Wednesday, March 8, 2017

MERAIH KEBERKAHAN HIDUP



A.    Pengertian Berkah
Secara harfiah, berkah berarti an nama’ waz ziyadah yakni tumbuh dan berkembang. “Berkah” atau “al-Barakah” menurut bahasa berarti berkembang, bertambah dan kebahagiaan. (Al-Misbah Al Munir oleh al-Faiyyumy 1/45, al-Qamus al-Muhizh oleh al-Fairuz Abadi 2/1236 da Lisamul Arab oleh Ibnu Manzhur 10/395). Imam An-Nawawi berkata “Asal makna keberkahan ialah kebaikan yang banyak dan abadi.” (Siroh Shahih Muslim oleh An-Nawawi, 1/225).
Adapun bila ditinjau melalui dalil-dalil dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah maka “al-barakah” makanya merupakan perwujudan yang tidak jauh dari makna “al-barakah” dalam ilmu bahasa. Berkah adalah kebaikan yang bersumber dari Allah SWT yang ditetapkan terhadap sesuatu sebagaimana mestinya sehingga apa yang diperoleh dan dimiliki akan selalu berkembang dan bertambah besar manfaat kebaikannya.
Walau demikian, kebaikan dan perkembangan tersebut tidak boleh hanya dipahami dalam wujud yang riil, yaitu jumlah harta yang senantiasa bertambah dan berlipat ganda. Kebaikan dan perkembangan harta dapat saja terwujud dengan berlipat gandanya kegunaan harta tersebut, walaupun jumlahnya tidak bertambah banyak atau tidak berlipat ganda.
Misalnya, mungkin saja seseorang yang hanya memiliki sedikit dari harta benda, akan tetapi karena harta itu penuh dengan keberkahan, maka ia terhindar dari berbagai mara bahaya, penyakit, dan tenteram hidupnya. Dan selebihnya, bisa saja seseorang yang hartanya melimpah ruah, akan tetapi karena tidak diberkahi Allah SWT, maka hartanya tersebut akan menjadi sumber bencana, penyakit dan bahkan mungkin ia tidak dapat memanfaatkan harta tersebut.


Dalam Al-Qur’an Surat Qaaf ayat 9-11 menyebutkan  :
 









“Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun- susun, untuk menjadi rezki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan.”

Bila keberkahan telah menyertai hujan yang turun dari langit, tanah gersang, kering kerontang menjadi subur makmur, kemudian muncullah taman yang indah, buah-buahan dan bijian-bijian yang melimpah ruah. Sehingga negeri yang dikarunia Allah SWT dengan hujan yang berkah akan menjadi negeri yang gemah ripah loh jinawi.
Dalam surat Saba diceritakan mengenai bangsa Saba.
 





“Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun".

Demikianlah Allah SWT menyimpulkan kisah bangsa Saba, suatu negeri yang tatkala penduduknya beriman dan beramal saleh, penuh dengan keberkahan sampai-sampai ulama ahli tafsir mengisahkan bahwa dahulu wanita kaum Saba tidak perlu untuk memanen buah-buahan kebun mereka. Untuk mengambil hasil kebunnya mereka cukup membawa keranjang di atas kepalanya, lalu melintas di kebunnya maka buah-buahan yang telah masak akan berjatuhan sudah dapat memenuhi keranjangnya tanpa harus bersusah payah memetik atau mendatangkan pekerja yang memanennya.
Ibnu Qayyim berkata, “ Tidaklah kelapangan rezeki dan amalan diukur dengan jumlahnya yang banyak, tidaklah panjang umur dilihat dari bulan dan tahunnya yang berjumlah banyak. Akan tetapi, kelapangan rezeki & umur diukur dengan keberkahannya.” (Al-Jawabul Kafi karya Ibnu Qayyim, 56).


B.     Bentuk Keberkahan
Secara umum, keberkahan yang diberikan Allah kepada orang-orang yang beriman bisa kita bagi ke dalam tiga bentuk.
Pertama, berkah dalam keturunan, yakni dengan lahirnya generasi yang saleh. Generasi yang saleh adalah yang kuat imannya, luas ilmunya dan banyak amal salehnya, ini merupakan sesuatu yang amat penting, apalagi terwujudnya generasi yang berkualitas memang dambaan setiap manusia. Kelangsungan Islam dan umat Islam salah satu faktornya adalah adanya topangan dari generasi yang saleh. Generasi semacam ini juga memiliki jasmani yang kuat, memiliki kemandirian termasuk dalam soal harta dan bisa menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya. Keberkahan semacam ini telah diperoleh Nabi Ibrahim as, dan keluarganya yang ketika usia mereka sudah begitu tua ternyata masih dikarunia anak, bahkan tidak hanya Ismail yang saleh, sehat dan cerdas, tapi juga Ishak dan Ya’kub. Sebagaimana diceritakan dalam Al-Qur’an Surat Huud ayat 71-73 sebagai berikut :
“Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya'qub. Isterinya berkata: "Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam keadaan yang sudah tua pula?. Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh." Para malaikat itu berkata: "Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah."

Kedua, keberkahan dalam soal makanan yakni makanan yang halal dan thayyib, hal ini karena ulama ahli tafsir, misalnya Ibnu Katsir menjelaskan bahwa keberkahan dari langit dan bumi sebagaimana yang disebutkan dalam firman surat Al A’raf: 96 berikut adalah rizki yang diantara rizki itu adalah makanan.




“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

Makanan yang diberkahi selain halal juga yang thayyib, yakni yang sehat dan bergizi sehingga makanan yang halal dan thayyib itu tidak hanya mengenyangkan tapi juga padat menghasilkan tenaga yang kuat untuk selanjutnya dengan tenaga yang kuat itu digunakan untuk melaksanakan dan menegakkan nilai-nilai kebaikan sebagai bukti dari ketakwaannya kepada Allah SWT.
Ketiga, berkah dalam soal waktu yang cukup tersedia dan dimanfaatkannya untuk kebaikan, baik dalam bentuk mencari harta, memperluas ilmu maupun memperbanyak amal yang saleh, karena itu Allah menganugerahi kepada kita waktu, baik siang maupun malam dalam jumlah yang sama, yakni 24 jam setiap harinya, tapi bagi orang yang diberkahi Allah maka dia bisa memanfaatkan waktu yang 24 jam itu semaksimal mungkin sehingga pencapaian sesuatu yang baik ditempuh dengan penggunaan waktu yang efisien. Sudah begitu banyak manusia yang mengalami kerugian dalam hidup ini karena tidak bisa memanfaatkan waktu dengan baik, sementara salah satu karakteristik waktu adalah tidak akan bisa kembali lagi bila sudah berlalu.

C.    Kunci Keberkahan
Kunci yang harus dimiliki dan usahakan dalam hidup ini untuk mencari keberkahan sekurang-kurangnya ada dua faktor yaitu sebagai berikut :
1.        Iman dan Takwa yang Benar
Allah SWT akan menganugerahkan keberkahan kepada hamba-hambaNya yang beriman dan bertakwa kepada-Nya. Semakin mantap iman dan takwa yang dimiliki, maka semakin besar keberkahan yang Allah berikan kepada kita. Karena itu menjadi keharusan untuk terus memperkokoh iman dan takwa kepada Allah SWT. Salah satu ayat yang amat menekankan peningkatan takwa kepada orang yang beriman adalah firman Allah :



“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Q.S. 3:102)

 Keimanan dan ketakwaan yang benar selalu ditunjukkan oleh seorang mu’min dalam bentuk melaksanakan perintah Allah SWT dan meninggalkan larangan-Nya, baik dalam keadaan senang maupun susah, dalam keadaan sendiri maupun bersama orang lain. Tegasnya keimanan dan ketakwaan itu dibuktikan dalam situasi dan kondisi yang bagaimanapun juga dan dimanapun dia berada.
2.        Berpedoman kepada Al-Qur’an dan Sunnah
Al-Qur’an merupakan sumber keberkahan sehingga apabila kita menjalankan pesan-pesan yang terkandung di dalam Al-Qur’an dan berpedoman kepadanya dalam berbagai aspek kehidupan, niscaya kita akan memperoleh keberkahan dari Allah SWT. Allah SWT berfirman yang artinya :
 



“Dan Al Quran ini adalah suatu kitab (peringatan) yang mempunyai berkah yang telah Kami turunkan. Maka mengapakah kamu mengingkarinya?” (QS. 21:50)

Rasulullah SAW bersabda :
“Aku tinggalkan untukmu dua perkara. Kamu tidak akan tersesat selama berpegang teguh pada keduanya, yakni Al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Ibnu Abdil Bar)

Al-Qur’an harus dijadikan pedoman dalam kehidupan ini karena Al-Qur’an merupakan wahyu dari Allah SWT sehingga tidak akan ditemukan kelemahan dari Al-Qur’an untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari baik menyangkut aspek pribadi, keluarga, masyarakat maupun bangsa.

D.    Pembahasan
Ketika muncul salah satu pertanyaan siapa yang menginginkan hidup dengan penuh keberkahan? Tentu kita sepakat bahwa masing-masing manusia menginginkan hidup yang penuh berkah, baik di masa sekarang maupun di masa yang akan datang. Permasalahannya adalah bagaimana setiap manusia menggapai hari esok menjadi barokah, tentu terdapat berbagai cara dan jalan yang ditempuh untuk mencapai keberkahan tersebut, artinya ketika keberkahan tersebut dapat ditebus dengan mempergunakan tebusan berupa kebendaan, maka orang akan berlomba untuk mendapatkannya, sebesar apapun jumlah materinya sebagai tebusan.
Permasalahannya, bahwa ternyata keberkahan tersebut tidak dapat ditebus dengan apapun, sebab hal ini berhubungan dengan tingkat kepasrahan manusia kepada Allah SWT yang selama ini telah memberikan berbagai kebutuhan, fasilitas serta pemenuhan-pemenuhan kebendaan lainnya, dan hal inilah yang membedakan bahwa keberkahan dapat digapai oleh seseorang jika orang tersebut mau menerima segala sesuatu ketentuan apapun yang datang dari Allah SWT dengan tangan terbuka, artinya hanya orang-orang yang ikhlaslah yang mampu menggapai keberkahan dari Allah SWT.
Keberkahan pada kebanyakan manusia biasanya diukur oleh hal-hal yang berhubungan dengan keduniaan, seperti ada ungkapan “biarlah rejeki kita sedikit asal rejeki yang sedikit itu membawa keberkahan”. Ungkapan ini mungkin benar adanya, tetapi pada beberapa sisi terutama dikaitkan dengan ukuran keduniaan maka tidak sepenuhnya benar, sebab keberkahan dimaknai oleh kalangan orang-orang suci, orang-orang yang sudah mendekatkan diri kepada Allah SWT dan berserah diri dengan sepenuhnya itulah sebenarnya hakikat dari keberkahan, sehingga ketika kita ingin mendapatkan keberkahan, maka serahkan diri kita sepenuhnya kepada pembuat kebijakan pertama dan utama, yakni Allah SWT.
Untuk memahami secara hakiki tentang bagaimana keberkahan yang dicontohkan oleh orang-orang suci, orang-orang yang sudah dekat dan pasrah hanya kepada Allah SWT dia bergantung, maka diperlukan bekal yang disebut dengan ilmu, sebab tanpa bekal ilmu, maka akan mengalami kesulitan bagaimana cara manusia mendekatkan diri kepada Khaliq-Nya, dan hal ini sesuai dengan janji Allah SWT bahwa “Allah SWT akan mengangkat beberapa derajat orang-orang yang berilmu pengetahuan di atas orang-orang-orang yang beriman” . Artinya memang iman itu harus dengan ilmu dan ilmu itulah yang akan menguatkan kadar keimanan kita kepada Allah SWT.
Pengetahuan dalam kata lain ilmu merupakan bekal yang prinsip bagi manusia, sebab beberapa keterangan seperti yang terungkap dalam hadits nabi jelas-jelas disebutkan bahwa “ Kun aliman, au mutta aliman, au mustamian au muhhibban fatahlika”. Hendaklah kalian menjadi manusia yang alim yang dapat memberikan pencerahan bagi kehidupan manusia, jika tidak jadilah kamu manusia yang dapat memberikan pengetahuan kepada yang membutuhkannya, jika tidak, jadilah kamu sekalian dari manusia yang termasuk ke dalam kategori orang yang cinta pada pengetahuan, dan jika ketiganya tidak terdapat pada diri manusia, maka niscaya kamu manusia akan masuk ke dalam golongan orang yang celaka.
Dalam kajian yang lain disebutkan pula bahwa “Man aroda dunya faalaihi bil ilmi, waman arodal akhirat faalaihi bil ilmi waman arodahuma fa’alihi bil ilmi”. Barang siapa yang menghendaki suatu kebaikan dalam masalah-masalah dunia serta yang menyelimutinya, maka hendaklah manusia dibekali oleh sesuatu yang disebut dengan ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kebaikan hidup untuk akhirat, maka hendaklah manusia dibekali pula dengan ilmu dan barang siapa yang menghendaki kebajikan diantara keduanya, maka “ ilmu” menjadi jawaban yang pasti untuk mengharap kebaikan tersebut.
Keluar dari kemelut hidup dan kehidupan manusia, Allah SWT telah memberikan landasan yang jelas, antara lain terdapat dalam surat Al-Ashr, “Innal insana lafii husrin illa ladina amanu waamilu sholihat wata saubil hakki watawa saubis sobri. Ayat ini memberikan penjelasan bahwa setiap manusia berada dalam kerugian, tanpa memandang jenis dan golongan ketika kita melihat keterangan tersebut, maka seluruh manusia berada dalam kerugian sebab dalam literatur bahasa Arab jika kata “Inna” menghadapi “Alif Lam”, maka hal ini menunjukkan keumuman, artinya tentu seluruh manusia dalam keadaan merugi, baik tua, muda, laki-laki, perempuan serta bagaimana pun label keduniaan melengkapinya, jelaslah manusia seluruhnya ada dalam kerugian.

Salah satu sifat dari Maha Bijaksananya Allah SWT adalah jika membuat suatu kepastian hukum tentang meruginya manusia, adalah dilanjutkan dengan keterangan makna kalimat yang mengandung kehususan atau pengecualian, artinya terdapat beberapa golongan manusia yang tidak termasuk ke dalam merugi, yakni, orang-orang yang beriman, dan beramal shaleh, serta berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran, hal inilah sebetulnya yang harus dipersiapkan oleh manusia agar hidup dan kehidupannya ketemu dengan prinsip hidup mulia dan meninggal dalam khusnul khatimah, amin…!

No comments:

Post a Comment

Deskripsi Tinta Printer

 Deskripsi Umum Tinta Printer Tinta printer adalah cairan berwarna (atau hitam) yang digunakan dalam printer untuk membuat gambar atau teks ...

Blog Archive