Salah satu bentuk satuan pendidikan dasar adalah
Sekolah Dasar (SD) yang menyelenggarakan program pendidikan selama enam tahun.
Keberadaannya adalah sangat urgen bagi kepentingan pengembangan sumber daya
manusia, sebab mulai pendidikan di sekolah dasar seseorang dikembangkan untuk
menguasai berbagai kemampuan dasar sebagai bekal dirinya bagi pendidikan
selanjutnya. Pendidikan di sekolah dasar selain proses sosialisasi, juga
mentransfer pengetahuan dasar dari
setiap bidang ilmu atau mensosialisasikan kebudayaan kepada warga masyarakat.
Pendidikan dasar pada hakekatnya menyiapkan anak bagi
peralihan dari hubungan-hubungan keluarga yang tertutup, kemudian menyebar ke
hubungan-hubungan masyarakat yang luas dan beraneka ragam.
Tujuan dari proses pendidikan di sekolah dasar adalah
agar para Peserta didik mampu memahami potensi diri, peluang dan tuntutan
lingkungan serta merencanakan masa depan melalui pengambilan serangkaian
keputusan yang paling mungkin bagi dirinya. Seperi tertuang dalam kurikulum
nasional bahwa tujuan akhir pendidikan dasar adalah diperolehnya pengembangan
pribadi anak didik yang membangun dirinya dan ikut serta bertanggung jawab
terhadap pembangunan bangsa, mampu melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih
tinggi, mampu hidup di masyarakat dan mengembangkan diri sesuai dengan bakat,
minat, kemampuan, dan lingkungannya.
Pembelajaran di sekolah dasar menyampaikan berbagai
konsep dasar keilmuan dan pengetahuan dalam upaya mencapai tujuan tersebut.
Tujuan pendidikan akan tercapai apabila proses pembelajaran yang dilakukan di
sekolah sesuai dengan kondisi aktual Peserta didik dan pelaku pendidikan
lainnya.
Penerapan teori konstruktivisme dapat dilakukan di
sekolah dasar sebagai salah satu proses pembelajaran bagi peserta didik. Proses
pembelajaran dengan menerapkan teori konstruktivisme lebih memfokuskan pada
kesuksesan peserta didik dalam mengorganisasikan pengalaman mereka. Bukan
kepatuhan peserta didik dalam refleksi atas apa yang telah diperintahkan dan
dilakukan oleh guru. Dengan kata lain, peserta didik lebih didorong untuk
merekonstruksi sendiri pengetahuan mereka melalui kegiatan asimilasi dan
akomodasi.
Penerapan pembelajaran menurut teori konstruktivisme
dijelaskan Postman & Weingartner (1969) seperti berikut ini :
“Di kelas, coba tidak memberitahu peserta didik
sesuatu jawaban…jangan sediakan rencana pembelajaran. Singkatnya, peserta didik
diberi tantangan berupa permasalahan yang mungkin menarik minat mereka.
Kemudian, suruuh mereka memecahkan sendiri masalah tersebut tanpa dibimbing.
Upayakan agar pertanyaan secara konsisten anda tunjukkan pada peserta didik
tertentu berdasarkan hasil tes yang diperoleh mereka. Apabila peserta didik
menanyakan sesuatu, jawablah bahwa anda tidak tahu jawabannya, walaupun
sebenarnya anda tahu jawabannya. Jangan pedulikan walaupun situasi diam di
antara peserta didik berlangsung lama. Situasi diam tersebut mungkin
mengindikasikan bahwa peserta didik sedang berpikir.”
Keterlibatan peserta didik secara aktif dalam proses
pengaitan sejumlah gagasan dan pengkonstruksian ilmu pengetahuan melalui
lingkungannya sangat penting. Bahkan secara spesifik Hudoyo (1990) mengatakan
bahwa seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari
oleh apa yang telah diketahui orang lain. Oleh karena itu, untuk mempelajari
suatu materi pelajaran yang baru, pengalaman belajar yang lalu dari orang lain
baik itu dari guru, orang tua atau teman akan mempengaruhi terjadinya proses
belajar tersebut. Proses pembelajaran yang dilakukan peserta didik saat ini
akan dipengaruhi berdasarkan pengalaman sebelumnya.
No comments:
Post a Comment