Konsep dasar belajar menurut teori konstruktivisme
adalah pengetahuan baru dikonstruksi sendiri oleh peserta didik secara aktif
berdasarkan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya. Pendekatan
konstruktivisme dalam proses pembelajaran didasari oleh kenyataan bahwa tiap
individu memiliki kemampuan untuk merekonstruksi kembali pengalaman atau
pengetahuan yang telah dimilikinya. Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa
pembelajaran konstruktivisme merupakan satu teknik pembelajaran yang melibatkan
peserta didik untuk membina sendiri secara aktif pengetahuan dengan menggunakan
pengetahuan yang telah ada dalam diri mereka masing-masing. Peserta didik akan
mengaitkan materi pembelajaran baru dengan materi pembelajaran lama yang telah
ada.
Konstruktivisme adalah tidak lebih daripada satu
komitmen terhadap pandangan bahwa manusia membina pengetahuan sendiri. Ini
bermakna bahwa sesuatu pengetahuan yang dipunyai oleh seseorang individu adalah
hasil daripada aktivitas yang dilakukan oleh individu tersebut, dan bukan
sesuatu maklumat atau pengajaran yang diterima secara pasif daripada luar.
Pengetahuan tidak boleh dipindahkan daripada pemikiran seseorang individu
kepada pemikiran individu yang lain. Sebaliknya setiap insan membentuk
pengetahuan sendiri dengan menggunakan pengalamannya secara terpilih.
Keaktifan peserta didik menjadi syarat utama dalam
proses pembelajaran menurut teori konstruktivisme. Peranan guru hanya sebagai
fasilitator atau pencipta kondisi belajar yang memungkinkan peserta didik
secara aktif mencari sendiri informasi, mengasimilasi dan mengadaptasi sendiri
informasi, dan mengkonstruksinya menjadi pengetahuan yang baru berdasarkan
pengetahuan yang telah dimiliki masing-masing. Dengan kata lain, dalam
pembelajaran konstruktivisme peserta didik memegang peran kunci dalam mencapai
kesuksesan belajarnya, sedangkan guru hanya berperan sebagai fasilitator.
Terdapat kekhususan pandangan tentang belajar dalam
teori belajar konstruktivisme apabila dibandingkan dengan teori belajar
behaviorisme dan kognitivisme. Teori belajar behaviorisme lebih memperhatikan
tingkah laku yang teramati, dan teori belajar kognitivisme lebih memperhatikan
tingkah laku dalam memproses informasi atau pengetahuan yang sedang dipelajari
peserta didik tanpa mempertimbangkan pengetahuan atau informasi yang telah
dikuasai sebelumnya. Sedangkan teori belajar konstruktivisme berangkat dari
asumsi bahwa peserta didik memiliki kemampuan untuk membangun pengetahuan yang
baru berdasarkan pengetahuan yang telah dikuasai sebelumnya.
Pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya akan
menjadi modal yang berharga bagi peserta didik dalam mengkontruksi menjadi
pengetahuan yang baru. Rekonstruksi pengetahuan baru merupakan gabungan dari
pengetahuan sebelumnya dengan pengalaman yang dialami saat ini. Proses
rekonstruksi pengetahuan baru peserta didik dilakukan melalui proses
pembelajaran yang dilaksanakan baik itu bersama guru, teman, orang tua maupun
berasal dari proses belajar sendiri.
Pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari
pikiran guru ke peserta didik. Artinya, bahwa peserta didik harus aktif secara
mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang
dimilikinya. Dengan kata lain, peserta didik tidak diharapkan sebagai
botol-botol kecil yang siap diisi dengan berbagai ilmu pengetahuan sesuai
dengan kehendak guru. Keaktifan peserta didik dalam mengkonstruksi
pengetahuannya akan sangat membantu dalam proses pembelajaran sehingga peserta
didik akan mendapatkan pengetahuan baru yang dibutuhkannya.
Sehubungan dengan hal itu, Tasker mengemukakan tiga
penekanan dalam teori belajar konstruktivisme sebagai berikut :
1.
Peran aktif peserta didik dalam mengkonstruksi
pengetahuan secara bermakna
2.
Pentingnya membuat kaitan antara gagasan dalam
pengkonstruksian secara bermakna
3.
Mengaitkan antara gagasan dengan informasi baru yang
diterima.
No comments:
Post a Comment