupa sehingga menyimpulkan bahwa Bahasa Austronesia berasal dari Pulau Taiwan
(Formosa).
Seiring berkembangannya teknik perkapalan dan
navigasi di Taiwan, orang-orang Austronesia mulai berpindah dari Cina
mengarungi selat Formosa. Dengan kemampuan di bidang teknik perladangan mereka
berlayar hingga sampai di Madagaskar. Peristiwa tersebut membuktikan bahwa
orang-orang Austronesia telah menguasai teknik navigasi dan difusi pengetahuan
tentang ritme angin musim. Berpindahnya jalur perdagangan kuno darat (Jalur
Sutera) ke perdagangan maritim semakin memperkokoh kedudukan Asia Tenggara
dalam perdagangan internasional. Kegiatan perdagangan ini menuntun pada pola
perdagangan antara dunia barat dan timur. Dalam waktu yang bersamaan Bahasa
Austronesia kian banyak dikenal oleh masyarakat luar. Hal ini membuktikan bahwa
Kebudayaan dapat melintasi tapal batas geografis, religi, dan etnis. Kemampuan
berlayar yang dimiliki oleh masyarakat Austronesia berperan besar dam ekspansi
bahasa ke seluruh pelosok di Indo-pasifik.
No comments:
Post a Comment