Friday, March 3, 2017

TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK



A.  Konsep / Pandangan terhadap Pembelajaran
Teori behavioristik adalah teori beraliran behaviorisme yang merupakan salah satu aliran psikologi. Teori ini memandang individu hanya dari sisi jasmaniyah, dan mengabaikan aspek-aspek mental. Sehingga dengan kata lain behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat, dan perasaan individu dalam suatu belajar.
Tokoh-tokoh dan pemikirannya :
1.        Thorndikse : Koneksionisme
Thorndike adalah seorang pendidik dan sekaligus psikolog berkebangsaan Amerika. Menurutnya, belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi (koneksi) antara peristiwa yang disebut dengan Stimulus (S) dengan Respon (R). Stimulus adalah perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi/berbuat. Sedangkan respon adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang.
   
2.        Teori Belajar Operant Conditioning
B.F. Skinner sebagai tokoh belajar Operant Conditioning berpendapat bahwa belajar menghasilkan perubahan perilaku yang dapat diamati, sedang perilaku dan belajar diubah oleh kondisi lingkungan. Teori Skinner sering disebut Operant Conditioning yang berunsur rangsangan atau stimuli, respon, dan konsekuensi. Stimuli (tanda syarat) bertindak sebagai pemancing respon, sedangkan konsekuensi tanggapan dapat bersifat positif atau negatif, namun keduanya memperkukuh atau memperkuat (reinforcement).
Perbandingan antara teori belajar classical conditioning dan teori belajar operant conditioning dikemukakan oleh Skinner dan Lefrancois. Skinner menyebutkan bahwa banyak respon yang tidak hanya dipandang stimuli tetapi dapat dikondisikan pada stimuli lain. Respon ini adalah kategori perilaku pertama, disebut respondent behavior karena perilaku muncul sebagai respon atas stimuli. Selanjutnya dapat muncul kategori perilaku kedua (perilaku yang tidak dipancing stimuli), yang disebut operant behavior sebab telah dikerjakan peserta didik.
Model perilaku belajar yang digambarkan di atas menunjukkan bahwa hadiah (reward) hadir beriringan dengan situasi atau stimuli yang membedakannya dari situasi lainnya, pada saat diberi penguatan. Penguatan ini berfungsi sebagai stimuli yang memunculkan perilaku operant (seusai belajar berlangsung). Ketika perilaku operant diperkukuh, peluang munculnya perilaku seperti ini di masa mendatang akan semakin meningkat.
Tidak seluruh situasi ditangani atau direspon peserta didik walaupun ada peluang terjadinya operant learning, karena dalam diri peserta didik terjadi generalisasi, diferensiasi, atau diskriminasi. Generalisasi adalah pola merespon yang dilakukan individu terhadap lingkungan atau stimuli serupa, sedangkan diferensiasi adalah pola merespon individu dengan cara mengekang diri untuk tidak merespon karena ada perbedaan antar dua situasi serupa meski tidak sama, yang sebenarnya sesuai direspon. Menggeneralisasi berarti merespons situasi serupa, sedangkan mendiferensiasi berarti merespon dengan cara membedakan antara situasi saat dua respon identik yang tidak sesuai dimunculkan.

3.    Pavlov : Classic Conditioning
Pavlov berasumsi bahwa dengan menggunakan rangsangan-rangsangan tertentu, perilaku manusia dapat berubah sesuai dengan apa yang diinginkan. Kemudian Pavlov mengadakan eksperimen dengan menggunakan binatang (anjing) karena ia menganggap binatang memiliki kesamaan dengan manusia.
Pavlov mengadakan percobaan dengan cara mengadakan operasi leher pada seekor anjing, sehingga keluar kelenjar air liurnya dari luar. Apabila diperlihatkan sesuatu makanan, maka akan keluar air liur anjing tersebut. Kemudian dalam percobaan berikutnya sebelum makanan diperlihatkan, diperlihatkanlah sinar merah terlebih dahulu, kemudian baru makanan. Dengan sendirinya air liurpun akan keluar pula. Apabila perbuatan demikian dilakukan berulang-ulang, maka pada suatu ketika dengan hanya memperlihatkan sinar merah saja tanpa makanan air liurpun akan keluar pula.
Makanan adalah rangsangan wajar, sedangkan merah rangsangan buatan, ternyata kalau perbuatan yang demikian berulang-ulang, rangsangan buatan ini akan menimbulkan syarat (kondisi) untuk timbulnya air liur pada anjing tersebut. Dari eksperimen tersebut, setelah pengkondisian atau pembiasaan, dapat diketahui bahwa daging yang menjadi stimulus alami dapat digantikan oleh sinar merah sebagai stimulus yang dikondisikan (conditional stimulus).


B.     Penerapan Teori Behaviorisme dalam Pembelajaran
Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran yaitu karena memandang pengetahuan adalah objektif, pasti, tetap dan tidak berubah. Pengetahuan disusun dengan rapi sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan (transfer of knowledge) kepada orang yang belajar. Fungsi pikiran adalah untuk menjiplak struktur pengetahuan yang sudah ada melalui proses berfikir yang dapat dianalisis dan dipilih, sehingga makna yang dihasilkan dari proses berfikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan tersebut.

No comments:

Post a Comment

Deskripsi Tinta Printer

 Deskripsi Umum Tinta Printer Tinta printer adalah cairan berwarna (atau hitam) yang digunakan dalam printer untuk membuat gambar atau teks ...

Blog Archive