Perlu diketahui bersama,
sisi gelap dalam pola pendidikan yang dirumuskan oleh Amerika dan Eropa yaitu
tidak adanya muatan nilai ruhiyah, dan lebih mengedepankan logika materialisme
serta memisahkan antara agama dengan kehidupan yang dalam hal ini sering
disebut paham Sekulerisme. Implikasi yang bisa dirasakan namun jarang
disadari adalah adanya degradasi moral yang dialami oleh anak bangsa. Banyak
kasus buruk dunia pendidikan yang mencuat di permukaan dimuat oleh beberapa
media massa cukup meresahkan semua pihak yang peduli terhadap masa depan
pendidikan bangsa yang lebih baik.
Sebut saja tokoh Ibnu Sina
sebagai sosok yang dikenal peletak dasar ilmu kedokteran dunia namun beliau
juga faqih ad-diin terutama dalam hal ushul fiqh. Masih ada tokoh-tokoh dunia
dengan perannya yang penting dan masih menjadi acuan perkembangan sains dan
teknologi berasal dari kaum muslimin yaitu Ibnu Khaldun(bapak ekonomi), Ibnu
Khawarizm (bapak matematika), Ibnu Batutah (bapak geografi), Al-Khazini dan
Al-Biruni (Bapak Fisika), Al-Battani (Bapak Astronomi), Jabir bin Hayyan (Bapak
Kimia), Ibnu Al-Bairar al-Nabati (bapak Biologi) dan masih banyak lagi lainnya.
Mereka dikenal tidak sekadar paham terhadap sains dan teknologi namun diakui
kepakarannya pula di bidang ilmu diniyyah.
Dalam buku milik Mehdi
Nakosteen (2003, hal.85) disebutkan beberapa kontribusi muslim terhadap dunia
pendidikan sebagai berikut :
- Melalui abad keduabelas
dan sebagian abad ke tiga belas, karya-karya Muslim tentang sains,
filsafat, dan bidang-bidang lain telah diterjemahkan ke dalam bahasa
latin, terutama dari bahasa Spanyol dan memperkaya kurikulum barat,
khususnya Eropa barat laut
- Orang-orang Muslim, telah
memberi kepada Barat metode eksperimental, sekalipun masih kurang
sempurna.
- Sistem notasi dan desimal
Arab telah diperkenalkan kepada Arab
- Karya-karya terjemahan
mereka, terutama dari orang-orang seperti Avicenna dalam ilmu kedokteran,
sudah digunakan sebagai teks (kuliah di dalam kelas-kelas sekolah tinggi,
jauh ke dalam pertengahan abad ke tujuh belas.
- Mereka merangsang
pemikiran orang-orang Eropa, dipelajari kembali hal itu dengan
kebudayaan-kebudayaan klasik dan lainnya, sehingga membantu menghasilkan
(abad) Renaisance. Mereka adalah perintis universitas-universitas Eropa,
mereka telah mendirikan ratusan sekolah tinggi sebelum Eropa
- Mereka memelihara
pemikiran Greco-Persian ketika Eropa bersikap tidak toleran terhadap
kebudayaan-kebudayaan Pagan
- Mahasiswa-mahasiswa Eropa
di dalam Universitas Muslim membawa kembali (ke negaranya) metode-metode
baru tentang pengajaran
- Mereka telah memberi
kontribusi tentang pengetahuan rumahsakit—rumah sakit, sanitasi dan
makanan kepada Eropa.
No comments:
Post a Comment