Sejak sekitar abad ke-8 M
hingga abad ke-20 M, Islam telah melahirkan ribuan ilmuwan, baik dalam bidang
ilmu filsafat, kalam, tasawuf maupun sains, tekhnologi, dan seni. Apa-pun
bidangnya, mereka adalah tokoh-tokoh langka yang telah memperkaya dunia ilmu
pengetahuan bahkan secara khusus menjadi simbol kemajuan peradaban Islam.
Berikut diantara sarjana-sarjana Muslim terkenal beserta karyanya.
a. Ibnu Musa Al-Khawarizmi (Astronom, Penemu
Algoritma dan Aljabar).
Tak banyak anak didik yang
tahu, siapa yang orang yang dikenal sebagai bapak dan penemu dua cabang ilmu
matematika, yaitu Algoritma dan Aljabar. Dialah Abu Abdullah Muhammad Ibnu Musa
Al-Khawirzmi, ilmuan Muslim penemu Algoritma dan Aljabar. Nama Algoritma sendiri
diambil dari nama penemunya, yaitu Al-Khawarizmi. Di kalangan ilmuan Barat ia
lebih dikenal dengan nama Algorizm.
Abu Abdullah Muhammad Ibnu
Musa Al-Khawarizmi (770-840 M.) ilmuan yang berjasa besar dalam memajukan ilmu
pengetahuan ini lahir di Khawarizm (Kheva), kota di selatan sungai Oxus (kini
Uzbekistan) pada tahun 770 M. kedua orang tuanya kemudian pindah ke sebuah
tempat di selatan kota Baghdad (Irak), ketika ia masih kecil. Al-Khawarizmi
hidup di masa kekhalifahan Bani Abbasiyah, yakni Al-Makmun, yang memerintah pada
813-833 M. (Sucipto, The Great Muslim Scientist, 2008, hal: 16).
Sejarah mencatat,
Al-Khawarizmi dikenal sebagai orang yang memperkenalkan konsep Al-Goritma dalam
Matematika. Ia adalah penemu beberapa cabang ilmu dan konsep matematikayang
dikenal sebagai astronom geografer. Selain Algoritma, teori Aljabar juga
merupakan buah fikirnya. Nama Aljabar sendiri diambil dari bukunya yang
terkenal, yakni Al-Jabr wa-al-Muqabilah. Ia mengembangkan tabel rincian
trigonometri yang memuat fungsi sinus, kosinus, tangen dan kotangen serta
konsep diferensiasi.
Tak hanya itu, di bidang
ilmu ukur, Al-Khawarizmi juga dikenal sebagai peletak rumus ilmu ukur dan
penyusun daftar logaritma serta hitungan desimal. Sayangnya beberapa sarjana
Barat seperti John Napier (1550-1620 M.) dan Simon Stevin (1548-1620 M.)
mengklaim bahwa penemuan tersebut merupakan hasil pemikiran meraka. Masih
berkaitan dengan masalah perhitungan, ternyata Al-Khawarizmi juga seorang ahli
ilmu bumi. Bukunya Kitab Surat Al-ard, menjadi dasar ilmu bumi Arab.
Naskah itu hingga kini masih disimpan di Strassburg, Jerman oleh Abdul Fida,
seorang ahli ilmu bumi terkenal. Petualangan dan pengabdian panjangnya itu baru
berakhir pada tahun 840 M. ketika Sang Khaliq memanggilnya. Al-Khawarizmi meninggalkan
warisan khazanah dalam ilmu pengetahuan dunia.
b. Ibnu Khaldun (Bapak Ilmu Sosiologi Politik).
Sejatinya pemikir dan
ulama peletak dasar ilmu sosiologi dan politik melalui karya magnum opus-nya,
Al Muqaddimah. Ia lahir di Tunisia pada 1 Ramadhan 732 H/ 27 Mei 1332
dengan nama Abdurrahman bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Al Hasan bin
Jabir bin Muhammad bin Ibrahim bin Abdurrahman bin Ibnu Khaldun. Moyangnya
berasal dari Hadramaut, Yaman yang bermigrasi ke Sevilla, Andlusia (Spanyol).
Namun keluarganya harus pindah ketika Sevilla dikuasai Kristen.
Pendidikannya dimulai di
Tunisia dan di Fez (Maroko) dengan mempelajari berbagai bidang ilmu: menghafal
Al-Qur’an, mempelajari tata bahasa, hukum Islam (syari’ah), hadis, retorika,
filologi dan puisi. Selain itu ia mempelajari sastra Arab, filsafat, matematika
dan astronomi. Khaldun sangat terlibat dengan politik. Kariernya di bidang
politik membawanya keluar masuk istana, ia sebagai pemenang maupun pecundang.
Usia mudanya dihabiskan sebagai pendamping, penasihat sultan serta menduduki
beraneka jabatan.
Salah satu di antara karya
Ibnu Khaldun bahwa ia memetakan masyarakat dengan interaksi sosial, politik,
ekonomi dan geografi yang melingkupinya. Menurutnya, organisme dapat tumbuh dan
matang karena sebab-sebab nyata yang mempengaruhinya. Formasi masyarakat,
fikiran yang dituangkan dalam karya besarnya, Muqaddimah, misalnya,
dikatakan sebagai hasrat manusia untuk berkumpul, bersaing, lalu memperebutkan
kepemimpinan. Mereka diikat dengan solidaritas ashabiyah (ungkapan
pra-Islam) yang diarahkan oleh para pimpinannya. Ia memperkirakan bahwa
solidaritas itu berlangsung empat generasi.
Model ini menempatkan Ibnu
Khaldun sebagai penganut teori siklus sejarah. Kontribusi Ibnu Khaldun dalam
Ilmu pengetahuan memang tidak sedikit. Setidaknya berkatnyalah dasar-dasar ilmu
sosiologi politik dan filsafat dibangun, tak heran jika warisannya itu banyak
diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Seorang
sejarawan Barat, Dr Boer, menulis “Ibnu Khaldun tak pelak lagi, adalah orang
pertama yang mencoba menerangkan dengan lengkap evolusi dan kemajuan suatu
kemasyarakatan, dengan alasan adanya sebab-sebab dan faktor-faktor tertentu,
iklim, alat, produksi, dan lain sebagainya, serta akibat-akibatnya pada
pembentukan cara berfikir manusia, dan pembentukan masyarakatnya.
No comments:
Post a Comment