A.
Pengertian Berkah
Secara harfiah, berkah berarti an
nama’ waz ziyadah yakni tumbuh dan berkembang. “Berkah” atau “al-Barakah”
menurut bahasa berarti berkembang, bertambah dan kebahagiaan. (Al-Misbah Al
Munir oleh al-Faiyyumy 1/45, al-Qamus al-Muhizh oleh al-Fairuz Abadi 2/1236 da
Lisamul Arab oleh Ibnu Manzhur 10/395). Imam An-Nawawi berkata “Asal makna
keberkahan ialah kebaikan yang banyak dan abadi.” (Siroh Shahih Muslim oleh An-Nawawi,
1/225).
Adapun bila ditinjau melalui dalil-dalil dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah
maka “al-barakah” makanya merupakan perwujudan yang tidak jauh dari makna
“al-barakah” dalam ilmu bahasa. Berkah adalah kebaikan yang bersumber dari
Allah SWT yang ditetapkan terhadap sesuatu sebagaimana mestinya sehingga apa
yang diperoleh dan dimiliki akan selalu berkembang dan bertambah besar manfaat
kebaikannya.
Walau demikian, kebaikan dan perkembangan tersebut tidak boleh hanya
dipahami dalam wujud yang riil, yaitu jumlah harta yang senantiasa bertambah
dan berlipat ganda. Kebaikan dan perkembangan harta dapat saja terwujud dengan
berlipat gandanya kegunaan harta tersebut, walaupun jumlahnya tidak bertambah
banyak atau tidak berlipat ganda.
Misalnya, mungkin saja seseorang yang hanya memiliki sedikit dari harta
benda, akan tetapi karena harta itu penuh dengan keberkahan, maka ia terhindar
dari berbagai mara bahaya, penyakit, dan tenteram hidupnya. Dan selebihnya,
bisa saja seseorang yang hartanya melimpah ruah, akan tetapi karena tidak
diberkahi Allah SWT, maka hartanya tersebut akan menjadi sumber bencana,
penyakit dan bahkan mungkin ia tidak dapat memanfaatkan harta tersebut.
Dalam Al-Qur’an Surat Qaaf ayat 9-11 menyebutkan :
“Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami
tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, dan
pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun- susun,
untuk menjadi rezki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu
tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan.”
Bila keberkahan telah menyertai hujan yang turun dari langit, tanah
gersang, kering kerontang menjadi subur makmur, kemudian muncullah taman yang
indah, buah-buahan dan bijian-bijian yang melimpah ruah. Sehingga negeri yang
dikarunia Allah SWT dengan hujan yang berkah akan menjadi negeri yang gemah ripah loh jinawi.
Dalam surat Saba diceritakan mengenai bangsa Saba.
“Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat
kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri.
(kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezki yang
(dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah
negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun".
Demikianlah Allah SWT menyimpulkan kisah bangsa Saba, suatu negeri yang
tatkala penduduknya beriman dan beramal saleh, penuh dengan keberkahan
sampai-sampai ulama ahli tafsir mengisahkan bahwa dahulu wanita kaum Saba tidak
perlu untuk memanen buah-buahan kebun mereka. Untuk mengambil hasil kebunnya
mereka cukup membawa keranjang di atas kepalanya, lalu melintas di kebunnya
maka buah-buahan yang telah masak akan berjatuhan sudah dapat memenuhi
keranjangnya tanpa harus bersusah payah memetik atau mendatangkan pekerja yang
memanennya.
Ibnu Qayyim berkata, “ Tidaklah kelapangan rezeki dan amalan diukur
dengan jumlahnya yang banyak, tidaklah panjang umur dilihat dari bulan dan
tahunnya yang berjumlah banyak. Akan tetapi, kelapangan rezeki & umur
diukur dengan keberkahannya.” (Al-Jawabul Kafi karya Ibnu Qayyim, 56).
B.
Bentuk Keberkahan
Secara
umum, keberkahan yang diberikan Allah kepada orang-orang yang beriman bisa kita
bagi ke dalam tiga bentuk.
Pertama,
berkah dalam keturunan, yakni dengan lahirnya generasi yang saleh. Generasi
yang saleh adalah yang kuat imannya, luas ilmunya dan banyak amal salehnya, ini
merupakan sesuatu yang amat penting, apalagi terwujudnya generasi yang
berkualitas memang dambaan setiap manusia. Kelangsungan Islam dan umat Islam
salah satu faktornya adalah adanya topangan dari generasi yang saleh. Generasi
semacam ini juga memiliki jasmani yang kuat, memiliki kemandirian termasuk
dalam soal harta dan bisa menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya. Keberkahan
semacam ini telah diperoleh Nabi Ibrahim as, dan keluarganya yang ketika usia
mereka sudah begitu tua ternyata masih dikarunia anak, bahkan tidak hanya
Ismail yang saleh, sehat dan cerdas, tapi juga Ishak dan Ya’kub. Sebagaimana
diceritakan dalam Al-Qur’an Surat Huud ayat 71-73 sebagai berikut :
| “Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya'qub. Isterinya berkata: "Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam keadaan yang sudah tua pula?. Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh." Para malaikat itu berkata: "Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah." | ||||
Kedua,
keberkahan dalam soal makanan yakni makanan yang halal dan thayyib, hal ini
karena ulama ahli tafsir, misalnya Ibnu Katsir menjelaskan bahwa keberkahan
dari langit dan bumi sebagaimana yang disebutkan dalam firman surat Al A’raf:
96 berikut adalah rizki yang diantara rizki itu adalah makanan.
“Jikalau
sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan
melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka
mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan
perbuatannya.”
Makanan
yang diberkahi selain halal juga yang thayyib, yakni yang sehat dan bergizi
sehingga makanan yang halal dan thayyib itu tidak hanya mengenyangkan tapi juga
padat menghasilkan tenaga yang kuat untuk selanjutnya dengan tenaga yang kuat
itu digunakan untuk melaksanakan dan menegakkan nilai-nilai kebaikan sebagai bukti
dari ketakwaannya kepada Allah SWT.
Ketiga,
berkah dalam soal waktu yang cukup tersedia dan dimanfaatkannya untuk kebaikan,
baik dalam bentuk mencari harta, memperluas ilmu maupun memperbanyak amal yang
saleh, karena itu Allah menganugerahi kepada kita waktu, baik siang maupun
malam dalam jumlah yang sama, yakni 24 jam setiap harinya, tapi bagi orang yang
diberkahi Allah maka dia bisa memanfaatkan waktu yang 24 jam itu semaksimal
mungkin sehingga pencapaian sesuatu yang baik ditempuh dengan penggunaan waktu
yang efisien. Sudah begitu banyak manusia yang mengalami kerugian dalam hidup
ini karena tidak bisa memanfaatkan waktu dengan baik, sementara salah satu
karakteristik waktu adalah tidak akan bisa kembali lagi bila sudah berlalu.
C. Kunci Keberkahan
Kunci
yang harus dimiliki dan usahakan dalam hidup ini untuk mencari keberkahan
sekurang-kurangnya ada dua faktor yaitu sebagai berikut :
1.
Iman
dan Takwa yang Benar
Allah SWT
akan menganugerahkan keberkahan kepada hamba-hambaNya yang beriman dan bertakwa
kepada-Nya. Semakin mantap iman dan takwa yang dimiliki, maka semakin besar
keberkahan yang Allah berikan kepada kita. Karena itu menjadi keharusan untuk
terus memperkokoh iman dan takwa kepada Allah SWT. Salah satu ayat yang amat
menekankan peningkatan takwa kepada orang yang beriman adalah firman Allah :
“Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa
kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan
beragama Islam.” (Q.S. 3:102)
Keimanan dan ketakwaan yang benar selalu
ditunjukkan oleh seorang mu’min dalam bentuk melaksanakan perintah Allah SWT
dan meninggalkan larangan-Nya, baik dalam keadaan senang maupun susah, dalam
keadaan sendiri maupun bersama orang lain. Tegasnya keimanan dan ketakwaan itu
dibuktikan dalam situasi dan kondisi yang bagaimanapun juga dan dimanapun dia
berada.
2.
Berpedoman
kepada Al-Qur’an dan Sunnah
Al-Qur’an
merupakan sumber keberkahan sehingga apabila kita menjalankan pesan-pesan yang
terkandung di dalam Al-Qur’an dan berpedoman kepadanya dalam berbagai aspek
kehidupan, niscaya kita akan memperoleh keberkahan dari Allah SWT. Allah SWT
berfirman yang artinya :
“Dan
Al Quran ini adalah suatu kitab (peringatan) yang mempunyai berkah yang telah
Kami turunkan. Maka mengapakah kamu mengingkarinya?” (QS. 21:50)
Rasulullah
SAW bersabda :
“Aku
tinggalkan untukmu dua perkara. Kamu tidak akan tersesat selama berpegang teguh
pada keduanya, yakni Al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Ibnu Abdil Bar)
Al-Qur’an
harus dijadikan pedoman dalam kehidupan ini karena Al-Qur’an merupakan wahyu
dari Allah SWT sehingga tidak akan ditemukan kelemahan dari Al-Qur’an untuk
diamalkan dalam kehidupan sehari-hari baik menyangkut aspek pribadi, keluarga,
masyarakat maupun bangsa.
D. Pembahasan
Ketika
muncul salah satu pertanyaan siapa yang menginginkan hidup dengan penuh
keberkahan? Tentu kita sepakat bahwa masing-masing manusia menginginkan hidup
yang penuh berkah, baik di masa sekarang maupun di masa yang akan datang.
Permasalahannya adalah bagaimana setiap manusia menggapai hari esok menjadi
barokah, tentu terdapat berbagai cara dan jalan yang ditempuh untuk mencapai
keberkahan tersebut, artinya ketika keberkahan tersebut dapat ditebus dengan
mempergunakan tebusan berupa kebendaan, maka orang akan berlomba untuk
mendapatkannya, sebesar apapun jumlah materinya sebagai tebusan.
Permasalahannya, bahwa ternyata keberkahan tersebut
tidak dapat ditebus dengan apapun, sebab hal ini berhubungan dengan tingkat
kepasrahan manusia kepada Allah SWT yang selama ini telah memberikan berbagai
kebutuhan, fasilitas serta pemenuhan-pemenuhan kebendaan lainnya, dan hal
inilah yang membedakan bahwa keberkahan dapat digapai oleh seseorang jika orang
tersebut mau menerima segala sesuatu ketentuan apapun yang datang dari Allah
SWT dengan tangan terbuka, artinya hanya orang-orang yang ikhlaslah yang mampu
menggapai keberkahan dari Allah SWT.
Keberkahan
pada kebanyakan manusia biasanya diukur oleh hal-hal yang berhubungan dengan
keduniaan, seperti ada ungkapan “biarlah rejeki kita sedikit asal rejeki yang
sedikit itu membawa keberkahan”. Ungkapan ini mungkin benar adanya, tetapi pada
beberapa sisi terutama dikaitkan dengan ukuran keduniaan maka tidak sepenuhnya
benar, sebab keberkahan dimaknai oleh kalangan orang-orang suci, orang-orang yang
sudah mendekatkan diri kepada Allah SWT dan berserah diri dengan sepenuhnya
itulah sebenarnya hakikat dari keberkahan, sehingga ketika kita ingin
mendapatkan keberkahan, maka serahkan diri kita sepenuhnya kepada pembuat
kebijakan pertama dan utama, yakni Allah SWT.
Untuk
memahami secara hakiki tentang bagaimana keberkahan yang dicontohkan oleh
orang-orang suci, orang-orang yang sudah dekat dan pasrah hanya kepada Allah
SWT dia bergantung, maka diperlukan bekal yang disebut dengan ilmu, sebab tanpa
bekal ilmu, maka akan mengalami kesulitan bagaimana cara manusia mendekatkan
diri kepada Khaliq-Nya, dan hal ini sesuai dengan janji Allah SWT bahwa “Allah
SWT akan mengangkat beberapa derajat orang-orang yang berilmu pengetahuan di
atas orang-orang-orang yang beriman” . Artinya memang iman itu harus dengan
ilmu dan ilmu itulah yang akan menguatkan kadar keimanan kita kepada Allah SWT.
Pengetahuan dalam kata lain ilmu merupakan bekal yang
prinsip bagi manusia, sebab beberapa keterangan seperti yang terungkap dalam
hadits nabi jelas-jelas disebutkan bahwa “ Kun aliman, au mutta aliman, au
mustamian au muhhibban fatahlika”. Hendaklah kalian menjadi manusia yang
alim yang dapat memberikan pencerahan bagi kehidupan manusia, jika tidak
jadilah kamu manusia yang dapat memberikan pengetahuan kepada yang
membutuhkannya, jika tidak, jadilah kamu sekalian dari manusia yang termasuk ke
dalam kategori orang yang cinta pada pengetahuan, dan jika ketiganya tidak
terdapat pada diri manusia, maka niscaya kamu manusia akan masuk ke dalam
golongan orang yang celaka.
Dalam
kajian yang lain disebutkan pula bahwa “Man aroda dunya faalaihi bil ilmi,
waman arodal akhirat faalaihi bil ilmi waman arodahuma fa’alihi bil ilmi”. Barang
siapa yang menghendaki suatu kebaikan dalam masalah-masalah dunia serta yang
menyelimutinya, maka hendaklah manusia dibekali oleh sesuatu yang disebut
dengan ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kebaikan hidup untuk akhirat,
maka hendaklah manusia dibekali pula dengan ilmu dan barang siapa yang
menghendaki kebajikan diantara keduanya, maka “ ilmu” menjadi jawaban yang
pasti untuk mengharap kebaikan tersebut.
Keluar dari kemelut hidup dan kehidupan
manusia, Allah SWT telah memberikan landasan yang jelas, antara lain terdapat
dalam surat Al-Ashr, “Innal insana lafii husrin illa ladina amanu waamilu
sholihat wata saubil hakki watawa saubis sobri. Ayat ini memberikan
penjelasan bahwa setiap manusia berada dalam kerugian, tanpa memandang jenis
dan golongan ketika kita melihat keterangan tersebut, maka seluruh manusia
berada dalam kerugian sebab dalam literatur bahasa Arab jika kata “Inna”
menghadapi “Alif Lam”, maka hal ini menunjukkan keumuman, artinya tentu
seluruh manusia dalam keadaan merugi, baik tua, muda, laki-laki, perempuan
serta bagaimana pun label keduniaan melengkapinya, jelaslah manusia seluruhnya
ada dalam kerugian.
Salah satu sifat dari Maha
Bijaksananya Allah SWT adalah jika membuat suatu kepastian hukum tentang
meruginya manusia, adalah dilanjutkan dengan keterangan makna kalimat yang
mengandung kehususan atau pengecualian, artinya terdapat beberapa golongan
manusia yang tidak termasuk ke dalam merugi, yakni, orang-orang yang beriman,
dan beramal shaleh, serta berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran, hal inilah
sebetulnya yang harus dipersiapkan oleh manusia agar hidup dan kehidupannya
ketemu dengan prinsip hidup mulia dan meninggal dalam khusnul khatimah, amin…!
No comments:
Post a Comment