Friday, March 10, 2017

KEBUDAYAAN RUMPUN BAHASA KAWASAN ASIA TENGGARA


Kawasan Asia Tenggara merupakan satu wilayah yang berada di bagian tenggara dari benua Asia yang terdiri dari kawasan daratan dan kepulauan Malaya. N. J. Enfield menyatakan bahwa setidaknya ada lima bahasa induk di kawasann Asia Teggara. Lima bahasa itu meliputi bahasa Mon-Khmer, Tai-Kadai, Sino-Tibet, Hmong Mien, dan Bahasa Austronesia. Enfield juga menjelaskan bahwa perbedaan bahasa di setiap wilayah itu berkaitan erat dengan politik dan wilayah geografis masing-masing wilayah.
Bahasa Induk di Asia Tenggara
Mon-Khmer merupakan rumpun bahasa induk yang memanjang dari Semenanjung Malaya dan barat melintas ke laut timur India dan Laut Andaman, Vietnam dan Kamboja. Bahasa Mon-Khemer juga digunakan sebagai bahasa nasional mereka. Mon-Khemer mempunyai sub bahasa antara lain Khmer dari Kamboja dan Vietnam selatan, Nicobarese dari kepulauan Nicobar, dan Khasi dari Assam di India.
Bahasa Tai-Kadai memiliki dua cabang utama yakni Tai dan Kadai. Bahasa Tai digunakan sebagai bahasa yang homogen yang tersebar luas di bagian barat Asia Tenggara hingga ke dataran tinggi Burma hingga ke timur Laut India. Sementara itu Bahasa Kadai merupakan sebuah bahasa yang kompleks dipakai di Guanxi, Yunnan, dan Guangdong (sebuah propinsi di barat daya Cina). Bahasa Tai-Kadai juga dikenal sebagai Daic, Kadai, Kradai, atau Dai. Bahasa ini pada mulanya dianggap sebagai bagian dari Keluarga Sino-Tibet, namun di luar China dikategorikan sabagai bahasa yang independen. Kosa kata yang digunakan sebagian besar menggunakan bahasa Sino Tibet. Beberapa peneliti menyebutkan bahwa Tai-Kadai sangat erat hubungannya dengan bahasa Austronesia.
Hmong Mien merupakan bahasa yang digunakan oleh masyarakat minoritas tradisional di Cina dengan  melalui kontak intensif dengan Sinitic dari segi budaya dan Sejarah.  Hmong Mien atau disebut juga Miao digunakan di daerah pegunungan di Selatan Cina, termasuk Guizhou, Hunan, Yunnan, Sichuan, Guangxi dan propinsi Hubei. Dalam 300-400 tahun terakhir para pengguna bahasa tersebut telah berpindah ke wilayah Thailand, Laos, dan Vietnam. Klasifikasi awal bahasa ini pada awalnya menempatkan Hmong-Mien tergolong pada rumpun Sino-Tibet. Namun para ahli bahasa barat menyebutkan bahwa Hmong-merupakan satu bahasa mereka sendiri. Hal itu disandarkan pada perkembangan fonologinya.
Sino-Tibet merupakan bahasa yang digunakan oleh masyarakat yang memanjang dari utara melalui Cina dan barat laut di Himalaya. Bahasa ini juga mempunyai cabang bahasa antara lain bahasa Loloish diucapkan di dataran tinggi Burma, Laos Utara, Thailand Utara, dan barat daya Cina, dan Sinitic yaitu bahasa yang diucapkan secara kolektif oleh masyarakat Cina. Meskipun Loloish dan Sinitic itu biasanya disebut dialek padahal sebenarnya keduanya itu bukanlah dialek. Hal ini dapat dilihat bahwa antara satu dengan lainnya tidak saling mengerti bila mengucapkan bahasa masing-masing. Sekarang ini banyak peneliti yang menyelidiki bahasa Sinitic dalam konteks areal mereka. Satu pendekatan yang digunakan ialah kontak historis dengan bahasa lainnya di Asia Timur dan Tenggara.
Bahasa induk Austronesia merupakan rumpun yang sangat kaya dan luas penyebarannya. Austronesia merupakan istilah yang dipakai oleh para ahli linguistik untuk keluarga bahasa yang berkembang di Asia Tenggara Kepulauan, Micronesia, Melanesia Kepulauan dan Polynesia. Penyebaran bahasa ini dilakukan dengan cara ekaspansi para pelaut yang mengarungi samudera.
Pembentukan dan Perkembangan Bahasa di Asia Tenggara
            Kebudayaan Asia tenggara sangat terpengaruh oleh kebudayaan yang ada di India dan Cina. Hal serupa juga terjadi di bidang bahasa. Bahasa yang berkembang tidak dapat dipisahkan dari bahasa yang ada di Cina dan India. Sebagaimana  penjelasan sebelumnya bahwa kawasan Asia tenggara memiliki ratusan bahasa yang digunakan oleh masyarakat. Bahasa-bahasa tersebut merupakan hasil dari sebuah interaksi yang dilakukan oleh masyarakat di satu tempat ke tempat lainnya. Banyak faktor yang menjelaskan bahwa interaksi tersebut dilatarbelakangi oleh motif ekonomi, politis dan lainnya. Beberapa antropolog tertarik mengkaji fenomena sosial yang terjadi di Asia tenggara ini. Pada umumnya mereka tertarik pada banyaknya persamaan dan perbedaan bahasa di Asia Tenggara. Mereka memperdebatkan apakah fenomena tersebut merupakan sebuah warisan atau difusi dari dua atau beberapa kebudayaan yang berlainan.
Trubetzkoy berpendapat bahwa strukur bahasa dapat berdifusi dan menembus batas wilayah dan silsilah bahasa. Sebuah wilayah bahasa didefinisikan sebagai wilayah geografis dimana bahasa setempat dengan bahasa tetangga itu berbeda. Namun pernyataan itu mendapat banyak pertentang dari beberapa kalangan lainnya. Sebenarnya bahasa tidak bisa ditahan perkembangannya dan tidak bisa disamakan dengan satu kesatuan wilayah geografis. Untuk itu penyebaran bahasa sangat memungkinkan melintasi batasan wilayah geografis.
Secara geografis wilayah Asia Tenggra didominasi oleh wilayah yang dilalui sungai yang memanjang dari utara ke selatan. Sungai merupakan unsur yang sangat penting guna mendukung kehidupan manusia. Banyak peradaban besar yang lahir dan berkembang di sepanjang aliran sungai. Sungai memberikan kehidupan bagi masyarakat yang tinggal di daerah sekitarnya. Pada umumnya sungai digunakan oleh masyarakat sebagai sarana irigasi dan transportasi. Di wilayah yang dilalui oleh sungai tersebut muncul perkampungan petani dan areal pertanian dengan memanfaatkan sungai tersebut. Sungai juga menjadi sarana yang mendukung interaksi dan sarana mobilisasi masyarakat dalam kegiatan sehari-hari.
Enfield menjelaskan pola ini telah ada sejak dua ribuan tahun yang lalu. Sebagian migrasi dilakukan oleh orang-orang dari dataran tinggi ke dataran rendah. Migrasi yang paling signifikan terjadi ketika orang-orang yang berbahasa Tai menginpasi barat daya Cina. Orang-orang yang berbicara bahasa Tai tersebut melakukan migrasi untuk mencari lahan datar yang subur untuk dijadikan sawah. Orang tai terkenal dengan teknik pertanianyang maju. Dalam teknik pertaniannya orang-orang Tai terkenal dengan sistem parit dan tanggul. Dalam pencariannya itu mereka bertemu dan berinteraksi dengan orang yang menggunakan bahasa Mon-Khemer dan Sino-Tibet.
Seiring perkembangannya orang-orang berbahasa Tai ini menetap dan mnjalin hubungan dengan masyarakat berbahasa Mon-Khmer dan Sino-Tibet. Sekarang ini tidak semua pembicara bahasa Tai merupakan keturunan sebelumnya yang merupakan bahasa pendatang. Keturunan orang yang berbahasa Tai ini telah mengadopsi politik, budaya, teknologi, dan bahasa masyarakat tempat mereka tinggal. Dengan demikian wilayah Siam yang merupakan masyarakat dataran rendah Thailand lebih banyak pengaruh genetik dari penduduk berbahasa Khemer Kamboja dibandingkan dengan bahasa Tai. Proses perkembangan dan pergeseran budaya ini terus berlangsung hingga saat ini.
Para pendatang terbaru di daerah Asia Tenggara adalah orang yang berbahasa Hmong-Mien yang datang dari Cina Selatan setelah tiba di Laos, Thailand, dan Vietnam dalam beberapa ratus tahun terakhir. Mereka yang merupakan kalangan minoritas berinteraksi dengan masyarakat mayoritas di dataran rendah dalam hal sosial budaya. Orang-orang di dataran rendah telah membawa perubahan bagi masyarakat pendatang dan begitu juga sebaliknya. Masyarakat dataran rendah mendominasi politik dan ekonomi. Kondisi tersebut membawa kemajuan terutama dalam hal melek huruf, media massa, dan standarisasi lainnya.
Persilangan antara masyarakat dataran tinggi dengan masyarakat dataran rendah menciptakan dua perbedaan sosial budaya. Perkembangan tersebut membagi masyarakat ke dalam dua bagian yang berbeda yakni indosphere dan sinospher. Perbedaan mencolok dapat ditemui di bidang politik, budaya, dan agama yang berkembang dari India dan Cina. Perbedaan itu nampak di Vietnam yang semula merupakan sepupunya Khemer namun sekarang ini banyak terpengaruh oleh kebudayaan Cina. Hal itu terjadi karena Vietnam  telah menjadi propinsi Cina selama hampir 1000 tahun hingga 939 Masehi. Potret kebudayaan sebagian besar berwujud budaya Cina bahkan bahasa mereka menggunakan huruf Cina. Sebaliknya, Merah-, Lao-, dan Siam berada di bawah pengaruh India. Hal ini dapat dilihat dalam agama, seni, dan ikonografi budaya lainnya.
            Dengan inilah terdapat kebocoran sosial budaya di Asia tenggara. Sebagai contoh kita lihat apa yang terjadi pada bahasa Sinitic. Bahasa Sinitic sangat dipengaruhi oleh masyarakat indospheric. Hal ini dapat dilihat dalam pemakaian angka dan istilah-istilah umum seperti kertas, kuda, dan meja. Sebagai perbandingan, Indic/Sinitic adalah salah satu latar belakang dari budaya dan adat dataran tinggi yang sebagian besar merupakan Mon-Khemer atau Austroasiatic. Misalnya di sebagian besar Pura di Indospheric Thailand, Laos, dan Kamboja, tidak hanya unsur-unsur dan praktek keagamaan Budha melainkan praktek animist merupakan praktek keagamaan masyarakat minoritas di dataran tinggi. Tidak sedikit pula masyarakat dataran tinggi yang mengadopsi budaya masyarakat dataran rendah.
            Selain bahasa berkembang dengan menyebar dengan cara difusi, bahasa juga berkembang dengan cara menyebar dengan cara ekspansi. Bahasa Austronesia merupakan bahasa yang tersebar luas hampir di semua kawasan kepulauan Indo-Pasifik. Para ahli menjelaskan bahwa penyebaran bahasa tersebut disebabkan oleh ekspansi komunitas penutur rumpun bahasa tersebut. Hendrik Kern dalam penelitiannya tentang daerah asal bahasa Austronesia dengan pendekatan pemilihan kosa kata menyimpulkan bahwa daerah asal bahasa ini berasal dari suatu daerah tropis. Dari temuan tersebut Blust kemudian mengembangkan kajian serupa sehingga menyimpulkan bahwa Bahasa Austronesia berasal dari Pulau Taiwan (Formosa).

Seiring berkembangannya teknik perkapalan dan navigasi di Taiwan,  orang-orang Austronesia mulai berpindah dari Cina mengarungi selat Formosa. Dengan kemampuan di bidang teknik perladangan mereka berlayar hingga sampai di Madagaskar. Peristiwa tersebut membuktikan bahwa orang-orang Austronesia telah menguasai teknik navigasi dan difusi pengetahuan tentang ritme angin musim. Berpindahnya jalur perdagangan kuno darat (Jalur Sutera) ke perdagangan maritim semakin memperkokoh kedudukan Asia Tenggara dalam perdagangan internasional. Kegiatan perdagangan ini menuntun pada pola perdagangan antara dunia barat dan timur. Dalam waktu yang bersamaan Bahasa Austronesia kian banyak dikenal oleh masyarakat luar. Hal ini membuktikan bahwa Kebudayaan dapat melintasi tapal batas geografis, religi, dan etnis. Kemampuan berlayar yang dimiliki oleh masyarakat Austronesia berperan besar dam ekspansi bahasa ke seluruh pelosok di Indo-pasifik.

No comments:

Post a Comment

Deskripsi Tinta Printer

 Deskripsi Umum Tinta Printer Tinta printer adalah cairan berwarna (atau hitam) yang digunakan dalam printer untuk membuat gambar atau teks ...

Blog Archive