Berbagai masalah keluarga, mungkin akan muncul sebagai akibat kehadiran anak yang cacat, apalagi yang tidak dikehendaki
kelahirannya. Berbagai kasus
yang ada dalam masyarakat modern. Ada
kemungkinan suatu peristiwa, seorang anak dilahirkan dengan kondisi
kepalanya dengan ukuran kecil serta matanya membesar, anak itu dilahirkan di
dalam lingkungan keluarga yang miskin sehingga ibu saat mengandung kekurangan
gizi. Ketika menghadapi anak dengan
kondisi
sepert itu mereka putus asa, bingung,
malu
serta merasa tidak
punya jalan, mereka sudah membayangkan
untuk membesarkan anaknya, anak
yang lahir dalam kondisi demikian membutuhkan biaya yang
tinggi agar anaknya bisa diberikan pengobatan atau gizi yang lebih baik serta
perawatan dokter agar anaknya menjadi tumbuh secara normal. Jika tidak mendapatkan perawatan maka anak
tersebut akan menjadi terhambat baik dalam perkembangan otaknya, fisiknya ,
emosinya dan sosialnya. Kemudian mungkin
timbul niat jahat untuk menghilangkan anak dengan berbagai cara.
Menurut Kirk & Gallahan (1993) dalam
Salim ( 1996), bahwa keberadaan penyandang kelainan di tengah-tengah keluarga, akan dapat menimbulkan dua macam krisis yaitu.
· Krisis
yang pertama, orangtua menghadapi anaknya sebagai kondisi kematian secara
simbolis. Lebih jauh Kirk & Gallahan menjelaskan bahwas seorang ibu yang
menantikan kelahiran bayi yang didambakan ternyata setelah lahir mengalami
kelainan, maka kemudian hancurlah semua harapan dan impiannya. Kasus yang
menimpa seorang ibu tersebut karena saat hamil tidak menghendaki anaknya lahir
sehingga ibu berusaha untuk menggugurkan kandungannya dengan minum obat-obatan
atau minum minuman keras.
· Krisis
yang kedua, adalah masalah yang berkaitan dengan kesulitan orangtua, dalam
merawat, membimbing dan mendidik anak yang berkelainan. Orangtua tidak tahu
bagaimana harus merawat, mengasuh, mendidik anaknya yang berkelainan menjadi anak yang berpendidikan,
memiliki kehidupan yang layak, secara ekonomi, vocasional maupun sosial. Sehingga dalam berbagai tahapan kehadiran anak
menjadi beban semua anggota keluarga.
Berbagai
kasus dapat
digambarkan sebagai ilustrasi. Seorang ibu yang memiliki anak Autisme.
Kondisi anak Autisme ini memiliki
tingkah laku yang aneh, anak suka dengan benda-benda tertentu. Jika anak tersebut dibawa dilingkungan
masyarakat yang belum paham adanya kondisi anak baik segi psikis, sosial, dan model komunikasinya,andangannya yang tidak terfokus,
dan lain-lain,maka orangtuanya akan malu jika anaknya timbul keanehan-keanehan
di hadapan orang lain, mungkin juga akan
menjadi bahan pembicaraan yang aneh. Di
samping kekhususan dalam emosi dan komunikasinya, anak
Autisme juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit, sehinga mau tidak mau ekonomi
keluarga juga terpengaruh. Anak
Autisme akan berhasil dalam
pendidikan bila mendapat penanganan yang tepat, anak demikian membutuhkan
therapy tingkah laku, therapy accupashy, therapy sosial, therapy
medis dan lain-lain, yang semuanya
memerlukan biaya yang tidak sedikit.
Dari
kasus tersebut dapat pula digambarkan bahwa orangtua merasa terpukul atau schock dengan kondisi anaknya, orangtua
merasa ragu-ragu untuk merawat anaknya, perasaan benci pada diri sendiri dan
merasa berdosa. Banyak orangtua yang menghindar dari kenyataan sehingga anaknya
di sembunyikan dalam kamar yang tidak terlihat oleh orang lain, atau
menyerahkan ke panti-panti. Tetapi ada
pula kelompok orang tua yang dengan penuh kasih sayang mencarikan
pengobatan, berusaha maksimal untuk memelihara
dengan jalan mencari informasi-informasi pada para profesional. Ini adalah
menunjukkan bahwa penerimaan orangtua terhadap kehadiran anak berkelainan
bervariasi. Pada masa-masa yang akan datang tentu saja banyak orang tua yang
telah menyadari bahwa anak berkebutuhan khusus mendapatkan kesempatan untuk bersekolah , orangtua
mengharapkan pada anaknya untuk berkembang lebih baik dengan menyekolahkan
anaknya sehingga dapat pergi kesekolah yang terdekat dari tempat tinggalnya.
No comments:
Post a Comment