Teori belajar kognitivisme memfokuskan perhatiannya kepada bagaimana dapat
mengembangkan fungsi kognitif individu agar mereka dapat belajar dengan
maksimal. Faktor kognitif bagi teori belajar kognitif merupakan faktor pertama
dan utama yang perlu dikembangkan oleh para guru dalam membelajarkan siswa,
karena kemampuan belajar siswa sangat dipengaruhi oleh sejauhmana fungsi
kognitif siswa dapat berkembang secara maksimal dan optimal melalui sentuhan
proses pendidikan.
Peranan guru menurut teori belajar kognitivisme ialah bagaimana dapat
mengembangkan potensi kognitif yang ada pada setiap siswa. Jika potensi kognitif
yang ada pada setiap siswa telah dapat berfungsi dan menjadi aktual oleh proses
pendidikan di sekolah, maka siswa akan mengetahui dan memahami serta menguasai
materi pelajaran yang dipelajari di sekolah melalui proses belajar mengajar di
kelas.
Oleh karena itu, para ahli teori belajar kognitivisme berkesimpulan bahwa
salah satu faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran di
kelas ialah faktor kognitif yang dimiliki oleh siswa. Faktor kognitif merupakan
jendela bagi masuknya berbagai pengetahuan yang diperoleh siswa melalui
kegiatan belajar mandiri maupun kegiatan belajar secara kelompok.
Pengetahuan tentang kognitif siswa perlu dikaji secara mendalam oleh para
calon guru dan para guru demi untuk menyukseskan proses pembelajaran di kelas.
Tanpa pengetahuan tentang kognitif siswa, guru akan mengalami kesulitan dalam memberikan
pembelajaran kepada siswa di kelas yang pada akhirnya mempengaruhi rendahnya
kualitas proses pendidikan yang dilakukan oleh guru di kelas melalui proses
belajar mengajar antara guru dengan siswa.
Pengkajian potensi kognitif siswa oleh guru merupakan faktor yang menjadi
pendukung terhadap tercapainya tujuan pembelajaran di sekolah dasar. Dengan
guru mengetahui potensi kognitif setiap siswanya, maka guru dapat membuat
rencana pembelajaran, metode pembelajaran serta evaluasi pembelajaran yang
sesuai dengan potensi kognitif siswanya.
Guru memiliki peranan dan kedudukan kunci di dalam
keseluruhan proses pendidikan terutama dalam pendidikan di sekolah. Peranan
sedemikan itu akan makin tampak, kalau dikaitkan dengan kebijaksanaan program
pembangunan dalam bidang pendidikan dewasa ini yaitu berkenaan dengan
peningkatan mutu dan relevansi pendidikan. Dalam rangka memfasiltasi
terwujudnya kebijakan tersebut guru dituntut untuk menampilkan peranan baik
sebagai pengajar maupun pembimbing secara terpadu dalam proses pembelajaran
yang sesuai dengan kompetensi yang dituntutnya. Peran guru tersebut, seyogyanya
tereflesikan dalam kinerja (perilaku yang ditampilkannya) dari mulai
perencanaan (perumusan pembelajaran), pelaksanaan, sampai evaluasi dan tindak
lanjutnya.
Peranan bimbingan oleh guru melalui proses pembelajaran khususnya pada
tingkat sekolah dasar seyogyanya dapat terealisasikan secara terpadu dengan
pembelajaran, karena siswa perlu menghayati secara wajar manfaat bimbingan
melalui proses belajar mengajar. Perilaku guru dalam berinteraksi dengan siswa
akan menjadi contoh dan panutan bagi siswa untuk diterapkan dalam perilakunya
di kemudian hari.
Namun, di sisi lain guru dalam melaksanakan peranan bimbingannya
seringkali masih menjadi kendala baik dilaksanakan secara khusus maupun melalui
proses belajar mengajar, karena dalam melaksanakan tugas rutin sehari-hari
saja, dirasakan para guru sudah cukup padat. Seorang guru disamping menghadapi
siswa yang jumlah tidak kurang 50 orang pada setiap kelasnya, ia juga harus
mempersiapkan materi pelajaran secara baik, dan sesudahnya guru harus melakukan
tugas seperti memeriksa dan menilai tugas harian atau ulangan, ditambah lagi
tugas guru di sekolah dasar merangkap untuk membuat dan melaporkan
pengadministrasian kelas. Dengan demikian pada akhirnya tidak menutup
kemungkinan tugas bimbingan dianggap sebagai tugas tambahan saja.
No comments:
Post a Comment